Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Berita Radio – 29 September…
  2. Menjemaatkan Dokumen Keesaan…
  3. Lansia Harus Tetap Sehat dan…
  4. Tim MS XXII GPIB Periksa…
  5. Semarak HUT ke-78 GPIB dan…
  6. 75 Pendonor Berbagi Kehidupan bagi…
  7. Menembus Batas Pelayanan,…
  8. Baksos Yankes GPIB Layani Lebih…
  9. 4 Catatan dari Konas PKB…
  10. KONAS XIX FK PKB PGI…
Departemen GPIB

Menjemaatkan Dokumen Keesaan Gereja dalam Kehidupan Spiritualitas Praksis Jemaat

Menjemaatkan Dokumen Keesaan Gereja dalam Kehidupan Spiritualitas Praksis Jemaat

GPIB, Jakarta –  Diskusi lewat webinar soal sosialisasi Dokumen Keesaan Gereja (DKG) yang diselenggarakan oleh Mupel Banten bersama Departemen Germasa MS GPIB yang dilakukan Sabtu (26/9) cukup menarik khusus bicara soal keanggotaan PGI yang membawahi sinode-sinode yang ada di Indonesia.

Ketua II Majelis Sinode XXII GPIB mengatakan dalam sambutannya pentingnya untuk memberikan dan pengayaan akan pemahaman DKG bagi warga GPIB dalam diskusi ini sehingga bisa dipraktikan dalam kehidupan berjemaat.

“Kegiatan ini menjadi sebuah kegiatan untuk memberi dan memperkaya pemahaman bagi jemaat GPIB. Dan kita sebagai anggota PGI juga patut terus menyebarkan pemahaman ygbenar akan DKG. Apa peran kita di dalamnya. Diskusi ini tak hanya memperkaya tapi menjadi langkah terus menerus bagi Dep Germasa me jawab tantangan khususnya persoalan2 yg terjadi saat ini. Terima kasih utk Mupel Banten dan tim kerja serta PGI yang bersedia mengadakan dan menjadi narabina. Mari terus belajar sehingga sebagai warga GPIB kita berdampak,” kata Pdt.Semuel.

Narasumber Pdt.Darwin Darmawan yang adalah Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan bahwa panggilan oikumenis kendaraan institusinya adalah PGI. PGI bertujuan mewujudkan apa yang menjadi harapan dan doa Tuhan Yesus, yakni menjadi satu.

“Gereja-gereja di seluruh dunia, termasuk gereja-gereja di Indonesia, mengakui bahwa Yesus itu Tuhan dan juruselamatnya. Tetapi dari satu Tuhan, satu baptisan dalam nama Bapak Putra dan Roh Kudus itu, gereja-gereja begitu beragam. Bagaimana secara empiris gereja-gereja begitu banyak warna, aliran, ajaran, denominasi, dan lain-lainnya. Memang kalau dilihat secara positif, ini kepelbagaian. Tetapi kalau kita sadar betul, kepelbagaian ini sebetulnya adalah ekses dari perpecahan gereja. Bukan karena gereja ingin melayani sesuai konteksnya semata-mata. Ini sebagian dari pohon kepelbagaian gereja yang menggambarkan Yesus Kristus sudah tahu di sini titik lemah gereja, sehingga dia berdoa agar gereja menjadi satu,” kata Pdt.Darwin.

Ia menambahkan realitas kemajemukan gereja di Indonesia dengan sekian banyak denominasi gereja yang sudah ada yang hingga sekarang gereja-gereja semakin beragam karena perpecahan.

“Saya sekitar 2 tahun menjadi sekretaris umum PGI, dan ada sekitar 6 gereja baru yang mau mendaftar menjadi anggota PGI, padahal menurut Bilangan Research Institute, sebetulnya pertambahan umat Kristen relatif tidak terjadi. Yang terjadi adalah perpindahan anggota gereja dari satu gereja ke gereja yang lain. (4:36) Jadi bertambahnya 5 atau 6 calon anggota PGI, yang tentu saja belum tentu kita setujui, itu tidak lebih dari gambaran betapa gereja-gereja semakin terfragmentasi, semakin terpecah-pecah, tubuh Kristus itu semakin beragam,” ujarnya.

Untuk itu, PGI yang didalamnya GPIB ada, kata Pdt.Darwin, layak disebut sebagai satu-satunya institusi oikumenis yang mampu menjadi rumah besar gereja-gereja dari berbagai denominasi. Yang dibandingkan dengan PGLII, irisannya jelas.

“Mereka-mereka yang secara ajaran cenderung injili, bergabung dalam PGLII. Gereja-gereja pentakosta bergabung dalam PGPI.Tetapi PGI, satu-satunya rumah besar gereja di Indonesia yang anggotanya itu betul-betul diverse secara teologi. Ada Luteran, ada Methodis, ada Mennonite, ada Injili, ada Pentakostal, ada Presbyterian, begitu diverse. Tapi yang menarik, dari lima atau enam sinode gereja anggota yang tadi saya sebut akan bergabung ke PGI, salah satunya sekarang adalah GPDI. GPDI, gereja pentakostal terbesar di Indonesia, sudah menyampaikan surat permohonan untuk diterima menjadi sinode anggota PGI yang baru. Ini menggambarkan PGI betul-betul secara institusi menjadi rumah besar dari gereja-gereja di Indonesia,” tandasnya.

Selain menjelaskan soal aliran gereja-gereja yang ada Sekum PGI juga menjelaskan soal keesaan gereja. Di mana tahun 1984 di Ambon, diputuskan keesaan gereja yang lebih berfokus atau menitik beratkan pada persekutuan alih-alih kesatuan yang sifatnya institusional.

“Kata persekutuan gereja-gereja di Indonesia, perubahan dari DGI, ini menggambarkan keesaan yang sifatnya lebih spiritual atau rohani. tapi kalau dewan institusi, kalau persekutuan lebih terkesan keesaan yang sifatnya rohani. Dan itu ditetapkan pada tahun 1984 dalam sidang raya ke-10 di Ambon. Dan sejak saat itu, kita punya dokumen keesaan gereja yang terus berproses, dilakukan upaya amandemen dalam rangka lebih relevan dan kontekstual, dan ini yang akan kita bicarakan selanjutnya, (9:39) khususnya DKG 2024-2029,” terangnya.

Sementara narasumber kedua, Pdt.Manuel Raintung menjelaskan soal implementasi dengan topik penjemaatan DKG dalam jemaat diterapkan bahwa lembaga-lembaga yang ada di daerah adalah rekomendasi gereja untuk bisa diikuti dan aktif dan GPIb sudah mengimplementasikan dalam gerekan keesaan.

“Kita bisa kembangkan kehadiran GPIB dengan gereja-gereja lain dan bahwa PGI itu tidak hanya di Salemba 10 tapi juga ada di wilayah-wilayah lain. Misalkan, seharusnya GPIB harus mencantumkan anggota PGI di tiap-tiap jemaatnya, tapi saya belum melihat semua GPIB mencantumkan anggota PGI. Nah soal pokok-pokok bersama ada beberapa point yang saya tekankan, yakni GPIB harus berjejaring di nasional dan lokal/wilayah. Karena ber-PGI itu jangan menunggu tapi aktif atau menjangkau. Kedua GPIB perlu membangun kesadaran politik warga gereja, juga GPIB membangun literasi dan kecakapan digital, dan GPIB harus memperkuat basis keluarga dan pendidikan dan saya kira GPIB sudah terlibat hal ini. Lalu GPIB membangun kesadaran ekologis hijau dan biru. Dan yang penting GPIB membangun sipiritual ugahari dan kemandirian ekonomi. Ini sangat penting, perlu terus didorong untuk ugahari, jangan konsumsi terus,” ungkap Pdt.Raintung.

Di bagian akhir, Pdt.Raintung yang pernah menjabat Ketua PGI Wilayah DKI menyatakan bahwa DKG seharusnya menjadi bagian penting dalam pengajaran gereja-gereja di Indonesia bagi jemaat dan itu harus diimplementasikan secara nyata.

“Bentuknya, seperti memasukkan unsur DKG pada pelajaran Katekisasi, Kurikulum Anak dan Remaja-Pemuda, terutama PBIK, PPTB, dan KKG. Juga memberikan porsi yang cukup terhadap pemahaman mengenai DKG, khususnya PBIK, PPTB, KKG, pada tema-tema ibadah dan kurikulum pembinaan jemaat. Lalu juga membangun kebanggaan dalam kehidupan berjemaat bahwa Gereja-Gereja di Indonesia telah memiliki rumusan dokumen penting terkait pembangunan kehidupan bergereja dan berjemaat,” tandasnya.

Di bagian akhir Pdt.Semuel Karinda yang mendampingi webinar tersebut ikut memberi penekanan bahwa ada banyak persoalan aktual yang terjadi berkaitan dengan apa yang dihadapi gereja saat ini dan bisa ditindaklanjuti.

“Dari banyaknya respons dan juga penjelasan yang disampaikan oeh Pdt.Darwin dari masalah-masalah aktual sehingga perlu dibicarakan terus menerus, baik soal kebhinekaan dan toleransi dan soal liannya dengan membuat banyak diskusi-diskusi sehingga makin banyak pemahaman yang diketahui di jemaat yang pada akhirnya membantu PGI juga dan GPIB juga untuk hal-hal ke depan sambil terus bersinergi dengan PGI,” terangnya.(lip)

Bagikan