Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Dari Batu Pertama Menuju Kemandirian…
  2. GPIB Mupel Banten Gelar Diklat…
  3. Pesan HUT GPIB ke 78…
  4. Menteri Fadli Zon Dukung Kerjasama…
  5. Berita Radio – Senin, 2…
  6. Harapan ke Vikaris yang Ditahbiskan:…
  7. Refleksi dan Doa Lintas Iman:…
  8. Tokoh Lintas Agama Serta Masyarakat…
  9. Belajar Teknologi Digital…
  10. Mari Bersama Menghadirkan Kasih dan…
  11. Night Call GPIB | Senin…
  12. Pesan MS GPIB dalam Rangka…
Crisis Center

GPIB Mupel Banten Gelar Diklat Fasilitator Gereja Tangguh Bencana

GPIB Mupel Banten Gelar Diklat Fasilitator Gereja Tangguh Bencana

GPIB, Banten – BErbagai risiko bencana bisa saj aterjadi di manapin, termasuk di wilayah Banteng. Untuk menjawab dan sekaligus menjaga kesiapsiagaan kerentanan geografis wilayah Banten, baik risiko bencana alam maupun nonalam, Musyawarah Pelayanan (MUPEL) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Banten melalui Crisis Center – Unit Penanggulangan Bencana (CC-UPB) mengadakan meresmikan Pendidikan Kilat (diklat) Fasilitator Gereja Tangguh Bencana (GTB) 2026.

Kegiatan tersebut berlangsung mulai 30 Oktober hingga 1 November 2026 di kompleks GPIB Jemaat Abraham Serang (Markas Kopassus Grup 1).

Kegiatan diawali dengan ibadah pembukaan oleh Pdt. Estethiana Eleisiani Saselah-Raprap, S.Th.(Ketua Majelis Jemaat GPIB Jemaat Abraham, dan ditutup secara resmi melalui ibadah penutup yang dipimpin oleh Pdt. Rudiyanto, S.Th. (Ketua 2 BP Mupel GPIB Banten ).

Kegiatan itu juga bertepatan dengan momen Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang diikuti secara intensif oleh 20 peserta dari 14 jemaat di Mupel Banten, yang pesertanya dari unsur majelis serta calon pengurus Crisis Center tingkat jemaat.

Menurut panitia, kegiatan tersebut bertujuan membekali calon fasilitator tingkat jemaat dengan pemahaman komprehensif mengenai manajemen kebencanaan, membangun jejaring relawan kebencanaan, serta mempersiapkan kader masa depan yang siap berkontribusi secara aktif dalam enam bidang pelayanan jemaat, dengan penekanan khusus pada penguatan aksi nyata pengurangan risiko bencana.

“Gereja setiap pekannya menampung ratusan hingga ribuan jiwa. Keselamatan umat dan masyarakat sekitar adalah wujud nyata iman dan pelayanan kita. Melalui diklat ini, kami melatih para fasilitator agar setiap gereja memiliki Tim CC-UPB yang mandiri, sigap, dan terlatih dalam menghadapi kondisi darurat,” kata Jeffry Eliezer Lewerissa, Ketua Pelaksana Diklat GTB.

Ia menambahkan, pelatihan terpadu berbasis asrama dan barak ini dilaksanakan secara kolaboratif lintas instansi, yakni Mupel GPIB Banten menggandeng instruktur ahli dari BPBD Provinsi Banten, PMI Kota Tangerang, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Tangerang, serta CC-UPB Sinode GPIB.

Sejumlah materi pelatihan taktis yang diberikan, yakni: 1. Teologi & Audit Gedung: Pemahaman dasar manajemen bencana dan instrumen audit kelayakan fisik serta jalur evakuasi gedung gereja, 2. Pertolongan Pertama (P3K): Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support) & penanganan krisis kesehatan darurat oleh PMI, 3. Pemadaman Api (APAR): Simulasi dan praktik pemadaman api dasar menggunakan APAR & fire blanket bersama tim BPBD/Damkar, 4. Pelatihan Dasar Water Rescue di Danau KP3B: Pelatihan teknik evakuasi dan keselamatan air di Danau KP3B.

Sementara menurut Ketua 1 BP Mupel GPIB Banten, Pdt. Lenastine Titihalawa Littik, S.Th., output utama kegiatan ini adalah terbentuknya kelembagaan Tim CC-UPB secara resmi di 14 jemaat serta terbangunnya jejaring relawan lintas jemaat yang solid.

“Sinergi ini menjadikan gereja tidak hanya tangguh secara internal, tetapi juga siap menjadi simpul bantuan kemanusiaan bagi masyarakat sekitarnya.” (lip)

Bagikan