Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Dari Batu Pertama Menuju Kemandirian…
  2. GPIB Mupel Banten Gelar Diklat…
  3. Pesan HUT GPIB ke 78…
  4. Menteri Fadli Zon Dukung Kerjasama…
  5. Berita Radio – Senin, 2…
  6. Harapan ke Vikaris yang Ditahbiskan:…
  7. Refleksi dan Doa Lintas Iman:…
  8. Tokoh Lintas Agama Serta Masyarakat…
  9. Belajar Teknologi Digital…
  10. Mari Bersama Menghadirkan Kasih dan…
  11. Night Call GPIB | Senin…
  12. Pesan MS GPIB dalam Rangka…
Diakonia

Menembus Batas Pelayanan, Mengantar Sang Pendeta ke Peristirahatan Terakhir

Toraja Utara, 5 September 2026 — Ada perjalanan pelayanan yang tidak sekadar diukur dari jarak tempuh. Ada perjalanan […]

Menembus Batas Pelayanan, Mengantar Sang Pendeta ke Peristirahatan Terakhir

Toraja Utara, 5 September 2026 — Ada perjalanan pelayanan yang tidak sekadar diukur dari jarak tempuh. Ada perjalanan yang menjadi sebuah penghormatan, sebuah perjumpaan, sekaligus ungkapan kasih gereja kepada seorang pelayan Tuhan yang telah menutup perjalanan hidupnya.

Perjalanan itu dilakukan Ketua Umum Majelis Sinode XXII GPIB, Pdt. Nitis Putrasana Harsono, menuju Toraja Utara pada 4 September 2026. Tepatnya ke Sese’an, Desa Toyasa’riu, Rantepao—wilayah yang berada jauh di batas pelayanan GPIB pada umumnya.

Bukan tanpa alasan perjalanan panjang itu ditempuh. Pdt. Nitis hadir untuk memimpin Ibadah Penglepasan almarhum Pdt. Em. Yusuf Samin Sampe Ruru, seorang Pendeta Emeritus GPIB yang memilih menghabiskan masa hidupnya di tanah kelahirannya, Toraja.

Perjalanan Panjang dalam Sebuah Panggilan Pelayanan

Perjalanan dimulai dari Jakarta sejak pukul 06.00 WIB. Dari Bandara Soekarno-Hatta, Pdt. Nitis terbang menuju Bandara Internasional Hasanuddin, Maros, Makassar.

Sesampainya di Makassar, rombongan disambut dan diakomodasi oleh BP Mupel GPIB Sulselbara. Kehangatan penyambutan hadir melalui Pdt. Charles Manuputty, Pdt. Christine Djama-Kaunang, Pdt. Salmon Bawole, Pdt. Otniel Kurniawan, Pnt. Charles Mandalika, serta Ibu Pnt. Debora Pattipeiluhu.

Setelah pertemuan dan makan siang bersama, perjalanan belum berakhir. Bersama Pnt. Charles Mandalika, Pdt. Nitis melanjutkan perjalanan darat menuju Parepare.

Di kota itu telah menunggu rombongan GPIB Jemaat Immanuel Parepare bersama KMJ, Pdt. Gerarld Tampi.

GPIB Immanuel Parepare memiliki arti tersendiri dalam perjalanan ini. Jemaat tersebut merupakan jemaat GPIB yang terdekat dengan Toraja, sekaligus menjadi salah satu titik batas akhir wilayah pelayanan GPIB sebelum memasuki Toraja.

Dari Makassar menuju Parepare, perjalanan ditempuh sekitar empat jam. Namun, perjalanan dari Parepare menuju Toraja Utara masih membutuhkan waktu sekitar tujuh jam.

Panjang dan melelahkan. Namun, ada sebuah panggilan pelayanan yang membuat perjalanan itu terus dilanjutkan.

Rombongan akhirnya tiba di penginapan Mentirotiku sekitar pukul 01.00 WIB. Waktu untuk beristirahat hanya beberapa jam sebelum pelayanan dimulai pada pagi berikutnya.

Di Rumah Tongkonan, Sebuah Penghormatan Terakhir

Pagi 5 September 2026, perjalanan kembali dilanjutkan.

Dari penginapan, rombongan menuju Desa Toyasa’riu yang berjarak sekitar sepuluh menit. Di tempat inilah Ibadah Penglepasan almarhum Pdt. Em. Yusuf Samin Sampe Ruru dilaksanakan.

Setibanya di lokasi, Pdt. Nitis diterima dengan hangat oleh keluarga almarhum dan para pendeta dari Gereja Toraja yang melayani.

Di tengah suasana duka, Pdt. Nitis kemudian menghampiri peti jenazah almarhum yang ditempatkan di salah satu rumah Tongkonan.

Sebuah perjumpaan terakhir.

Tidak ada lagi percakapan, tidak ada lagi sapaan seperti ketika seseorang masih menjalani kehidupan. Yang tersisa adalah keheningan, doa, dan penghormatan kepada seorang pelayan Tuhan yang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Pdt. Nitis kemudian menuju rumah Tongkonan lainnya untuk berganti pakaian dan mengenakan toga, sebelum memimpin Ibadah Penglepasan.

Ibadah berlangsung dalam suasana penuh penghormatan. Keluarga, jemaat, serta masyarakat yang hadir bersama-sama mengiringi perjalanan terakhir almarhum.

selengkapnya dalam tayangan di GPIB Indonesia ini: https://youtube.com/live/CgIE5t0iVoc

Ketika Iman Bertemu Tradisi

Seusai Ibadah Penglepasan, suasana kemudian berlanjut dengan jamuan makan siang bersama.

Namun, ada pula rangkaian adat yang turut mewarnai proses penghormatan terhadap almarhum. Para hadirin menyaksikan salah satu proses adat berupa lelang.

Perjumpaan antara pelayanan gereja dan tradisi setempat menjadi bagian dari perjalanan penglepasan tersebut.

Setelah seluruh proses selesai, peti jenazah diturunkan dari rumah Tongkonan. Peti kemudian ditutup secara permanen dan dibawa menuju lokasi pemakaman yang berjarak sekitar tiga kilometer dari desa.

Ibadah pemakaman dipimpin oleh Pdt. Gerarld Tampi. (Selengkapnya ikuti tayangan berikut : https://youtu.be/RTsRHSEjNaI)

Setelah seluruh rangkaian pelayanan selesai, Pdt. Nitis bersama rombongan GPIB Immanuel Parepare kembali melakukan perjalanan darat menuju Parepare.

Pelayanan yang Tidak Berhenti di Toraja

Perjalanan itu belum benar-benar selesai.

Pada Minggu, 6 September 2026, Pdt. Nitis masih menyempatkan diri untuk memimpin Ibadah Minggu di GPIB Jemaat Immanuel Parepare. (https://youtube.com/live/F2pNX6RjvJw)

Dari Parepare, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Makassar untuk kembali ke Jakarta.

Namun, perjalanan pulang menghadirkan cerita tersendiri. Rencana kembali ke ibu kota harus tertunda karena Bandara Soekarno-Hatta ditutup sebagai dampak erupsi Anak Gunung Krakatau.

Perjalanan ke Toraja akhirnya bukan sekadar perjalanan seorang Ketua Umum Majelis Sinode menuju sebuah tempat pelayanan.

Ia menjadi gambaran bahwa pelayanan gereja dapat menembus jarak, batas wilayah, bahkan kelelahan perjalanan.

Dari Jakarta menuju Makassar, Parepare hingga Toraja Utara, perjalanan panjang itu berujung pada satu tujuan sederhana: menghantar seorang pelayan Tuhan pulang ke tanah kelahirannya, dengan doa dan penghormatan dari gereja yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Sebuah perjalanan jauh, yang pada akhirnya menjadi perjalanan kasih.