Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Menteri Fadli Zon Dukung Kerjasama…
  2. Berita Radio – Sabtu, 1…
  3. Harapan ke Vikaris yang Ditahbiskan:…
  4. Refleksi dan Doa Lintas Iman:…
  5. Tokoh Lintas Agama Serta Masyarakat…
  6. Belajar Teknologi Digital…
  7. Berbagi Kasih, Menghadirkan Harapan
  8. Rayakan Dies Natalis ke-28, STIKES…
  9. Wakapolda Sumsel Kunjungi…
  10. GPIB Keluarkan Sikap Resmi Soal…
  11. DOA dan Ucapan dari SAHABAT…
  12. SEMINAR MERAWAT CAGAR BUDAYA -…
Kegiatan

Menteri Fadli Zon Dukung Kerjasama dengan GPIB untuk Revitalisasi Gereja-gereja Berusia 100 tahun

Menteri Fadli Zon Dukung Kerjasama dengan GPIB untuk Revitalisasi Gereja-gereja Berusia 100 tahun

GPIB, Jakarta – Ukiran wajah tentara Portugis (yang mengenakan helm perang kuno) pada ujung bangku kayu panjang di Gereja Sion (Portugeesche Buitenkerk) di Jalan Pangeran Jayakarta, Pinangsia, Jakarta masih terpampang. Sumber-sumber yang dikumpulkan menyebutkan bahwa ukiran wajah itu memiliki makna simbolis yang mendalam, yakni bukan sekadar hiasan estetika arsitektur Barok, namun secara tradisional melambangkan penjagaan spiritual dan perlindungan terhadap rumah ibadah serta jemaat yang berada di dalamnya yang disebut Guardian of the Sanctuary atau Penjaga Area Kudus.

Ada semacam pemahaman dalam tradisi seni ukir dan arsitektur gereja Eropa abad pertengahan hingga abad ke-17, menempatkan figur prajurit, singa, atau malaikat penjaga pada furnitur gereja—seperti bangku jemaat (pews) atau pintu masuk—berfungsi sebagai simbol bahwa tempat tersebut adalah area suci yang dilindungi dari pengaruh jahat atau marabahaya luar.

Ukiran, bagian luar gedung, hingga mimbar dan orgel di dalam gedung gereja Sion yang dilihat satu-satu oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon saat hadir dalam acara seminar dengan tema: Merawat Gedung Gereja, Cagar Budaya, Merawat Persekutuan Orang Beriman, di GPIB Sion Jakarta, Jakarta, Jumat (30/10).

Menteri Fadli memberikan sambutan sekaligus respons terhadap pemintaan Ketua Umum Majelis Sinode XXII GPIB Pdt.Nitis Putrasana Harsono yang meminta pemerintah pusat memperhatikan kondisi gereja-gereja yang berusia 100 tahun ke atas yang dimiliki GPIB yang cukup banyak. Pemintaan itu juga disampaikan oleh Ketua Majelis Jemaat GPIB Sion Pdt.Engeline Rumajar. Mendampingi Ketua Umum, fungsionaris Majelis Sinode yang ikut hadir, antara lain Ketua I Pdt.Henry Tamaela, Ketua IV Pnt. Wicklief Luwy Leunufna, Ketua V Pnt. Maxi D. Hayer, Plt.Sekretaris Umum Pdt.Emmawati Rumampuk-Baule, Sekretaris I  Pnt.Ivan Lantu, Bendahara Pnt. Steven Tunas dan Bendahara I Pnt. Gabby Manalu-Sadoek, serta anggota BPPG juga para pendeta dan jemaat.

“Dengan senang hati kita akan mendukung revitalisasi maupun restorasi yang terkait kerusakan-kerusakan yang ada di sini. Saya kira itu merupakan tanggung jawab kita bersama,” kata Menteri Fadli Zon dan menjelaskan pula menyambut kerjasama untuk merivitalisasi gereja-gereja yang telah berusia lebih dari 100 tahun yang dimiliki GPIB sebagai cagar budaya.

Ia juga memberikan pujian kepada GPIB Sion sebagai bangunan cagar budaya yang tetap menjalankan fungsi keagamaan bagi jemaat hingga kini dan tahun ini berusia 331 tahun dan disebut sebagai living heritage sekaligus memberikan ucapan selamat bagi GPIB yang berulang tahun ke 78.

“Banyak cagar budaya saat ini berdiri hanya sebagai monumen, dikagumi dan dipelihara, tetapi tidak lagi menjalankan fungsi aslinya. Gereja Sion berbeda karena menjadi living heritage, warisan budaya yang tetap hidup dan digunakan masyarakat. Di dalam Gereja Sion, setiap minggu ruang ibadah ini masih dipenuhi doa, nyanyian, serta persekutuan jemaat. Tema merawat gedung gereja sebagai cagar budaya sekaligus merawat persekutuan orang beriman menjadi sangat relevan kini,” kata Menteri Fadli Zon di hadapan peserta yang hadir di gedung gereja itu.

Hal itu, kata dia, menunjukkan bahwa GPIB Sion tetap hidup dan keberlanjutan fungsinya sejalan dengan harapan UNESCO agar cagar budaya tidak sekadar menjadi monumen mati, melainkan warisan hidup. Karena, katanya, pelestarian gereja tidak hanya menyangkut kondisi bangunan, tetapi juga keberlanjutan komunitas yang menghidupkan ruang ibadah. Karena itu, jemaat dan masyarakat perlu terlibat aktif menjaga warisan budaya agar nilai sejarahnya tetap dikenal generasi mendatang.

Menbud Fadli berjanji, bahwa pihaknya akan berkoordinasi dalam waktu dekat untuk menyusun rencana revitalisasi agar pekerjaan dapat segera dimulai bersama. Proses perencanaannya ia harapkan berlangsung cepat sehingga penanganan bagian bangunan yang rusak tidak perlu memakan waktu lama.

Selain perbaikan fisik, pemerintah juga berkomitmen melakukan digitalisasi aset budaya, termasuk rumah ibadah dari berbagai agama di Indonesia. Program tersebut mencakup masjid, gereja, candi, vihara, serta tempat ibadah lain yang memiliki nilai sejarah dan warisan budaya.

“Ada bagian-bagian yang perlu diperbaiki, dibugar, jadi konservasi, nah itulah yang saya kira nanti bisa kita lakukan bersama-sama. Setiap penanganan memiliki prosedur dan harus dikaji terlebih dahulu sebelum tim menentukan metode konservasi yang sesuai,” katanya.

Menteri Fadli Zon ikut serta mendengarkan dua pemaparan dari narasumber seminar, yaitu Ir. Genoveva Nataliano yang menyampaikan beberapa gedung gereja yang telah direvitalisasi dan Pendeta Yusak Soelaiman, Ph.D. peneliti dari Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta yang menyampaikan ada ratusan gereja tua peninggalan Belanda yang ada di Indonesia yang keberadaannya penting untuk melihat sejarah sosial dalam berinteraksi dengan sekitarnya di zaman lampau.(lip)

Bagikan