Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Berita Radio – Minggu, 8…
  2. Meriahkan HUT ke-78 GPIB dan…
  3. HUT ke-78 GPIB dan 331…
  4. Prihatin Lihat Kondisi Gereja Sion,…
  5. Dari Batu Pertama Menuju Kemandirian…
  6. GPIB Mupel Banten Gelar Diklat…
  7. Pesan HUT GPIB ke 78…
  8. Menteri Fadli Zon Dukung Kerjasama…
  9. Harapan ke Vikaris yang Ditahbiskan:…
  10. Refleksi dan Doa Lintas Iman:…
  11. Night Call GPIB Sunday, November…
  12. Ibadah Syukur dan Perayaan HUT…
Inspirasi

HUT ke-78 GPIB dan 331 Tahun Gereja Sion, Pendeta Nitis: Gereja Hadir Bukan untuk Dirinya Sendiri, tetapi untuk Dunia

HUT ke-78 GPIB dan 331 Tahun Gereja Sion, Pendeta Nitis: Gereja Hadir Bukan untuk Dirinya Sendiri, tetapi untuk Dunia

GPIB, JAKARTA – Perjalanan 78 tahun Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) bukan sekadar catatan panjang sejarah organisasi gereja. Perjalanan itu menjadi refleksi iman tentang panggilan gereja untuk hadir, melayani, bersaksi, dan mengambil bagian dalam membangun kehidupan bangsa.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum Fungsionaris Majelis Sinode (FMS) GPIB, Pendeta Nitis Putrasana Harsono, pada Ibadah Syukur dan Perayaan HUT ke-78 GPIB serta 331 Tahun Gedung Gereja Sion, Jakarta Barat, Sabtu (7/11/2026).

Hadir pada kesempatan itu, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Dirjen Bimas Kristen Jeane Marie Tulung, jajaran Fungsionaris Majelis Sinode GPIB – Pendeta Henry Teddy Tamaela (Ketua I), Pendeta Semuel A. Zacharias Karinda (Ketua II), dan Pendeta Sarah Martha Yuliana Tahitu-Hengkesa (Ketua III).

Selanjutnya, Penatua Wicklief F. Luwy Leunufna (Ketua IV), Penatua Maxi Djelot Alierbitu Hayer (Ketua V), Pendeta Emmawati Yulia Rumampuk-Baule (Sekretaris I),  Penatua Ivan Gelium Lantu (Sekretaris II), Penatua Steven G. Tunas (Bendahara), dan Penatua Gabby Manalu Sadoek (Bendahara I).

Hadir pula para Pendeta dan Jemaat GPIB dari berbagai wilayah di Jabodetabek serta daerah lainnya.

Pendeta Nitis mengungkapkan bahwa GPIB yang kini hadir di 26 provinsi di Indonesia memiliki  anggota jemaat mencapai  628 ribu orang. GPIB, lanjutnya, lahir dari perjalanan sejarah tiga gereja yang disebutnya sebagai “Saudara Tua,” yakni Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), Gereja Protestan Maluku (GPM), dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT).

“Perjalanan 78 tahun GPIB, lahir dua tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan,” ungkap Pendeta Nitis.

Panggilan bagi Bangsa

Pendeta Nitis mengatakan, fakta bahwa GPIB lahir hanya dua tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 menjadi refleksi penting bagi seluruh warga gereja.

Ia  secara khusus mengajak seluruh jemaat untuk merenungkan makna kehadiran GPIB di Nusantara setelah bangsa Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan.

Gereja, lanjutnya, tidak pernah dipanggil untuk hanya mengurus kepentingan internal atau hadir bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, gereja memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat.

“Hakikat dari gereja adalah bukan hadir untuk dirinya, tetapi gereja hadir untuk dunia,” tegasnya.

Pendeta Nitis menjelaskan, apabila GPIB dihadirkan Tuhan dua tahun setelah kemerdekaan Indonesia, maka gereja juga memiliki panggilan untuk turut serta membangun kehidupan bangsa dan negara.

Panggilan ini diwujudkan melalui peran seluruh warga gereja dalam merawat persatuan, memperkuat keharmonisan, serta merajut kemajemukan dan keberagaman yang dianugerahkan Tuhan kepada Indonesia.

Ketua Umum Fungsionaris Majelis Sinode GPIB, Pendeta Nitis Putrasana Harsono bersama jajaran Fungsionaris Majelis Sinode menyambut kedatangan Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Dirjen Bimas Kristen Jeane Marie Tulung di Gereja Sion, Jakarta Barat, Sabtu (7/11/2026).

Merawat Kemajemukan Indonesia

Pendeta Nitis menegaskan bahwa warga GPIB merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat dan warga negara Indonesia.

Seluruh warga gereja harus terus mengambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat serta berkontribusi membangun bangsa sebagaimana cita-cita para pendiri dan bapak bangsa.

Ia mengingatkan bahwa keberadaan gereja di tengah masyarakat harus membawa manfaat, bukan menjadi komunitas yang terpisah dari realitas sosial.

GPIB, dengan persebaran pelayanan di 26 provinsi dan ratusan ribu jemaat, memiliki panggilan untuk ikut merawat keharmonisan di tengah perbedaan suku, agama, budaya, dan latar belakang masyarakat Indonesia.

Dalam refleksinya, Pendeta Nitis juga menyoroti perjalanan panjang Gedung Gereja Sion yang telah berusia 331 tahun.

Menurutnya, usia 331 tahun Gedung Gereja Sion dan 78 tahun perjalanan GPIB bukan semata-mata angka sejarah yang patut dibanggakan. Lebih dari itu, keduanya merupakan kesaksian tentang pekerjaan Tuhan dan campur tangan Allah yang terus berlangsung dalam kehidupan umat-Nya.

Ia menyebut, melalui kuasa Roh Kudus, Tuhan terus membimbing gereja agar mampu menjalankan peran dan panggilannya di tengah masyarakat.

Gedung Gereja Sion yang hingga kini tetap digunakan untuk beribadah menjadi saksi perjalanan panjang iman umat sekaligus tempat jemaat diperlengkapi untuk menjalankan tugas pelayanan di tengah kehidupan bangsa.

Pendeta Nitis mengingatkan bahwa panggilan gereja tidak berhenti pada aktivitas ibadah di dalam gedung gereja. Kehidupan bergereja harus menghadirkan keseimbangan antara kesalehan spiritual dan karya nyata bagi sesama.

Ia juga membedakan antara ibadah seremonial dan ibadah aktual. Ibadah tidak hanya diwujudkan melalui liturgi, doa, pujian, dan persekutuan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang membawa kebaikan bagi masyarakat.

“Inilah panggilan gereja, ada ibadah seremonial, tetapi ada juga ibadah aktual. Ada kesalehan spiritual, tetapi kesalehan juga harus diungkapkan dalam karya sosial,” ungkapnya.

Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh warga GPIB bahwa gereja dipanggil bukan hanya untuk merayakan perjalanan sejarahnya, melainkan juga menghadirkan kasih Tuhan melalui pelayanan, kepedulian sosial, dan kontribusi nyata bagi kehidupan bangsa.

Memasuki usia ke-78 tahun, GPIB diharapkan terus menjadi gereja yang terbuka, melayani, merawat keberagaman, serta hadir sebagai berkat bagi Indonesia. (novy)

Bagikan