Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Belajar Teknologi Digital…
  2. Berita Radio – Senin, 26…
  3. Berbagai Kasih, Menghadirkan Harapan
  4. Rayakan Dies Natalis ke-28, STIKES…
  5. Wakapolda Sumsel Kunjungi…
  6. GPIB Keluarkan Sikap Resmi Soal…
  7. Di Tengah Dinamika GPIB, Tuhan…
  8. GPIB Hadirkan Tiga Rumah Oksigen…
  9. Lansia Ceria, Lansia Bertemu Tiap…
  10. Menjemaatkan Dokumen Keesaan…
  11. Night Call GPIB | Senin…
  12. Lomba FASHION SHOW | BAZAR…
Pesan-Pesan

Masa Prapaskah, Pendeta Ebser: Rendahkan Hidup di Hadapan Allah

JAKARTA – Fungsionaris Majelis Sinode (FMS) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) mengajak seluruh warga jemaat dengan […]

Masa Prapaskah, Pendeta Ebser: Rendahkan Hidup di Hadapan Allah

JAKARTA – Fungsionaris Majelis Sinode (FMS) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) mengajak seluruh warga jemaat dengan hikmat dan penuh sukacita, memasuki  masa prapaskah,  suatu masa yang disebut dalam bahasa Latin, Quadragesima atau masa 40 hari.  

Prapaskah  yang berlangsung selama 40 hari, diawali Rabu Abu yang selanjutnya memuncak pada hari raya Paskah.

“Kami mengajak segenap warga GPIB, marilah di masa prapaskah ini kita wujudkan bersama dengan sikap kesadaran penuh sebagai manusia, bagai bejana yang rapuh serta disikapi kemauan untuk merendahkan hidup di hadapan Allah melalui ibadah atau sembah kita dalam ibadah hari Rabu Abu,” kata Sekretaris Umum (Sekum) Majelis Sinode GPIB, Pendeta Ebser Mago Lalenoh MTh, di Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Pendeta Ebser mengatakan, ibadah Rabu Abu bukanlah ibadah keluarga  biasa, yang rutin dilakukan pada setiap hari Rabu atau karena digabung lalu disebut sebagai ibadah keluarga gabungan.

“Bagi sekalian warga jemaat GPIB, mau ditegaskan bahwa ibadah hari Rabu Abu adalah persekutuan ibadah bagi semua warga jemaat atau warga gereja dari berbagai kategori, baik anak-anak hingga orang dewasa atau lanjut usia,” ujarnya.

Disebutkan, penorehan abu di dahi, mengingatkan umat Kristiani bahwa itu semua semata-mata adalah  hidup kita debu tanah yang bermakna kefanaan, lalu menorehkannya dengan tanda salib. Dan, itu juga mengingatkan umat Kristiani semua derita pengorbanan Yesus, yang sedia menjadi anak domba Allah demi menebus kefanaan manusia, memperoleh pengampunan dan keadilan dari Allah.

“Pemulihan hidup dari Allah supaya setiap orang atau kita semua makin meyakini jaminan dalam keselamatan kekal dari Allah dan hanya kita peroleh dari Allah. Selamat mengikuti hari Rabu Abu dengan sukacita,” kata Pendeta Ebser. (novy)