JAKARTA – Ketua II Majelis Sinode (MS) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Pendeta Drs Semuel A.Z Karinda MSi mengatakan, perayaan Imlek 2577 Kongzili pada 17 Februari 2026 adalah momen sangat istimewa. Pada saat ini, Imlek dirayakan dalam semangat kebangsaan.
“Tahun ini, Imlek menjadi sangat luar biasa. Imlek tidak hanya dirayakan masyarakat Tionghoa, tetapi juga umat Islam dan Kristen,” kata Pendeta Semuel di Jakarta, Selasa (17/2/2026).
Pendeta Semuel mengatakan, bertepatan dengan perayaan Imlek, umat Islam sedang mempersiapkan diri untuk memasuki bulan suci Ramadan. Di sisi lain, umat Kristen juga akan merayakan Rabu Abu yang adalah hari pertama masa Prapaskah dalam tradisi GPIB.
“Rabu Abu membuka masa Prapaskah, yaitu 40 hari persiapan menyambut Paskah, mengenang penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Rabu Abu mengajak kita untuk membersihkan hati dan memperbarui komitmen iman. Imlek juga mengajak kita sebagai umat untuk membuka lembaran baru,” jelas Pendeta Semuel.
Menurut Pendeta Semuel, Imlek yang menandai Musim Semi bukan hanya perayaan sukacita dan kebersamaan keluarga, tetapi juga momen merefleksikan hubungan manusia dan alam. Dalam tradisi Tionghoa, kehidupan dipandang selaras dengan tatanan semesta; di mana manusia, langit, dan bumi berada dalam satu kesatuan harmoni.
“Filosofi Tiongkok kuno menekankan keseimbangan antara manusia dan alam. Prinsip ini sejalan dengan semangat GPIB untuk menjaga dan merawat lingkungan. Kita menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan tanggung jawab, serta tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan. Selamat merayakan Tahun Baru Imlek, Gong Xi Fa Cai, Tuhan menolong kita semua,” kata Pendeta Semuel. (novy)

