JAKARTA – Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Pendeta Nitis Putrasana Harsono MTh mengajak seluruh warga jemaat GPIB, menjalani minggu prapaskah dengan belajar menyangkal diri dan tidak mementingkan diri sendiri.
Masa Prapaskah adalah masa 40 hari menjelang Paskah, yang dalam tradisi Kristen dimulai pada Rabu Abu.
“Kita menjaga sikap batin untuk tidak hidup foya-foya yang berlebihan,” kata Pendeta Nitis di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Pendeta Nitis secara khusus mengajak warga jemaat yang berlebihan secara materi untuk belajar hidup sederhana dengan berbelas kasih, membaharui relasi dalam keluarga maupun sahabat, dan siapa pun dengan memberi pengampunan yang tulus.
Setelah itu, lanjutnya, warga jemaat hidup secara bertanggung jawab sebagai ungkapan persembahan syukur, menyapa lingkungan sebagai saudara seraya menjadikannya lebih asri, sejuk, dan harmoni.
“Itu semua menjadi sikap konkret puasa atau dalam budaya spiritual Indonesia, biasa disebut tirakat. Tetapi tirakat yang dimaksud adalah menjalani hidup dengan memerankan ungkapan sujud bakti yang bersyafaat, yakni menjalani kesalehan hidup batin yang terungkap dari doa,” kata Pendeta Nitis.
Lebih lanjut Pendeta Nitis mengungkapkan, doa yang aktual adalah melakukan sesuatu yang membuat sesama ciptaan Allah merasa disentuh oleh rahmat-Nya.
“Kiranya ibadah Rabu Abu menjadi awal pembaruan, sikap syukur, dan makin menghayati perjuangan Kristus yang tidak berhenti mengasihi kita. Semoga kemuliaan Allah dinyatakan melalui gereja-Nya,” katanya. (novy)

