Berita Radio – Jumat, 9 Oktober 2026
RADIO GPIB REMA SEJATI📆 : Jumat, 9 Oktober 2026⏰ : 21.00 & 23.00 WIB👤 : Pnt.Rudolf Sahusilawane⛪ : GPIB Penabur, Surakarta RAGI…
Baca Berita
Berita Radio – Jumat, 9…
Di Tengah Dinamika GPIB, Tuhan…
GPIB Hadirkan Tiga Rumah Oksigen…
Lansia Ceria, Lansia Bertemu Tiap…
Menjemaatkan Dokumen Keesaan…
Lansia Harus Tetap Sehat dan…
Tim MS XXII GPIB Periksa…
Semarak HUT ke-78 GPIB dan…
75 Pendonor Berbagi Kehidupan bagi…
Menembus Batas Pelayanan,…
Night Call GPIB | Jumat…
Ibadah Syukur Agung HUT ke…
RADIO GPIB REMA SEJATI📆 : Jumat, 9 Oktober 2026⏰ : 21.00 & 23.00 WIB👤 : Pnt.Rudolf Sahusilawane⛪ : GPIB Penabur, Surakarta RAGI…
Baca Berita
Prodi S1 Administrasi Rumah Sakit STIKES Griya Husada Surabaya Raih Akreditasi UNGGUL dari LAM-PTKes GPIB, Surabaya – Di tengah berbagai dinamika dan…
Baca Berita
Rumah Oksigen GPIB Ebenhaezer Palangka Raya resmi dibuka untuk masyarakat umum pada Rabu, 30 September 2026. Peresmian dihadiri oleh perwakilan PGIW Kalimantan…
Baca Berita
GPIB, Jakarta – Hari ini, Kamis, 1 Oktober diperingati juga sebagai Hari Lanjut Usia Internasional atau International Day of Older Persons. Ini…
Baca Berita
GPIB, Jakarta – Diskusi lewat webinar soal sosialisasi Dokumen Keesaan Gereja (DKG) yang diselenggarakan oleh Mupel Banten bersama Departemen Germasa MS GPIB…
Baca Berita
GPIB, Jakarta – Memeriahkan Hari Ulang Tahun Pelayanan Kategorial Lanjut Usia (HUT PKLU) ke 16 Dewan PKLU mengadakan webinar dengan tema Menua,…
Baca Berita
GPIB, Malang – Menindaklanjuti rekomendasi Persidangan Sinode Tahunan (PST) GPIB Jakarta 2026, Majelis Sinode (MS) XXII GPIB melakukan pemeriksaan proses renovasi Griya…
Baca Berita
JAKARTA – Majelis Sinode GPIB bersama GPIB Jemaat Sion Jakarta akan menyelenggarakan rangkaian kegiatan Journey of Grace GPIB 2026 dalam rangka menyambut…
Baca Berita
GPIB, Tangerang Selatan – Donor darah yang diselenggarakan GPIB Jemaat Kinasih pada Sabtu (19/9) bertempat di Gedung Serbaguna GPIB Kinasih mendapat respons…
Baca Berita
Toraja Utara, 5 September 2026 — Ada perjalanan pelayanan yang tidak sekadar diukur dari jarak tempuh. Ada perjalanan […]
Baca BeritaVideo terbaru dari kanal YouTube GPIB Indonesia.
Buka di YouTubeVideo terbaru dari kanal YouTube GPIB TV Indonesia.
Buka di YouTube(Foto Koleksi Pribadi Pendeta Semuel Karinda)
(Foto Koleksi Pribadi Pendeta Semuel Karinda)
Pendeta Sem Karinda menceritakan perjalanannya menjadi pendeta dan pandangannya tentang pelayanan di tengah keberagaman di Indonesia.
Pada 11 Oktober 1967, di Minahasa, bendera berkibar setengah tiang. Seorang tokoh gereja, Pendeta Albertus Zacharias Roentoerambi Wenas berpulang, dan duka menyelimuti banyak rumah. Di sebuah rumah, keluarga justru memasang bendera satu tiang.
“Ditanya kenapa pasang satu tiang,” kenang Pendeta Semuel Karinda, kerap dipanggil Pendeta Sem. “Karena pengganti sudah lahir.”
Sejak lahir, hidup Pendeta Sem sudah menjadi nazar keluarga. Jalan hidupnya diarahkan menjadi pendeta.
“Kalau sudah dinazarkan jadi pendeta, tetap jadi pendeta,” ujarnya. “Memang sejak kecil sudah diamanahkan sekolah teologi.”
Ia sempat ingin kuliah di Tomohon, mengikuti jejak keluarga. Tapi kakaknya, yang kuliah teologi di Universitas Kristen Indonesia Tomohon, menyarankan ia merantau. Ia mendaftar ke Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, keputusan yang mengubah arah perjalanannya.
Tidak hanya belajar teologi, Pendeta Karinda melintasi batas gereja. Dari mahasiswa teologi utusan Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM), ia menjadi pelayan jemaat, lalu perlahan berlabuh di GPIB — gereja yang kemudian menjadi rumah pelayanannya.
“GMIM dan GPIB itu sesama saudara,” katanya.
Perjalanan pelayanan membawanya sampai ke Majelis Sinode. Ia sudah dikader untuk menjadi kandidat Majelis Sinode dengan fokus pada Germasa, karena perhatiannya pada isu Lingkungan Hidup.

(Foto koleksi pribadi Pendeta Semuel Karinda)
Pelayanan membawanya berpindah-pindah: Kalimantan Barat, Lampung, Padang, Semarang, Banten, Bali, Medan, Jawa Barat, juga di Amerika, negara di mana ia melayani sebagai utusan gereja pada Indonesian American Presbyterian Church.
Setiap tempat menguatkan pelayanannya dalam konteks keberagaman Indonesia. Di Bali, sebagai Ketua Mupel, ia membangun gereja yang hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu. Di Padang, sebagai ketua PGIW, ia berada di tengah kultur Minangkabau yang kuat dengan Islam.
Di GPIB Jatipon, Bekasi, Jawa Barat, ia banyak beraktivitas dengan jemaat untuk membangun masyarakat di sekitar gereja. Di GPIB Immanuel Medan, menjadi salah satu ketua PGI wilayah Sumatera Utara, ia membangun relasi gereja dan negara.
“Ketika ditempatkan di daerah-daerah tertentu, saya belajar bagaimana membangun hubungan gereja dengan masyarakat,” katanya.
Sejak kuliah, minatnya sudah jelas. Ia mengambil jurusan Sosiologi Agama pada program sarjana. Sementara pada jenjang S2, ia memilih jurusan Agama dan Masyarakat.
“Saya memang belajar bagaimana gereja hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di dalam tembok gereja.”
Pengalaman panjang itu membentuk visinya bahwa gereja tidak boleh berhenti di ruang ibadah. Visinya selaras dengan program Germasa yang mencakup empat bidang: sosial kemasyarakatan, interfaith, oikumene, dan lingkungan hidup. Berbagai bidang ini menurutnya menuntut ibadah yang aktual.
“Selama ini gereja seperti di kotak persegi panjang, di dalam ruangan, ritual,” katanya.
“Gereja dalam kaitan dengan Germasa itu bukan ritual lagi, ibadah aktual. Bagaimana kita yang sudah mendapatkan pemahaman iman, sudah kuat di gereja, bisa menjembatani ke kehidupan aktual.”
Ibadah aktual ini misalnya terwujud dalam partisipasi aktif di ranah lingkungan hidup. Pada saat terjadi banjir di Medan pada November 2026, GPIB tidak saja ikut membantu, tetapi bersama HKBP aktif bersuara mendukung penutupan perusahaan yang dinilai bertanggung jawab terhadap bencana itu.

(Foto Koleksi Pribadi Pendeta Semuel Karinda)
Di Pangkalan Susu, Sumatera Utara, GPIB menanam 10.000 mangrove.
“Kami membuat semacam gereja ramah lingkungan: penanaman pohon, pengurangan benda plastik di gereja, paperless,” kata Pendeta Semuel. “Kita ada 356 gereja, bayangkan sebelum COVID, berapa pohon harus ditebang untuk mendapatkan kertas membuat warta jemaat.”
Ia mencontohkan, di GPIB Jatipon, ada gerakan Persembahan Sampah, di mana Pelkat PKB mengumpulkan minyak jelantah.
“Setelah kumpul banyak, itu kami jual,” kata Pendeta Semuel. “Setelah dijual, jadi persembahan sampah.”
Pada bidang interfaith, Pendeta Semuel menjelaskan bagaimana cara pandang hidup bersama dalam keberagaman diwujudnyatakan di masyarakat. Gereja sendiri, menurutnya, adalah rumah keragaman yang hadir di berbagai provinsi di Indonesia.
“GPIB bukan gereja suku,” katanya. “Semua suku ada di sini.”
Ia memberi contoh sederhana: keluarga campuran. Istrinya, yang juga pendeta, adalah orang Ambon.
“Kalian misalnya, mama papa suku berbeda, sehingga kalian tidak bisa katakan ikut suku Papa saja. Keragaman yang ada di tengah GPIB memperkuat GPIB itu sendiri. Semua kita ini orang Indonesia, yang komunitasnya luar biasa beragam,” katanya.
Namun, sama dengan konteks lingkungan hidup, Pendeta Semuel menyuarakan bahwa menyadari keberagaman saja tidak cukup.
Karena itu, gereja harus hadir dalam setiap momen sosial: Ramadan, Imlek, bencana, konflik, atau keseharian.
“Contoh, sebentar lagi Umat Muslim puasa, di mana gereja hadir? Bagaimana kita jemaat GPIB menghormati mereka yang beragama Islam,” kata Pendeta Semuel.
Ia memberi contoh, di daerah Singkawang, Kalimantan, ada banyak masyarakat Cina di mana GPIB juga harus hadir di sana dan berdampak.
“Tahun Baru Cina, gereja (juga) harus hadir. Bagaimana gereja mengucapkan Gong Xi Fa Cai, walaupun cuma spanduk, tetapi paling tidak bersuara. Paling indah, gereja memberi suara, umat mempraktikkan.”
Dalam konteks interfaith, relasi bisa dibangun misalnya melalui diskusi dalam kunjungan ke pesantren dan wihara.
Pendeta Semuel lalu menjelaskan tentang trilogi kerukunan: kerukunan internal, kerukunan antarumat beragama dan kerukunan dengan pemerintah.Dalam visinya, pluralisme bukan konsep akademik.
“Tapi jangan hanya di level pimpinan,” tegasnya. “Kalau pimpinan cipika-cipiki tapi umat tidak merasakan, itu masalah.”
Menurutnya, teladan adalah kunci.
“Pimpinan harus punya hati sebagai hamba. Kalau pimpinan melayani, umat akan mengikuti.”
Pesannya ini sejalan dengan permintaan dari Abdurrahman Anwar, Kabag Kesra, dari Pemkot Jakarta Barat, yang mendorong GPIB untuk menjalankan trilogy kerukunan ini dalam upacara penutupan persidangan sinode tahunan 2026.
Baca: PST GPIB 2026 Resmi Ditutup
Di program kerja 2026-2027 ini, sinode menginisiasi program live in, di mana 60-100 pemuda dari seluruh GPIB akan hidup dengan masyarakat Dayak dari berbagai latar belakang agama selama seminggu. Mereka akan mengikuti aktivitas sehari-hari masyarakat di sana.
“Dampaknya akan luar biasa ketika pulang,” katanya. “Seratus orang ini paling tidak tahu bagaimana berdampingan dengan masyarakat di sekitarnya.”

(Foto koleksi pribadi Pdt. Semuel Karinda)
Cerita-ceritanya sering kembali ke lapangan, tentang banjir, lumpur, beras basah, dan air minum yang langka di tempat bencana. Ia bercerita tentang mengirim bantuan, kadang dengan uang pribadi. Tentang gereja yang membantu siapa saja — termasuk yang berbeda iman.
Di kunjungannya ke daerah bencana, salah satu warga menggugahnya.
“Pak, kami nda ada lagi makanan hari ini, besok kami mau makan apa?”
Di tempat bencana itu, warga mendapat tiga kiriman.
“Kalau kalian lihat nangis,” katanya. “Banjir yang datang pertama itu batu, setelah batu gelondongan kayu. Setelah gelondongan kayu, yang datang lumpur.”
Di sana, harta benda tertimbun. Makanan pun langka. Beras menghitam, harga telur meroket. GPIB hadir dengan membawa berbagai bantuan.
“Saya mau pelayanan yang begitu,” katanya. “Bukan hanya berkoar di mimbar, tapi menyentuh kehidupan. Bagi dunia saya mungkin bukan siapa-siapa. Tapi bagi orang yang saya bantu, saya adalah dunia dia.”
Hidup bermasyarakat yang saling membantu ini menurutnya memerlukan pendeta sebagai pemimpin yang bisa memberi keteladanan bagi jemaat.
“Pimpinan harus punya hati sebagai hamba, maka umat akan mengikuti,” katanya. “Bagaimana mau mengikuti, kalau pimpinan (seperti) bos besar. Kalau pimpinan mencontoh, pendeta melakukan, masa kami (jemaat) tidak melakukan.”
Salah satu kepedulian dari Fungsionaris Majelis Sinode 22 adalah menjadi hamba yang melayani, di mana jemaat dan pendeta bisa saling mengkritisi. Ia mendorong agar gereja meninggalkan sikap seperti bangsawan, dan lebih merakyat di Indonesia.
“GPIB ini lahir bukan karena inventaris Belanda, tetapi dari bumi Indonesia yang luar biasa. Kita lahir dari rahim Ibu Pertiwi, bukan di zaman penjajahan atau VOC,” katanya.
“Jadi kalau lahir dari Ibu Pertiwi, gereja harus bersyukur. Selama Indonesia ada, GPIB akan bantu kehidupan bermasyarakat di tengah-tengah bangsa ini.”

Kini, sebagai salah satu pimpinan sinode, visinya tetap sederhana: gereja yang nyata, hadir, dan membumi. Gereja yang menanam pohon, menyapa tetangga berbeda iman, turun ke lumpur bencana, dan bekerja sama, bukan sendiri.
“Kalau gereja jalan sendiri, suaranya kecil,” katanya. “Tapi kalau bersama, gaungnya besar.”
(CP)
Chat Pendengar 0
Halaman Radio