Skip to content
GPIB Indonesia

GPIB Indonesia

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Primary Menu
  • Tentang GPIB
    • Visi dan Misi
    • Pemahaman Iman
    • Majelis Sinode GPIB
    • Presbiterial Sinodal
    • PKUPPG
  • DIREKTORI
    • Departemen
    • Yayasan
      • YAPENDIK
      • YAYASAN DIAKONIA
      • YAYASAN KESEHATAN
  • Berita & Artikel
    • SINODE
    • Kegiatan
      • M I S I O N E R
      • D I A K O N I A
    • Kegiatan PELKAT
      • PELKAT PA
      • PELKAT PT
      • PELKAT GP
      • PELKAT PKP
      • PELKAT PKB
      • PELKAT LANSIA
    • P E R S P E K T I F
      • I N S P I R A S I
      • Sosok
  • Sabda Digital
  • Radio GPIB
  • Hubungi Kami
  • Home
  • Perspektif
  • Inspirasi
  • Pendeta Nancy Pimpin Ibadah Hari Minggu Perdana Pukul 17.00 WIB GPIB Siloam Jakarta Barat
  • Inspirasi
  • Kegiatan
  • Slide

Pendeta Nancy Pimpin Ibadah Hari Minggu Perdana Pukul 17.00 WIB GPIB Siloam Jakarta Barat

GPIB May 17, 2026 3 minutes read
Pendeta Nancy

GPIB, JAKARTA – Jemaat Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Siloam Jakarta Barat, menggelar ibadah minggu perdana pukul 17.00 WIB, pada Minggu (17/5/2026). Ibadah Hari Minggu pukul 17.00 WIB dipimpin Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Jemaat Siloam Jakarta Barat, Pendeta Nancy Nisahpih Rehatta. 

Pendeta Nancy mengungkapkan pemindahan jam ibadah dari pukul 07.00 WIB ke pukul 17.00 WIB telah melalui pertimbangan matang.

“Kami punya banyak pertimbangan, tetapi semua itu dilakukan agar nama Tuhan semakin dipuji dan dimuliakan di tengah jemaat ini,” kata dia.

Muliakan Rajamu

Sementara itu, Pendeta Nancy dalam khotbahnya berjudul “Muliakanlah Rajamu” yang terambil dari kitab Wahyu 11:15-19 menjabarkan secara rinci tentang kitab Wahyu,  yaitu kitab yang cukup jarang  diangkat dan diwartakan dalam ibadah GPIB. 

“Kitab Wahyu pasal satu adalah tentang siapa yang berbicara, yaitu Kristus yang Agung,” jelas dia. 

Dikatakan,  Pasal 1  menjelaskan tentang isi kitab Wahyu, di mana Yohanes bersaksi tentang firman Allah dan  kesaksian yang diberikan  oleh Yesus Kristus. Kitab Wahyu juga berbicara tentang Yohanes yang dibuang ke Pulau Patmos, sebuah daerah tandus.

Yohanes, lanjutnya, dibuang di Pulau Patmos disaat berusia lanjut. Hal itu terjadi karena Yesus, ketika berada di kayu salib, Ia berbicara kepada Yohanes  untuk menyerahkan ibunya, Maria agar dirawat Yohanes.

“Itu terakhir kalinya Yesus bersama ibunya secara pribadi. Sebab, setelah Ia mati, bangkit, Ia menyelesaikan tugasnya di dunia ini, Ia harus kembali pada posisi-Nya sehingga Ia menyerahkan ibunya kepada Yohanes untuk dirawat dan dijaga,” kata Pendeta Nancy.

Pendeta Nancy menjelaskan, situasi itu yang membuat Yohanes memulai pelayanannya agak terlambat.  Pasal 2 dan Pasal 3 adalah kepada siapa Yesus berbicara, yaitu gereja-Nya yang ada di bumi.

Ia mengatakan, tujuan dari  kitab Wahyu adalah jemaat kristen  yang tinggal di Asia Kecil. Dikatakan, jemaat ini  paling terdampak dari penjajahan Romawi saat itu.

“Mereka sulit beribadah, berkumpul, berkomunitas, memberitakan firman, dan bernyanyi sehingga mereka hanya bisa membuka dan menutup mulut tanpa mengeluarkan suara ketika memuji Tuhan. Hanya membaca gerakan mulut, itu yang terjadi,” kata dia.

Namun, jemaat kristen di Asia Kecil dikuatkan agar jangan takut pada pemerintahan Romawi karena Tuhan melihat apa yang mereka alami.

“Dan, Tuhan akan memberikan penghukuman sesuai dengan apa yang mereka perbuat. Itu menunjukkan siapa Allah yang besar,” ujarnya.

Pasal 4, lanjutnya, menjelaskan tentang  pusat otoritas Yesus, yaitu Takhta Allah di surga yang menjadi landasan sebelum gulungan kitab bermaterai dibuka, seperti diungkapkan pada Pasal 5.

Lebih lanjut, dijabarkan bahwa pada pasal-pasal selanjutnya ada tiga rangkaian hukuman berantai yaitu 7 materai; 7 sangkakalap; dan 7 cawan murka.

“Jangan membayangkan materai itu seperti yang ada sekarang, yang kemudia ditempel sebagai tanda sahnya sesuatu,” katanya.

Materai pada era Alkitab, jelas dia, adalah tanda  siapa yang menjadi pemilik.

“Pada saat kubur Yesus ditutup, materai yang dipakai adalah materai Romawi dan hanya kaisar yang bisa membukanya. Setelah dicap, itu menjadi milik kaisar,” kata dia.

Tujuh materai ini ditulis pada gulungan surat dan Yesus yang akan membukanya. Sedangkan 7 sangkakala yang dibunyikan dan 7 cawan murka.

“Semuanya serba  tujuh karena angka tujuh adalah  resmi, keramat bagi orang Yahudi, dan sempurna. Allah menciptakan langit dan bumi selama enam hari dan pada hari ketujuh Ia beristirahat,” kata Pendeta Nancy. (novy)

About the Author

GPIB

Administrator

GPIB

Visit Website View All Posts

Tinggalkan Komentar / Pesan Anda disini

Post navigation

Previous: Pendeta Nitis Resmikan Pelembagaan GPIB Jemaat Agape Mersam Jambi

Related Stories

Pendeta Nitis
  • Kegiatan
  • SINODE
  • Slide

Pendeta Nitis Resmikan Pelembagaan GPIB Jemaat Agape Mersam Jambi

GPIB May 17, 2026
K1
  • Featured
  • PELKES
  • SINODE
  • Slide

Program Bincang Pendeta untuk Beri Semangat di Pos Pelkes

GPIB May 11, 2026
DSC06283
  • Featured
  • SINODE
  • Slide

Pdt.Ebser: “Jangan Takut, Tuhan Sertai Pelayanan Kita!”

GPIB May 10, 2026

Kategori Artikel

  • DIAKONIA
  • Featured
    • Slide
  • INFO VIKARIS
  • Kegiatan
    • DIAKONIA
    • Misioner
      • GERMASA
  • Kegiatan PELKAT
    • PELKAT GP
    • PELKAT PA
    • PELKAT PKB
    • PELKAT PKP
    • PELKAT PT
    • PLEKAT LANSIA
  • PELEMBAGAAN
  • PELKES
  • Perspektif
    • Arcus
    • Inspirasi
    • Sosok
  • SINODE
    • Agenda
    • Pesan-Pesan
    • PSR XXII
  • STIKES
    • YAYASAN
      • YANKES

Hubungi Kami

Majelis Sinode GPIB
Jl. Merdeka Timur. No.10
Gambir, Kota Jakarta Pusat
Jakarta, Indonesia
P: (021) 384 2895
P: (021) 384 9917
F: (021) 385 9250
E: admin@gpib.or.id

Direktori

  • Yayasan
  • Departemen
  • Musyawarah Pelayanan
Copyright © GPIB Indonesia | MoreNews by AF themes.