GPIB, JAKARTA – Jemaat Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Siloam Jakarta Barat, menggelar ibadah minggu perdana pukul 17.00 WIB, pada Minggu (17/5/2026). Ibadah Hari Minggu pukul 17.00 WIB dipimpin Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Jemaat Siloam Jakarta Barat, Pendeta Nancy Nisahpih Rehatta.
Pendeta Nancy mengungkapkan pemindahan jam ibadah dari pukul 07.00 WIB ke pukul 17.00 WIB telah melalui pertimbangan matang.
“Kami punya banyak pertimbangan, tetapi semua itu dilakukan agar nama Tuhan semakin dipuji dan dimuliakan di tengah jemaat ini,” kata dia.
Muliakan Rajamu
Sementara itu, Pendeta Nancy dalam khotbahnya berjudul “Muliakanlah Rajamu” yang terambil dari kitab Wahyu 11:15-19 menjabarkan secara rinci tentang kitab Wahyu, yaitu kitab yang cukup jarang diangkat dan diwartakan dalam ibadah GPIB.
“Kitab Wahyu pasal satu adalah tentang siapa yang berbicara, yaitu Kristus yang Agung,” jelas dia.
Dikatakan, Pasal 1 menjelaskan tentang isi kitab Wahyu, di mana Yohanes bersaksi tentang firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus. Kitab Wahyu juga berbicara tentang Yohanes yang dibuang ke Pulau Patmos, sebuah daerah tandus.
Yohanes, lanjutnya, dibuang di Pulau Patmos disaat berusia lanjut. Hal itu terjadi karena Yesus, ketika berada di kayu salib, Ia berbicara kepada Yohanes untuk menyerahkan ibunya, Maria agar dirawat Yohanes.
“Itu terakhir kalinya Yesus bersama ibunya secara pribadi. Sebab, setelah Ia mati, bangkit, Ia menyelesaikan tugasnya di dunia ini, Ia harus kembali pada posisi-Nya sehingga Ia menyerahkan ibunya kepada Yohanes untuk dirawat dan dijaga,” kata Pendeta Nancy.
Pendeta Nancy menjelaskan, situasi itu yang membuat Yohanes memulai pelayanannya agak terlambat. Pasal 2 dan Pasal 3 adalah kepada siapa Yesus berbicara, yaitu gereja-Nya yang ada di bumi.
Ia mengatakan, tujuan dari kitab Wahyu adalah jemaat kristen yang tinggal di Asia Kecil. Dikatakan, jemaat ini paling terdampak dari penjajahan Romawi saat itu.
“Mereka sulit beribadah, berkumpul, berkomunitas, memberitakan firman, dan bernyanyi sehingga mereka hanya bisa membuka dan menutup mulut tanpa mengeluarkan suara ketika memuji Tuhan. Hanya membaca gerakan mulut, itu yang terjadi,” kata dia.
Namun, jemaat kristen di Asia Kecil dikuatkan agar jangan takut pada pemerintahan Romawi karena Tuhan melihat apa yang mereka alami.
“Dan, Tuhan akan memberikan penghukuman sesuai dengan apa yang mereka perbuat. Itu menunjukkan siapa Allah yang besar,” ujarnya.
Pasal 4, lanjutnya, menjelaskan tentang pusat otoritas Yesus, yaitu Takhta Allah di surga yang menjadi landasan sebelum gulungan kitab bermaterai dibuka, seperti diungkapkan pada Pasal 5.
Lebih lanjut, dijabarkan bahwa pada pasal-pasal selanjutnya ada tiga rangkaian hukuman berantai yaitu 7 materai; 7 sangkakalap; dan 7 cawan murka.
“Jangan membayangkan materai itu seperti yang ada sekarang, yang kemudia ditempel sebagai tanda sahnya sesuatu,” katanya.
Materai pada era Alkitab, jelas dia, adalah tanda siapa yang menjadi pemilik.
“Pada saat kubur Yesus ditutup, materai yang dipakai adalah materai Romawi dan hanya kaisar yang bisa membukanya. Setelah dicap, itu menjadi milik kaisar,” kata dia.
Tujuh materai ini ditulis pada gulungan surat dan Yesus yang akan membukanya. Sedangkan 7 sangkakala yang dibunyikan dan 7 cawan murka.
“Semuanya serba tujuh karena angka tujuh adalah resmi, keramat bagi orang Yahudi, dan sempurna. Allah menciptakan langit dan bumi selama enam hari dan pada hari ketujuh Ia beristirahat,” kata Pendeta Nancy. (novy)
