GPIB Indonesia
  • Media GPIB
  • Tentang GPIB
    • TENTANG GPIB
    • Visi dan Misi
    • Pemahaman Iman
    • Majelis Sinode GPIB
    • Presbiterial Sinodal
    • PKUPPG
  • DIREKTORI
    • Departemen
    • Gereja
    • Pendeta
    • Yayasan
      • YAPENDIK
      • YAYASAN DIAKONIA
      • YAYASAN KESEHATAN
  • Berita & Artikel
    • SINODE
    • Kegiatan
      • M I S I O N E R
      • D I A K O N I A
    • Kegiatan PELKAT
      • PELKAT PA
      • PELKAT PT
      • PELKAT GP
      • PELKAT PKP
      • PELKAT PKB
      • PELKAT LANSIA
    • P E R S P E K T I F
      • I N S P I R A S I
      • Sosok
  • Sabda Digital
  • Hubungi Kami

GPIB Indonesia

  • Media GPIB
  • Tentang GPIB
    • TENTANG GPIB
    • Visi dan Misi
    • Pemahaman Iman
    • Majelis Sinode GPIB
    • Presbiterial Sinodal
    • PKUPPG
  • DIREKTORI
    • Departemen
    • Gereja
    • Pendeta
    • Yayasan
      • YAPENDIK
      • YAYASAN DIAKONIA
      • YAYASAN KESEHATAN
  • Berita & Artikel
    • SINODE
    • Kegiatan
      • M I S I O N E R
      • D I A K O N I A
    • Kegiatan PELKAT
      • PELKAT PA
      • PELKAT PT
      • PELKAT GP
      • PELKAT PKP
      • PELKAT PKB
      • PELKAT LANSIA
    • P E R S P E K T I F
      • I N S P I R A S I
      • Sosok
  • Sabda Digital
  • Hubungi Kami
SINODEKegiatan

Pendeta Nitis dan Pelayanan ‘Kapal Tanker’ yang Riang

February 11, 2026

(Ketua Umum Sinode GPIB Pendeta Nitis Putra Harsono menceritakan tentang arah pelayanannya saat diwawancarai Sabtu, 7 Februari 2026. Foto: Sylviana Widiastuti)

Ketua Umum MS Pdt Nitis berbagi kisah berlayar ke sekolah teologi hingga visinya untuk ‘kapal tanker’ GPIB: merangkul jemaat bangga menjadi warga GPIB dan program yang berdampak bagi dunia luas.

Pagi belum terlalu tinggi ketika treadmill mulai bergerak. Di sebuah hotel tempat Rapat Tahunan Pembina Yapendik GPIB berlangsung, Pdt. Nitis Putrasana Harsono, M.Th., Ketua Umum Majelis Sinode GPIB yang baru—memulai harinya dengan rutinitas sederhana: berjalan, mengayuh sepeda statis, sekitar tiga puluh menit.

“Kalau di luar ramai, sudah bukan hirup udara segar, tapi knalpot,” katanya.

Meski kesibukan bertambah, ia berusaha mempertahankan hal-hal baik yang ia sudah rutin lakukan sebelum menjadi ketua sinode. Olahraga salah satunya, menjaga kepercayaan dan tetap rendah hati menjadi bagian dirinya yang tetap ia bawa dalam pelayanan.

Tiga hari sebelum mulai persidangan sinode tahunan, di tengah acara Yapendik, senyum tetap terjaga ketika peserta acaranya menyapa dan menyalaminya.

“Peran pendeta tetap harus menyentuh dan bisa disentuh umat,” kata Pendeta Nitis. “Jangan sampai berjarak. GPIB hadir di 26 provinsi, dan semua harus merasakan sapaan.”

Berbelok jadi Kapten “Kapal Tanker” Keluarga GPIB

Pamannya bercerita, di masa kecil, Pendeta Nitis selalu menjawab “ingin jadi pendeta” saat ditanya cita-citanya. Namun, di masa menjalani SMA di Makassar, cita-citanya beralih ingin menjadi arsitek atau dokter. Nilai menggambar bangunan dimensinya bagus.

“Kayaknya arsitek nikmat kerjanya, duduk di meja gambar. Terpikir juga mau bergelut di bidang hukum, atau di bidang kedokteran,” katanya.

Namun, saat teman-temannya yang suka berkumpul dan belajar di rumahnya mengambil formulir untuk masuk perguruan tinggi negeri, Pendeta Nitis memilih jalur lain. Ia tidak memilih Universitas Hasanuddin, universitas negeri di daerahnya, tetapi memilih untuk ke Yogyakarta.

“Ayah saya pendeta yang (waktu itu) tugas di Bukit Zaitun Makassar. Ayah saya bilang tidak usah, buat apa ke sana,” kata Pendeta Nitis.

Tekadnya kuat. Ia naik kapal laut ke Surabaya dan bertemu Pendeta Yusuf Ginting yang juga mempertanyakan keputusannya untuk jadi pendeta. Karena keputusannya tidak berubah, di pagi hari ia diantar Pendeta Ginting ke stasiun kereta Gubeng, naik kereta ke Stasiun Lempuyangan. Di Yogyakarta, ia ke rumah Pendeta Gerrits Singgih yang juga mempertanyakan dia, “Ngapain ambil teologi, yang lain saja.”

Ia memutuskan untuk tetap berupaya menjadi pendeta dan mengikuti berbagai tes untuk diterima di STT Duta Wacana. Ia lulus dan menjadi pendeta GPIB yang terus membawanya sampai menjadi Ketua Umum Sinode GPIB pada 2026 lalu. Ia menerima ini dengan pandangan bahwa menjadi ketua umum berarti memenuhi tanggung jawab sinodal.

(Pendeta Nitis, duduk di depan kanan, berfoto bersama teman kuliah di STT Duta Wacana — sekarang STFT Duta Wacana –Foto: Dokumentasi Pribadi)

“Ada kawan yang bilang sekarang pimpin kapal tanker, dulu pimpin kapal kecil,” katanya. “Saya kira harus tetap rendah hati. Orang kalau lihat pendeta takut atau sembunyi, sepertinya jubahnya atau pakaian klerusnya membikin jarak. Jadi di pimpinan sinodal, saya mengajak teman-teman fungsionaris majelis sinode gayanya begitu, pendekatan yang mau mendengar, mengarahkan, membimbing, mendampingi.”

Memimpin dengan Riang

Seorang presbiter GPIB Sylviana Widiastuti, bercerita bahwa ciri khas dari Pendeta Nitis adalah kerendahan hati. “Tidak hanya rendah hati, ia juga akrab dengan jemaatnya,” katanya.

Semangat ini terus dibawa Pendeta Nitis dalam pelayanannya di berbagai tempat, dari Makassar sampai ke kursi Sinode di Jakarta.

“Bila Tuhan mempercayakan lalu (kita) berkenan dipakainya, Tuhan Yesus yang punya gereja dan pekerjaan juga akan memberikan pendampingan, memperlengkapi kita asal tetap rendah hati. Kunci di situ, rendah hati kepada Dia yang memakai diri kita,” kata Pendeta Nitis.

Ia menjelaskan bahwa dalam filosofi Jawa, rendah hati bukan berarti mengalah.

“Kerendahan hati justru memenangkan percakapan dan justru bisa mengajak orang. Kalau lawan bicara terkesan levelnya tinggi, berjarak, angkuh, tidak bersahabat, terkesan tidak komunikatif, jadi susah untuk mengajak orang.

Pendekatan yang tidak boleh jatuh pada birokratis semata ini menurutnya relevan di tengah perubahan era sosial saat ini, khususnya di generasi muda.

“Kalau di jemaat, pendekatan pastoral dan kekeluargaan, bukan pendekatan yang memaksa, tetapi mengajak, merangkul,” katanya. “Pendekatan seperti ini tidak membuat orang merasa ditodong, tetapi pendekatan yang membuat jemaat mau ikut.”

“Era postmodern ini kan orang lebih menginginkan dihargai, punya kebebasan, dan dirinya dapat mengungkapkan ekspresi kebenaran,” katanya. “Kalau pendekatan aturan, pendekatan atau sentuhan bukan pastoral, ya orang ga mau.”

Di rapat-rapat sinode, ia kerap berkelakar. Masalah, menurutnya, tidak boleh disepelekan, tetapi juga tidak harus dihadapi dengan kening berkerut.  

(Pendeta Nitis bersama Pdt. Jeffrey Sompotan sesaat setelah terpilih pada Persidangan Sinode Raya GPIB di Makassar, 2025. Foto Dennis Gaspersz/Inforkom GPIB) 

“Tuhan menghendaki kita humor dan riang,” kata Pendeta yang suka mendengarkan lagu Iwan Fals ini. “Kadangkala kita membayangkan Tuhan tidak pernah senyum, serius, wajahnya lurus.”

Menurutnya, kesakralan Tuhan itu bukan berarti membuat umat tidak bisa rileks.

“Bayangkan sedikit, Tuhan senyum, ketawa,” katanya. “Saat Tuhan Yesus makan dengan orang orang masa makan dengan serius. Sama anak kecil pasti ketawa, kalau enggak anak-anak tidak mau datang.”

All for One, One for All

Persidangan Sinode Tahunan dimulai pada Rabu, 11 Februari 2026. Selama empat hari, perwakilan dari berbagai jemaat GPIB hadir membahas program-program yang berorientasi pada tema.  

“Kami bertekad hendak membangun kepercayaan dari seluruh jemaat,” katanya. “Membangun kepercayaan bahwa kita satu, melakukan kerja yang satu, satu bersama untuk melaksanakan amanah PKUPPG di tahun pertama (sinode baru).”

PKUPPG adalah Pokok-Pokok Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja, yang menjadi panduan strategis 20 tahun yang mengatur arah pelayanan, persekutuan, dan kesaksian.

“Dan kepercayaan ini perlu supaya semua merasa mendapat pendampingan dari semua, baik dari pimpinan MS dan Mupel yang juga akan terus diberdayakan sesuai fungsi, mengingatkan peran karya bersama.”

Percaya baginya juga mendorong agar presbiter meyakini semuanya adalah rekan kerja Allah, sahabat Yesus. Rasa percaya ini menurutnya bukan dibangun lewat struktur atau jabatan, melainkan cara kerja yang saling mendengar, saling menerima, dan menjaga keutuhan.

“Saya sebagai ketum, bukan bukan artinya saya top, nomor satu, segala-galanya dari saya,” katanya. “Kolegialitas kan tidak begitu; ada kerendahan hati dari semua; semangatnya satu untuk semua-semua untuk satu.”

“All for one, one for all,” ia mengutip slogan dari kisah The Three Muskeeters.

#SayaBanggaJadiGPIB

Pendeta Nitis banyak belajar dari berbagai hal, buku-buku filsafat, teologi, psikologi, sastra, sampai ke Tiktok. Di media sosial ini, ia kerap terekspos pada konten yang mempromosikan kebanggaan menjadi warga gereja.

Menurutnya pendekatan ini penting untuk membuat jemaat, khususnya anak muda, memahami esensi ber-GPIB. Masing-masing gereja menurutnya punya konteks dan latar belakang yang membuat ibadah dikemas dalam format tertentu. Sehingga kekhawatiran akan hilangnya generasi muda dari gereja tidak bisa semata dilihat dari pengubahan kemasan ibadah, tetapi mengubah cara pandang.

“Banyak yang tidak tahu kenapa liturgi kita tidak pakai band, hening, dan terkesan membosankan,” kata Pendeta Nitis. “Kalau kita beritahu latar belakang pemikiran kenapa begitu, saya kira orang mengerti, bangga, dan bisa menghayati.”  

Kebanggaan menjadi warga GPIB juga dibangun dengan keterlibatan seluruh warga GPIB dalam pelayanan. Lembaga gereja, menurutnya, terus mengingatkan, membimbing, dan mengarahkan umat.

“Jadi majelis sinode bukan memerintahkan jemaat melakukan,” katanya. “Terus di jemaat, majelis bukan memerintahkan warga jemaat melakukan, tetapi mengajak, menemani, ayo kita lakukan tugas itu. Jadi warga jemaat bukan objek, tetapi subjek.”

Ia pun mengajak warga jemaat untuk melihat dirinya sebagai warga GPIB, tidak eksklusif dan hanya melihat diri di jemaat, tetapi melihat keberadaan diri sebagai GPIB.  

“Jangan merasa tidak sanggup, tidak mampu,” katanya. “Kalau yakin Tuhan mempercayakan diri kita di peran atau tugas itu, pasti dilengkapi.”

PST dan Program Berdampak

Ajakan bersama dalam pelayanan ini penting mengingat ini adalah tahun pertama PKUPPG yang ketiga.

“Titik pertama ini penuh tantangan, titik semua orang belajar bersama-sama bisa berjalan ke depan, mempersiapkan langkah berikutnya di tahun 2027,” kata Pendeta Nitis.

Ia menjelaskan, tema tahun 2026 adalah Bertumbuh dalam Keselamatan, tema yang terinspirasi dari Kitab Petrus.

“Ini diawali dengan capaian lewat pendekatan strategis dari sisi teologi dan Inforkom,” katanya. “Dari sisi teologi menyangkut ketahanan iman, sikap iman sebagai GPIB dalam melaksanakan visi. Visinya tiga hal: keadilan, kebenaran dan pemulihan.”

Dari visi ini, pekerjaan rumah dari Litbang adalah melihat bagaimana pemahaman iman semua generasi di GPIB, termasuk generasi muda. Hasilnya akan digunakan dalam membangun materi bina yang diperlukan untuk mewujudkan ketahanan iman untuk mewujudkan kebenaran dan pemulihan.

Persidangan yang dilaksanakan secara hybrid ini menurutnya perlu dilihat sebagai bentuk ibadah. Sehingga hasil yang diputuskan adalah bentuk persembahan program kerja yang dengan penuh komitmen dilaksanakan bersama.

“Yang duduk di persidangan itu bukan wakil wilayah seperti di PBB,” katanya sambil tersenyum. “Kita duduk sebagai presbiter GPIB yang utuh. Keputusan yang diambil adalah keputusan bersama, dan akan dilaksanakan bersama.”

Ia mengajak presbiter untuk menjalankan bukan dalam keterpaksaan, melainkan dengan penuh tanggung jawab dalam sikap ibadah dan meyakini Kristus sebagai kepala gereja akan menolong.

“Maka disusun program terbaik yang benar-benar berdampak bagi masyarakat, bagi bangsa ini, bukan hanya berdampak bagi umat,” katanya. “Bukan melulu bagi warga gereja, tetapi sungguh berdampak bagi banyak orang, sehingga dunia ini menjadi panggung kemuliaan Tuhan.”

(CP)

Pendeta Nitis dan Pelayanan ‘Kapal Tanker’ yang Riang was last modified: February 11th, 2026 by GPIB

Tinggalkan Komentar / Pesan Anda disini

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

OFFICIAL DRESSCODE HUT ke-67 PELKAT GERAKAN PEMUDA GPIB

Pnt Richard van der Muur: Rapid Test Presbiter Untuk Menekan Penyebaran Covid-19

Ibadah Penglepasan Pdt. (em) R. A. Waney

Semangat Bulan Pelkes Tanjung Selor

Catatan Seorang Vikaris Tentang Alm. Pdt. Em. S.Th. Kaihatu, M.Th

Perjuangan Pendeta GPIB Mengatasi Corona

Jelang Idul Fitri Warga Menerima Bantuan dari Satgas Covid-19

MS GPIB Pastikan Persidangan Sinode Oktober 2021, PST Ditiadakan

Dukungan Melanie Subono untuk Satgas Covid-19 GPIB

Baksos Tahuna Sangihe Peduli NTT, Ketua Sinode GMIT: Salam Hormat, Tommy Masinambow: Ini Kepedulian Kami

Kategori Artikel

  • Featured
    • Slide
  • PELKES
  • PELEMBAGAAN
  • STIKES
    • YAYASAN
  • INFO VIKARIS
  • DIAKONIA
  • SINODE
    • PSR XXII
    • Pesan-Pesan
    • Agenda
  • Kegiatan
    • Misioner
      • GERMASA
    • DIAKONIA
  • Kegiatan PELKAT
    • PELKAT PA
    • PLEKAT LANSIA
    • PELKAT PT
    • PELKAT GP
    • PELKAT PKB
  • Perspektif
    • Arcus
    • Sosok

Majalah Arcus

Hubungi Kami

Majelis Sinode GPIB
Jl. Merdeka Timur. No.10
Gambir, Kota Jakarta Pusat
Jakarta, Indonesia
P: (021) 384 2895
P: (021) 384 9917
F: (021) 385 9250
E: admin@gpib.or.id

Direktori

  • Yayasan
  • Pendeta
  • Departemen
  • Musyawarah Pelayanan
  • Facebook
  • Email

@2016 - Majelis Sinode GPIB.