Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Berita Radio – Jumat, 9…
  2. Di Tengah Dinamika GPIB, Tuhan…
  3. GPIB Hadirkan Tiga Rumah Oksigen…
  4. Lansia Ceria, Lansia Bertemu Tiap…
  5. Menjemaatkan Dokumen Keesaan…
  6. Lansia Harus Tetap Sehat dan…
  7. Tim MS XXII GPIB Periksa…
  8. Semarak HUT ke-78 GPIB dan…
  9. 75 Pendonor Berbagi Kehidupan bagi…
  10. Menembus Batas Pelayanan,…
  11. Night Call GPIB | Jumat…
  12. Ibadah Syukur Agung HUT ke…
Sinode

Catatan Seorang Vikaris Tentang Alm. Pdt. Em. S.Th. Kaihatu, M.Th

GPIB menangis, berduka kehilangan seorang hebat yang dipunyai. Dia adalah Pdt. Em. S.Th. Kaihatu, M.Th, Ketua Umum Majelis […]

Pdt. Em. S.Th. Kaihatu, M.Th, Ketua Umum Majelis Sinode GPIB 2005-2010

GPIB menangis, berduka kehilangan seorang hebat yang dipunyai. Dia adalah Pdt. Em. S.Th. Kaihatu, M.Th, Ketua Umum Majelis Sinode GPIB 2005-2010.

Dimuliakan Tuhan Yesus di RS Siloam, Karawaci pukul 16.15 WIB disini ayah dua anak Femmy dan Yus meninggalkan segalanya menghadap Tuhannya. GPIB Immanuel, Gambir Jakarta Pusat ia dibaringkan dalam peti jenazah putih seakan menjadi simbol ketulusannya dalam ranah pelayanan di GPIB.

Ketua Umum Mejelis Sinode GPIB Pdt Paulus Kariso Rumambi diantara warga GPIB yang ikut melayat

Kepiawaiannya dalam menata layan gereja terbesar di jagad Nusantara ini menjadikannya ia begitu disegani. Tidak hanya di tataran sesama pendeta, jemaat pun mengaguni sosok sederhana ini. Seorang vikaris, saat mendengar orang yang dibanggakan wafat merangkai kata di facebook untuk pria beristri J.Y Kowel.

“Saya
tidak mengira, Semiloka Teologi Tata Ibadah GPIB di Jogja adalah perjumpaan
terakhir kami. Saya selalu ingat, beliau selalu berpesan kepada kami para
vikaris dan pendeta muda untuk mendorong terus gerak maju GPIB di masa depan
dengan slogan, “Itu kerjaan kalian yang muda-muda ini lho, sudah bukan
saya lagi.

Karangan bunga dari berbagai daerah terus berdatangan memberi penghiburan bagi keluarga yang ditinggal. Tidak hanya karangan bunga, warga GPIB yang datang juga terus memenuhi ruang utama GPIB Immanuel Jakarta.

“Saya mah sudah sedikit lagi.” Suatu kali, ketika kami makan, beliau menghampiri kami dan berguyon, “Eh kalian vikaris-vikaris jangan kumpul dana ya kalau saya mati, lebih baik buat bantu orang miskin di luar sana.” Lalu kami terdiam. Tiba-tiba dia tertawa dan bilang,

“Saya
bilang ini tuh cuma mau guyon sama kalian aja, nah yang lucu itu seandainya
besok saya mati, pasti kalian ini nanti pada kepikiran mau kumpul dana lalu
bilang ‘eh, Pdt kemarin pesan soal kumpul dana..’, hahaha..” Berkali-kali
beliau bercanda soal masa tua dan kematian.

“Kadang saya jengkel, tapi lucu juga.. Di atas semua itu, saya salut dengan bagaimana beliau menghadapi kenyataan tentang masa tua dan kematian.”

“Saya
juga ingat, waktu evaluasi vikaris tahun pertama di Lawang, ketika kami sedang
ngobrol berdua tentang penilaian yang dia berikan atas laporan vikariat saya,
begini isi penilaiannya:

“Vikaris  sangat perlu ditopang agar kelak bisa
memberikan yang terbaik bagi dunia akademis, khususnya di bidang teologi, yang
akan menjadi masa depan pelayanannya. 
Penempatannya di Jemaat yang menjadi konteksnya sekarang ini  harus sangat dipertimbangkan untuk  jemaat berikutnya, agar Vikaris tidak
terhalang dalam kegiatan akademisnya.”

“Sebab  ini juga merupakan bukti konkrit  dari keterlibatan GPIB secara keseluruhan dalam pengembangan teologi, bukan hanya bagi GPIB tapi bagi gereja-gereja di Indonesia secara keseluruhan.”

“Saya
menyampaikan bagaimana pergumulan saya dulu dalam ber-GPIB. Setelah mendengar
“curhat” saya, beliau berpesan, “Ya, saya mengerti keresahan
kamu, yang saya mau bilang sama kamu, selain milik Tuhan, saya ini milik GPIB.
Saya hidup dari GPIB dan akan mati di GPIB.”

Semua yang
saya punya dari GPIB bukan milik saya. Jadi kalau seandainya kamu sempat patah
semangat dengan GPIB, ingat saja, saya bukti konkretnya. GPIB di tangan yang
benar tidak akan membiarkan para pelayannya, apalagi orang-orang muda seperti
kamu dalam pengembangan teologi di bidang akademis.”

“Di
dalam perbincangan itu saya tercenung. Kata-kata beliau selalu membekas setiap
kali melihatnya. Ketajaman
berpikir Opa dalam hal yang sederhana dan praktis serta keceriaan Opa selalu membekas
bagi saya pribadi. GPIB kehilangan salah satu teolognya. Terimalah ya TUHAN,
Pdt. Em. Samuel Theofilus Kaihatu, M.Th. di dalam persekutuan kudus-Mu.

fsp/mp

Bagikan