GPIB, Jakarta – Sekretaris Umum (Sekum) Fungsionaris Majelis Sinode (FMS) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Pendeta Ebser Lalenoh MTh mengatakan, Persidangan Sinode Tahunan (PST) GPIB 2026 akan menjadi forum pemantapan iman dan penguatan peran Gereja di tengah masyarakat.
GPIB sebagai Gereja nasional yang multietnis dan multikultural, jemaatnya tersebar di 26 provinsi di Indonesia.
“PST GPIB Tahun 2026 menjadi tekad Fungsionaris Majelis Sinode dalam mengembangkan tata kelola Gereja yang sehat, mandiri, dan akuntabel,” kata Pendeta Ebser di Jakarta, Senin (9/2/2026).
Ia mengatakan, berdasarkan keputusan PST 2025 di Salatiga, Jawa Tengah, penyelenggara PST 2026 adalah Musyawarah Pelayanan (Mupel) Jakarta Pusat, pada 11-14 Februari 2026 menggunakan format daring dan tatap muka.
Pertemuan tahunan ini, lanjutnya, akan mengevaluasi kinerja pelayanan, pelaksanaan program kerja, serta penyusunan program kerja anggaran (PKA) satu tahun pelayanan mendatang.
“PST 2026 menitikberatkan pada program pemberdayaan sumber daya insani (SDI), pelayanan kontekstual, serta pemanfaatan teknologi dan inovasi pelayanan agar Gereja tetap relevan menjawab kemajuan zaman,” jelas Pendeta Ebser.
Sementara itu, Ketua 5 FMS GPIB, Penatua Maxi van Hayer mengatakan, pemanfaatan teknologi dan inovasi merupakan salah satu pilar penting dalam pelayanan Gereja.
GPIB yang terdiri atas 356 jemaat dan terbagi dalam 25 Mupel telah memanfaatkan teknologi informasi untuk mengefektifkan pelayanan yang tersebar di 26 provinsi.
“Kami terus berusaha untuk mendigitalisasi pelayanan ibadah dan , pelayanan. Pemanfaatan media digital diarahkan untuk memberdayakan jemaat,” jelas Maxi. (novy)

