Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Berita Radio – Rabu, 4…
  2. Dari Batu Pertama Menuju Kemandirian…
  3. GPIB Mupel Banten Gelar Diklat…
  4. Pesan HUT GPIB ke 78…
  5. Menteri Fadli Zon Dukung Kerjasama…
  6. Harapan ke Vikaris yang Ditahbiskan:…
  7. Refleksi dan Doa Lintas Iman:…
  8. Tokoh Lintas Agama Serta Masyarakat…
  9. Belajar Teknologi Digital…
  10. Mari Bersama Menghadirkan Kasih dan…
  11. Night Call GPIB | Rabu…
  12. Pesan MS GPIB dalam Rangka…
Sinode

Peduli Kesehatan, Dewan PKP GPIB Sukses Gelar Seminar Mencegah Kanker Payudara

arcus Ed. 24 – Peduli pada kesehatan wanita pada umumnya, Dewan Persekutuan Kaum Perempuan (Dewan PKP) Majelis Sinode […]

Ketua Dewan PKP GPIB Ny. Vicora Van Der Muur-Tulende, kedua dari kiri, dalam acara Seminar Kesehatan yang dilaksanakan Dewan PKP GPIB di Wisma GPIB Jakarta.
Ketua Dewan PKP GPIB Ny. Vicora Van Der Muur-Tulende, kedua dari kiri, memberi masukan dalam acara Seminar Kesehatan yang dilaksanakan Dewan PKP GPIB di Wisma GPIB Jakarta.

arcus Ed. 24 – Peduli pada kesehatan wanita pada umumnya, Dewan Persekutuan Kaum Perempuan (Dewan PKP) Majelis Sinode GPIB mengadakan Seminar Kanker Payudara. Seminar yang dilaksanakan di Wisma GPIB di Jalan Medan Merdeka Timur Jakarta 28 Oktober 2018 ini cukup banyak diikuti oleh kaum perempuan.

Tidak hanya
kaum wanita dari GPIB, peserta diluar GPIB pun ambil bagian dalam seminar
dilaksanakan bekerjasama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi. Agenda Seminar ini merupakan rangkaian program
kerja Dewan PKP yang diketuai Ny. Vicora Van Der Mur – Tulende.

Tak
tanggung-tanggung, selain menghadirkan dokter-dokter sebagai narasumber,
kegiatan ini juga mendatangkan satu unit mobil Mamografi. Di kendaraan ini
semua peserta semiar dapat melakukan pengecekan kesehatan berkaitan dengan
kanker payudara. Mamografi adalah tipe khusus dari pencitraan yang
menggunakan mesin rontgen dosis rendah untuk memeriksa payudara, menunjukkan
jaringan, kelenjar, lemak dan pembuluh darah di bawah kulit payudara.

Pada seminar
tersebut, para dokter yang merupakan narasumber selain memberikan masukan
berupa teori juga mengajarkan  berbagai
gerakan pencegahan dan pengecekan kanker. 
Kanker payudara adalah pertumbuhan abnormal sel-sel payudara
yang terkadang dapat dirasakan sebagai benjolan atau massa yang disebut tumor.

Suatu tumor
payudara dapat bersifat jinak (tidak bersifat kanker) atau ganas (bersifat
kanker). Penyakit telah
menjadi salah satu penyebab utama dari tingginya angka kematian pada kaum
wanita. Pada tahun 2015 saja, data dari World Health Organization (WHO)
menunjukkan bahwa telah ada 507 ribu wanita yang meninggal dunia akibat kanker
payudara. Memang menakutkan, tapi sebenarnya jika ciri-ciri kanker payudara
stadium awal bisa dideteksi, bukan tidak mungkin penyakit ini dapat
disembuhkan. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui ciri awal kanker payudara
sedini mungkin.

Kanker
payudara yang paling umum terjadi, terbagi dalam beberapa jenis. Ductal carcinoma in situ, kanker ini tumbuh di duktus, dan tidak menyebar ke jaringan sekitarnya.
Jenis kanker ini termasuk kanker stadium awal dan mudah diobati. Namun
demikian, kanker ini bisa menyebar ke jaringan sekitarnya jika tidak segera
ditangani. Lobular carcinoma in situ, kanker
yang tumbuh di lobulus.
Sama seperti ductal
carcinoma in situ,
kanker ini tidak menyebar
ke jaringan sekitarnya dan masih jenis penyakit kanker
lainnya.

Bagaimana
mencegahnya? Menjaga berat badan tetap
ideal.
Berat badan erat kaitannya dengan risiko kanker payudara. Wanita
yang mengalami obesitas setelah masa menopause memiliki risiko terkena kanker
payudara 20 – 40 persen lebih tinggi dibanding dengan yang mempunyai berat
badan normal.

Utamakan makanan sehat. Pola makan sehat dengan mengutamakan asupan buah, sayuran, kacang-kacangan
termasuk kacang kedelai, minyak sehat, dan antioksidan yang tinggi, dapat
membantu mengurangi risiko kanker payudara. Wanita yang sudah terkena kanker
payudara pun hidupnya dapat lebih berkualitas, jika menghindari makanan
berlemak. Daging berlemak, sosis, krim, margarin, mentega, dan minyak adalah
berbagai jenis makanan yang harus dihindari sebagai usaha pencegahan kanker
payudara.

Luangkan waktu untuk berolahraga. Aktif secara fisik dapat menurunkan risiko kanker payudara. Sebaliknya,
risiko kanker payudara meningkat pada wanita yang sudah bertahun-tahun tidak
pernah mengolah fisiknya lagi. Standar untuk melakukan olahraga intensitas
sedang (seperti bersepeda dan jalan cepat) adalah selama 2 jam 30 menit per
minggu.

Hentikan kebiasaan merokok. Anda yang pernah menjadi perokok saja masih memiliki risiko terkena kanker
payudara sebesar 6-9 persen lebih tinggi daripada mereka yang tidak pernah
merokok sama sekali. Kondisi yang lebih buruk bisa Anda alami jika masih aktif
merokok, yaitu 7-13 persen lebih berisiko untuk terkena kanker payudara.

Membatasi minuman beralkohol. Mengonsumsi minuman beralkohol satu gelas tiap hari dapat meningkatkan
risiko terkena kanker payudara sebesar 7-12 persen. Potensi terkena kanker
payudara akan lebih tinggi jika biasa minum minuman beralkohol lebih dari
segelas per hari. Hal ini dapat terjadi karena ada kaitan antara tingkat
alkohol dengan perubahan jumlah hormon di dalam darah. Karena itu, mengurangi
konsumsi alkohol juga merupakan salah satu cara mencegah kanker payudara.
Bahkan jika memungkinkan, disarankan untuk menghentikannya sama sekali.

Menyusui bayi secara teratur. Menyusui bayi dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara hingga 22
persen. Sejauh ini belum diketahui pasti mengapa menyusui dapat mencegah kanker
payudara. Namun, diduga menyusui dapat membantu keseimbangan hormon, mencegah
paparan zat pemicu kanker, dan menghindari kerusakan sel payudara.

Membatasi terapi hormon. Terapi hormon biasa dilakukan oleh wanita terkait dengan masa menopause.
Terapi menggunakan hormon estrogen dan progesteron ini biasanya bersifat jangka
panjang. Karena itulah, terapi ini berisiko meningkatkan kanker payudara.
Apabila Anda benar-benar membutuhkan terapi hormon, konsultasikan kepada dokter
agar kadar hormon tersebut dapat dikurangi.

Hindari terkena paparan radiasi. Ada beberapa hal yang mungkin membuat Anda terpapar radiasi tingkat tinggi,
misalnya menjalani pemeriksaan CT scan, bekerja di fasilitas kesehatan yang
menggunakan radiasi, dan terpapar asap kendaraan atau bahan-bahan kimia. Jadi,
lindungi diri Anda dari paparan tersebut dan hindari semaksimal mungkin.

fsp/dari berbagai sumber

Bagikan