GPIB, Malang – Kunjungan fungsionaris Majelis Sinode GPIB XXII diwakili Ketua V Pnt.Max Hayer dan Bendahara Umum Pnt.Steven Tunas bersama Badan Pemeriksa Perbendaharaan Gereja (BPPG) GPIB ke Rumah Asuh Anak dan Lansia (RAAL) Griya Asih Lawang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, tak sekadar kunjungan rutin pemeriksaan belaka. Namun sebagai bentuk kepedulian dalam melihat kondisi pengelolaan lembaga tersebut.
FMS yang mendampingi BPPG pada hari Jumat (17/4) melakukan pemeriksaan laporan keuangan, aset/inventaris dan pengelolaan RAAL Griya Asih Lawang yang operasional ya dibawah koordinasi Yayasan Diakonia (YADIA) GPIB saat ini menampung lansia asuh sebanyak 35 orang dan anak asuh sebanyak 6 orang. Dan dilayani oleh pengurus 4 orang, pendeta pelyanan umum 1 orang dan karyawan sebanyak 22 Orang yang diketuai Ibu Treesna Latuputty.

Pnt. Boyke Marzt Siagian, Ketua Badan Pemeriksa Perbendaharaan Gereja (BPPG) GPIB menegaskan bahwa pemeriksaan yang dilakukan bukan semata-mata untuk menilai, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab gerejawi dalam menjaga akuntabilitas, transparansi, dan integritas pengelolaan sumber daya gereja.
“Pelayanan di RAAL Griya Asih Lawang merupakan wujud nyata diakonia gereja yang harus didukung dengan tata kelola keuangan dan aset yang tertib, rapi, dan sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Pnt.Boyke.
Sementara menurut Pnt. Rico Sihombing dan Pnt. Levania Santosaanggota BPPG yang ikut berkunjung menyampaikan harapan kiranya pengelolaan laporan keuangan, aset/inventaris, serta sistem administrasi di RAAL Griya Asih Lawang semakin ditingkatkan sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara gerejawi dan profesional.
“Kami sebagai BPPG berharap adanya komitmen berkelanjutan dari pengurus dan Yayasan Diakonia (YADIA) GPIB untuk terus melakukan pembenahan dan penguatan sistem pengelolaan, demi pelayanan yang berkelanjutan dan terpercaya,” ujarnya.
Ketua V MS GPIB XXII Pnt.Max Hayer menambahkan, kunjungan tersebut sebagi bentuk kehadiran gereja yang tidak hanya mengatur dari pusat, tetapi juga mendampingi secara langsung pelayanan di akar rumput.

“RAAL Griya Asih Lawang adalah wajah kasih Kristus yang nyata bagi anak-anak dan lansia yang dilayani. Karena itu, seluruh aspek pelayanan—baik pastoral, sosial, maupun administratif—harus berjalan selaras sebagai satu kesaksian iman,” tandasnya.
Ketua V menambahkan RAAL Griya Asih Lawang kiranya terus menjadi tempat yang menghadirkan kasih, kehangatan, dan pemulihan bagi para lansia dan anak asuh. Ketua V juga berharap sinergi antara pengurus RAAL, YADIA GPIB, dan Majelis Sinode semakin kuat, sehingga pelayanan ini tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang, baik dalam kualitas pelayanan maupun kapasitas kelembagaan.
Sementara Bendahara Umum MS GPIB XXII Pnt.Steven Tunas menambahkan bahwa pengelolaan keuangan gereja, termasuk di unit pelayanan seperti RAAL, harus dilaksanakan dengan prinsip kehati-hatian, keterbukaan, dan tanggung jawab. Setiap sumber daya yang dipercayakan adalah bagian dari persembahan umat yang harus dikelola secara optimal untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama.
“Kami berharap kiranya RAAL Griya Asih Lawang dapat terus meningkatkan kapasitas pengelolaan keuangan yang efektif, efisien, dan sesuai standar yang ditetapkan oleh gereja,” tandasnya.
Pnt.Steven juga berharap adanya peningkatan kemampuan administrasi keuangan dari para pengurus, serta dukungan berkelanjutan dari YADIA GPIB dalam memastikan keberlangsungan operasional pelayanan ini secara sehat dan berdaya guna.
Dalam kesempatan itu, Ketua RAAL Ibu Treesna Latuputty menyampaikan terima kasih atas kunjungan yang dilakukan FMS dan BPPG serta menyampaikan permohonan dukungan bagi sejumlah kebutuhan bagi penghuni RAAL.
“Kami terus membutuhkan bimbingan dan pengawasan yang lebih intens dari pimpinan pusat MS dalam memajukan pelayanan terhadap lansia & anak -secara kontinyu & komunikatif. Juga kami membutuhkan kursi roda transfer bagi lansia. Di samping itu juga kami membutuhkan pembinaan pengelolaan keuangan dan filling administrasi dari staf ahli MS, serta untuk meningkatkan kesejahteraan bagi pengurus dan karyawan dan terakhir adalah kami membuthkan bantuan adanya pengamanan lokasi atau area Griya Asih berupa tembok pembatas,” katanya.(lip)

