Skip to content
GPIB Indonesia

GPIB Indonesia

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Primary Menu
  • Tentang GPIB
    • Visi dan Misi
    • Pemahaman Iman
    • Majelis Sinode GPIB
    • Presbiterial Sinodal
    • PKUPPG
  • DIREKTORI
    • Departemen
    • Yayasan
      • YAPENDIK
      • YAYASAN DIAKONIA
      • YAYASAN KESEHATAN
  • Berita & Artikel
    • SINODE
    • Kegiatan
      • M I S I O N E R
      • D I A K O N I A
    • Kegiatan PELKAT
      • PELKAT PA
      • PELKAT PT
      • PELKAT GP
      • PELKAT PKP
      • PELKAT PKB
      • PELKAT LANSIA
    • P E R S P E K T I F
      • I N S P I R A S I
      • Sosok
  • Sabda Digital
  • Radio GPIB
  • Hubungi Kami
  • Home
  • SINODE
  • Pdt.Ebser: “Pelayanan Dimulai Bukan dari yang Besar Tapi dari yang Kecil”
  • Featured
  • Kegiatan
  • SINODE
  • Slide

Pdt.Ebser: “Pelayanan Dimulai Bukan dari yang Besar Tapi dari yang Kecil”

GPIB April 15, 2026 3 minutes read
WhatsApp Image 2026-04-15 at 12.55.18

GPIB, Mataram – Ada sesuatu yang menarik dari pembinaan dengan tema Etika Pelayanan dan Kesetiaan Panggilan bagi presbiter dan pengurus pelkat serta pelayan PA dan PT di GPIB Immanuel Bung Karno, Mataram pada Sabtu (11/4) yang dibawakan oleh Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB XXI Pdt.Ebser M Lalenoh yakni ungkapan bahwa pelayanan itu bukan dimulai dengan sesuatu yang besar tapi dari sesuatu yang kecil.

“Ketika bicara soal Etika Pelayanan dan Kesetiaan Panggilan, maka kita harus punya pemahaman bahwa pelayanan itu dimulai bukan dari sesuatu yang besar tetapi dari hal kecil. Ketahuilah bahwa Tuhan membina jemaat-Nya melalui para pelayan sebagai gembala/pemimpin. Tapi janganlah berpikir bahwa pelayan yang bekerja dan giat dilakukan dengan cara yang persis sama! Tidak. Mengapa? Karena Tuhan yang penuh dengan hikmat! Menciptakan manusia dengan berbeda-beda karunia,” kata Pdt.Ebser pada seluruh peserta pembinaan di ruang pertemuan GPIB Immanuel Bung Karno Mataram malam itu.

Lebih jauh, Sekum MS GPIB XXII itu menerangkan bahwa seseorang yang terjun dalam pelayanan harus merevitalisasi dan merevolusi panggilan dia dalam pelayanan.

“Kita mulai dari adanya panggilan itu dari diri kita dan kita terima dengan ya, dengan segenap hati. Lalu, itu dipraktikan dalam berbagai hal, seperti melawat orang-orang sakit, memperhatikan janda, anak yatim piatu dan anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika hal-hal itu terima dan dilakukan oleh para pelayan termasuk presbiter, pengurus dan pelayan maka gereja bersukacita karena dilakukan dengan tulus dan penuh kasih,” ujar Pdt.Ebser kepada peserta pembinaan.

Lebih jauh soal kelengkapan pelayanan, Pdt.Ebser menyinggung soal visi pribadi dan misi bersama, yang di antaranya diwujudkan dalam sikap umat yang tekun dalam pengajaran, masing-maisng harus merendahkan diri di hadapan Tuhan dan serupa denga Kristus sehingga menghasilkan buah-buah roh yang tetap.

“Untuk mencapai itu setiap pelayan harus memiliki sikap, antara lain setia dalam ibadah, setia menjaga domba-dombanya, setia menghibur yang sakit, setia membaca Alkitab, setia berdoa, setia menjadi anggota jemaat, setia mengikuti rapat majelis, pelkat dan juga rapat gerejawi. Setia amat diperlukan, seperti dalam Amsal 20 ayat 6: Banyak orang menyebut dirinya baik, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” kata Pdt.Ebser.

Ia juga menambahkan hal-hal yang diperlukan sebagai pelayan, yakni rendah hati, tidak sombong, penuh dengan kasih sayang, berani bersikap benar, berhikmat, terpelajar yang diwujudkan mau belajar, takluk pada firman Tuhan dan giat atau rajin.

“Itu semua akan nampak dari sikap-sikap pelayan, seperti panjang sabar, tidak crpat marah, tidak cepat patah hati atau patah semangat atau putus asa dan tidak terburu-buru. Karena kesabaran adalah yang utama dan terdahulu! Ikutlah teladan TUHAN. Jangan cepat putus asa jika seorang Kristen tidak mau mendengar dan tidak mau bertobat,” tandasnya.

Di bagian akhir dalam pembinaan itu, Sekum menekankan soal bergembira atau bersukacita dalam pelayanan. “Jika pelayan tidak senang melaksanakan tugasnya, seolah-olah ia dipaksa oleh jemaat atau TUHAN. Jika ia bersungut-sungut menjalankan tugasnya, dan selalu harus didorong oleh kawan-kawannya, jika ia terus berkeluh-kesah menggembalakan domba-dombanya, dan selalu mengeluh tentang beban jabatannya, maka itu mustahil dapat membawa berkat bagi jemaat,” ujarnya mengakhiri pembinaan malam itu.(lip)

About the Author

GPIB

Administrator

GPIB

Visit Website View All Posts

Tinggalkan Komentar / Pesan Anda disini

Post navigation

Previous: Sekum MS GPIB XXII Teguhkan Majelis Antar Waktu di GPIB Immanuel Bung Karno Mataram
Next: Stikes Griya Husada Dikunjungi FMS dan BBPG GPIB

Related Stories

wangkay
  • Kegiatan
  • PELKAT PKB

Pdt.Wangkay: “…Gereja Ini Terkenal Tapi Tidak Berdampak!”

GPIB August 4, 2026
fragmen di Ibadah Pembukaan Bulan Germasa GPIB 2026
  • Featured
  • GERMASA
  • SINODE
  • Slide

Bulan GERMASA GPIB 2026 Resmi Dibuka, Pdt. Semuel Karinda: Ibadah Harus Menghasilkan Perubahan Hidup

Arthur Teesen August 3, 2026
cover berita bulan germasa landscape
  • Featured
  • GERMASA
  • Misioner
  • SINODE
  • Slide

Bulan Germasa GPIB Tahun 2026: Membangun Gereja yang Hadir, Peduli dan Berdampak

Arthur Teesen July 30, 2026

Kategori Artikel

  • DIAKONIA
  • Featured
    • Slide
  • INFO VIKARIS
  • Kegiatan
    • DIAKONIA
    • Misioner
      • GERMASA
  • Kegiatan PELKAT
    • PELKAT GP
    • PELKAT PA
    • PELKAT PKB
    • PELKAT PKP
    • PELKAT PT
    • PLEKAT LANSIA
  • PELEMBAGAAN
  • PELKES
  • Perspektif
    • Arcus
    • Inspirasi
    • Sosok
  • SINODE
    • Agenda
    • Pesan-Pesan
    • PSR XXII
  • STIKES
    • YAYASAN
      • YANKES

Hubungi Kami

Majelis Sinode GPIB
Jl. Merdeka Timur. No.10
Gambir, Kota Jakarta Pusat
Jakarta, Indonesia
P: (021) 384 2895
P: (021) 384 9917
F: (021) 385 9250
E: admin@gpib.or.id

Direktori

  • Yayasan
  • Departemen
  • Musyawarah Pelayanan
Copyright © GPIB Indonesia | MoreNews by AF themes.