Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Dari Batu Pertama Menuju Kemandirian…
  2. GPIB Mupel Banten Gelar Diklat…
  3. Pesan HUT GPIB ke 78…
  4. Menteri Fadli Zon Dukung Kerjasama…
  5. Berita Radio – Senin, 2…
  6. Harapan ke Vikaris yang Ditahbiskan:…
  7. Refleksi dan Doa Lintas Iman:…
  8. Tokoh Lintas Agama Serta Masyarakat…
  9. Belajar Teknologi Digital…
  10. Mari Bersama Menghadirkan Kasih dan…
  11. Night Call GPIB | Senin…
  12. Pesan MS GPIB dalam Rangka…
Kegiatan

4 Catatan dari Konas PKB XIX PGI di Raja Ampat

GPIB, Raja Ampat – Rangkaian Konferensi Nasional (Konas) Forum Komunikasi Pria Kaum Bapa (FKPKB) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia […]

4 Catatan dari Konas PKB XIX PGI di Raja Ampat

GPIB, Raja Ampat – Rangkaian Konferensi Nasional (Konas) Forum Komunikasi Pria Kaum Bapa (FKPKB) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) ke-XIX yang resmi ditutup oleh Bupati Raja Ampat yang diwakili Sekretaris Daerah Yusuf Salim menyampaikan sambutan tertulis Bupati Raja Ampat yakni ditekankan bahwa pelaksanaan Konas ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian integral dari perjalanan iman, pelayanan, persaudaraan, dan kebersamaan umat.

“Pertemuan nasional yang mempertemukan para pria kaum bapa dari berbagai sinode ini diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan semata, tetapi meninggalkan nilai-nilai spiritual yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Dari kegitan KOnas PKB PGI tersebut setiddaknya terdapat empat catatan Konas, yakni:
a. Penguatan internal PKB untuk merumuskan program yang relevan dengan tantangan kemajuan zaman, dan ugahari dalam segala hal.

b. Penguatan jemaat lokal untuk terus bersama menumbuhkan spirit panggilan PKB di setiap jemaat yang programatik, (bukan seremonial).

c. Kehadiran yang berdampak ke masyarakat luas ; PKB hadir menjawab isu nyata di tanah Papua yg tergerus, problematik pemampataan SDA dan Indonesia untuk sigap menggumuli dengan kemiskinan, pendidikan, dan kerukunan, “PKB in Action”.

d. Penggerak bagi tumbuhnya potensi ekonomi lokal, perdayaan warga, menghidupi mata rantai pasok pengembangan ekonomi berkelanjutan.

Sehari sebelumnya sejumlah catatan yang dapat dirangkum dari sejumlah kegiatan, antara lain dari seminar “Ecclesia Domestica” dengan narasumber Ketua Umum MPH PGI, Pdt. Jacky F. Manuputty memaparkan fenomena “Fatherless” (ketidakhadiran ayah secara fisik maupun emosional) sebagai ancaman nyata bagi pengembangan keluarga Kristen.

Lebih dalam Pdt.Jacky menjelaskan adanya krisis empiris, yakni dari data menunjukkan 15,9 juta anak Indonesia tumbuh dalam kondisi fatherless, dipicu oleh faktor perceraian, kesibukan kerja yang ekstrem (lebih dari 60 jam/minggu), serta norma sosial yang membatasi peran ayah hanya sebagai pencari nafkah.

“Maka solusinya saat ketidakhadiran ayah berdampak pada rendahnya harga diri anak dan munculnya masalah emosional. Gereja dipanggil untuk menjadi pendamping aktif bagi keluarga, melakukan pembinaan melalui kelompok pemuridan, dan mengembalikan rumah sebagai pusat pemuridan lintas generasi.”

Sementara saat topik “Pria sebagai Imam Keluarga” oleh Pdt. Bambang Noorsena memberikan landasan teologis mengenai pentingnya pria mengambil peran sebagai pemimpin spiritual di rumah tangga.

“Tanggung jawab seorang pria tidak hanya berperan sebagai pelindung fisik, tetapi juga sebagai “imam” yang bertanggung jawab atas pertumbuhan iman seluruh anggota keluarga,” kata Bambang.

Topik lainnya di bawakan mantan Ketua PGI Pdt.Gomar Gultom tentang “Spiritualitas Keugaharian” menekan untuk melawan keserakahan yakni mengenai pola hidup kristiani di tengah krisis multidimensi.

“Dari akar masalah utama dunia saat ini, termasuk krisis ekologis dan ekonomi, berakar pada keserakahan (greedy). Maka kaum bapak diajak menerapkan prinsip Kristiani: Repent (bertobat atas kerusakan alam), Restraint (mengendalikan diri/tidak rakus), Respect (menghargai sesama dan ciptaan), serta Responsible (bertanggung jawab). Spiritualitas. Dengan keugaharian adalah pola hidup yang mampu menguasai diri dan memperjuangkan kecukupan bagi semua orang,” ujarnya.

Sementara itu Pnt. Max Hayer (Ketua V MS GPIB XXII) memberikan respons bahwa melalui materi “Ecclesia Domestica” dan peran pria sebagai Imam Keluarga, diingatkan bahwa kehadiran seorang ayah di rumah bukan sekadar kehadiran fisik, melainkan keterlibatan emosional dan spiritual yang konsisten.

“Saya mengajak seluruh warga PKB GPIB untuk menyadari bahwa keluarga adalah gereja terkecil; jika kita gagal hadir bagi anak-anak kita, kita sedang menghadapi krisis gereja di masa depan. Mari kita berkomitmen untuk memutus rantai *fatherless* dengan menjadi pendamping iman yang nyata di meja makan dan ruang tamu keluarga kita,” tandasnya.

Selain itu, dalam semangat Spiritualitas Keugaharian, warga GPIB di minta tinggalkan gaya hidup serakah dan beralih pada pola hidup bersahaja yang bertanggung jawab terhadap alam ciptaan.

“Sebagai pemimpin, kita harus menerapkan prinsip 4R (Repent, Restraint, Respect, Responsible) sebagai wujud nyata pertobatan ekologis kita [9]. Mari jadikan keteladanan dan pengendalian diri sebagai karakter utama Pria Kaum Bapak, sehingga kehadiran kita benar-benar membawa berkat dan kecukupan bagi sesama serta menjaga kelestarian bumi bagi generasi mendatang,” ujar Pnt.Max.

Dengan selesainya kegiatan itu, Pemerintah Kabupaten Raja Ampat juga menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan sehingga daerah ini terpilih menjadi tuan rumah kegiatan nasional. Bagi Raja Ampat, kehadiran ratusan peserta dari seluruh Indonesia menjadi momentum berharga untuk mempererat hubungan persaudaraan lintas wilayah dan memperkuat kerja sama dalam kehidupan bergereja maupun bermasyarakat.(lip)

Bagikan