Denpasar, 11 Oktober 2025 — Sekitar tiga ratus peserta lanjut usia memenuhi Bali Sunset Road Convention Centre, Sabtu sore (11/10), dalam suasana penuh warna dan sukacita. Dengan mengenakan seragam oranye khas Persekutuan Kaum Lanjut Usia (PKLU), para peserta dari berbagai wilayah Indonesia hadir mengikuti Ibadah Pembukaan Rangkaian HUT ke-15 PKLU Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB).

Rangkaian acara dibuka dengan tari Panyembrama, tarian penyambutan khas Bali, disusul fragmen simbolik “Pohon Kehidupan” yang dilukis bersama secara lintas generasi. Kehangatan persekutuan semakin terasa ketika paduan suara dan ansambel angklung dari GPIB Bukit Sion Balikpapan dan GPIB Ekklesia Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali mempersembahkan pujian, disertai penampilan virtual dari Paduan Suara PKLU se-Jabodetabek yang menambah semangat para lansia yang hadir.


Suasana ibadah terasa hidup melalui pelayanan firman oleh Pdt. Yandi Manobe, yang membawakan khotbah dengan gaya segar dan inspiratif, meneguhkan keyakinan bahwa usia lanjut bukanlah batas untuk bersinar dalam kasih Tuhan.

Ketua Panitia: “Lansia Adalah Pelita yang Memberi Terang Keikhlasan”
Dalam laporan dan sambutannya, Ketua Panitia, Pdt. Arien Theorina Tambunan – Sausele, S.Si-Teol, menyampaikan rasa syukur atas penyertaan Tuhan dalam proses panjang persiapan kegiatan selama enam bulan.

“Menjadi panitia HUT PKLU ke-15 merupakan karunia dan sukacita tersendiri bagi kami. Ini bukan hanya soal tanggung jawab sinodal, tetapi wujud cinta kasih kami kepada para Opa dan Oma yang menjadi tiang doa gereja,” ujarnya.
Ia juga mengungkap makna tema HUT tahun ini, “Lansia Bersinar dalam Kasih dan Iman, Menjadi Saksi Setia Antargenerasi,” sebagai bentuk penghargaan terhadap peran lansia sebagai penerang dan teladan hidup beriman.
“Rambut yang memutih bukan tanda usia, melainkan cahaya penyertaan Tuhan. Kulit yang mengeriput mencerminkan banyaknya pengalaman iman yang menjadi inspirasi bagi generasi muda,” tutur Pdt. Arien dalam sambutannya yang penuh makna.
Pdt. Arien pun tak lupa menyampaikan apresiasi kepada 105 anggota panitia, sebagian besar dari kalangan muda, yang bekerja lintas generasi.


“Kami percaya, melayani orang tua membuat setiap tanah yang kami pijak menjadi tanah yang diberkati,” ucapnya diiringi yel-yel semangat panitia: “Tetap tenang dan berdoa!”
Ketua Dewan PKLU: “Kami Bersyukur Lansia Tetap Antusias dan Setia”
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Dewan PKLU, dr. Tommy Halauwet, yang memperkenalkan seluruh jajaran pengurus sinodal periode 2021–2025. Ia menyampaikan terima kasih kepada Majelis Sinode GPIB serta panitia Mupel Bali–NTB atas dukungan dan kerja kerasnya.

“Kami tahu tantangan tidak ringan, tapi antusiasme para lansia yang datang dari berbagai daerah memberi semangat luar biasa bagi kami untuk terus melayani dengan kasih,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama meneriakkan yel-yel khas PKLU GPIB penuh semangat: “PKLU… Tetap Semangat…Pelayanan!….Segar dan Hijau” yang langsung disambut riuh oleh para peserta.
Majelis Sinode GPIB: “Usia Lanjut Bukan Akhir Pelayanan”

Mewakili Majelis Sinode XXI GPIB, Pdt. Marthen Leiwakabessy menyampaikan sambutan tertulis Ketua Umum Majelis Sinode, Pdt. Paulus Kariso Rumambi, yang menegaskan bahwa usia lanjut bukanlah akhir pelayanan, tetapi fase baru untuk bersinar dalam iman.
“PKLU menjadi ruang pelayanan kasih yang sangat bermakna, tempat para lansia saling menopang dan menguatkan iman di tengah tantangan hidup,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi dedikasi Dewan PKLU periode 2021–2025 serta dukungan Mupel Bali–NTB yang menjadi tuan rumah.
“Majelis Sinode berharap melalui momentum ini, kesaksian hidup para lansia menjadi berkat dan teladan iman bagi generasi muda,” ucapnya.
Pemerintah Provinsi Bali: “PKLU Sejalan dengan Nilai Menyamabraya”

Acara turut dihadiri dr. A.A. Sagung Mas Dwipayani, M.Kes, yang hadir mewakili Gubernur Bali Wayan Koster. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas kiprah PKLU yang dianggap sejalan dengan nilai-nilai luhur masyarakat Bali.
“Kehadiran PKLU-GPIB memperkuat semangat menyamabraya—bahwa kita semua bersaudara, tanpa batas usia, agama, atau latar belakang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kontribusi PKLU dalam membantu lansia terdampak banjir di Denpasar sebagai bentuk nyata pelayanan kasih lintas iman dan budaya.
“Kami menghaturkan terima kasih kepada GPIB yang telah memberi sentuhan kasih kepada masyarakat Bali. Semoga para lansia tetap bersinar dan menjadi penuntun bagi generasi muda,” tambahnya.

Sambutan diakhiri dengan pemukulan gong oleh dr. Dwipayani sebagai tanda resmi dimulainya seluruh rangkaian HUT ke-15 PKLU GPIB di Bali.

Usai ibadah, para peserta menikmati makan malam bersama, dilanjutkan Malam Keakraban yang dipandu oleh Soni Amho Mongan, Yola, dan Andi, diwarnai kuis, karaoke, dan berbagai hiburan penuh tawa. Acara ditutup tepat pukul 21.00 WITA dengan sukacita yang tetap terjaga.

Namun, rangkaian HUT PKLU belum berakhir. Kegiatan berlanjut hingga 14 Oktober 2025, termasuk Ibadah Syukur dan Perjamuan Kudus pada Minggu, 12 Oktober 2025 — sebuah puncak syukur yang menegaskan bahwa kasih Tuhan tetap nyata bagi setiap generasi.

Melalui HUT ke-15 ini, PKLU GPIB kembali menegaskan bahwa para lansia bukan sekadar penerima pelayanan, tetapi penyala kasih dan iman yang terus menerangi perjalanan gereja. Seperti pesan Pdt. Arien dalam sambutannya, “Lansia bukan lilin kecil yang hampir padam, melainkan pelita yang memberi terang keikhlasan di tengah pekatnya kegelapan.”

Selengkapnya dapat disaksikan di: https://youtube.com/live/SsR1P2MzJw8 (Kanal Youtube GPIB INDONESIA).

