Makassar, 25 Oktober 2025 — Menjelang Persidangan Sinode Raya (PSR) GPIB XXII yang akan digelar pada 27–31 Oktober 2025 di Hotel Claro Makassar, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) melaksanakan kegiatan penanaman pohon di Taman Macan, Makassar, sebagai bagian dari komitmen gereja terhadap pelestarian lingkungan dan keberlanjutan ciptaan Tuhan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, yang juga istri dari Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup DR. Helmy Budiman. Dari jajaran Majelis Sinode GPIB, hadir Sekretaris Umum Pdt. Elly D. Pitoy-de Bell, Ketua II Pdt. Manuel Essau Raintung, Ketua IV Pnt. Shirley Maureen van Houten-Sumangkut, dan Sekretaris I Pdt. Emmawati Yulia Rumampuk – Baulle, bersama Departemen Germasa dan BP Mupel GPIB Sulselbara.
Dalam kesempatannya, Melinda Aksa menyampaikan apresiasi pemerintah kota atas kepedulian GPIB terhadap lingkungan.



“Terima kasih banyak atas partisipasinya gereja dalam menghijaukan kota Makassar… kami sangat apresiasi.”
Kegiatan ini menandai kolaborasi nyata antara gereja dan pemerintah daerah dalam menghadirkan ruang hijau yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, Pdt. Salmon Bawole, Ketua II BP Mupel Sulselbara, menjelaskan alasan pemilihan jenis pohon yang ditanam dalam kegiatan tersebut.
“Pohon tabebuya itu memberi warna seperti sakura, akarnya tunggal, dan menyerap karbon.”

Ia menambahkan bahwa pohon tabebuya dipilih karena mampu memperindah kota dengan bunganya yang berwarna-warni sekaligus berfungsi menjaga kestabilan lingkungan. Dengan akar tunggal yang tidak merusak struktur tanah dan kemampuannya menyerap karbon, pohon ini menjadi simbol keseimbangan antara keindahan dan keberlanjutan.
Dalam sambutannya, Pdt. Manuel Essau Raintung, Ketua II Majelis Sinode GPIB bidang Germasa dan Lingkungan Hidup, menegaskan bahwa aksi menanam pohon ini merupakan bagian dari panggilan gereja untuk ikut menjaga kelestarian bumi sebagai ciptaan Tuhan.

“Kami dari Majelis Sinode Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat, GPIB, hadir di sini merupakan satu kesempatan yang indah dan istimewa untuk bersama-sama musyawarah pelayanan GPIB Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat untuk mendukung program dalam rangka kami menjaga lingkungan, merawat kelestarian alam, mencintai bumi, dan kami selalu berada dalam keberpihakan untuk berkeadilan dengan alam ciptaan Tuhan.”
Pdt. Raintung menambahkan bahwa GPIB telah melakukan kegiatan serupa di berbagai daerah di Indonesia — mulai dari Langkat, Sumatera Utara, hingga Kalimantan Timur dan sejumlah kota lain. Ia juga menyampaikan bahwa upaya ini mendapat perhatian dari Kementerian Agama Republik Indonesia, yang menilai GPIB sebagai salah satu gereja yang aktif dalam gerakan cinta alam dan pelestarian lingkungan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa GPIB telah menetapkan diri sebagai gereja ramah lingkungan (eco-church) sejak peringatan HUT ke-75 GPIB di Padang.
“GPIB mencanangkan diri sebagai gereja ramah lingkungan pada hari ulang tahun ke-75 di Kota Padang.”

Deklarasi tersebut menjadi tonggak penting bagi GPIB dalam menghidupi panggilan iman untuk berkeadilan dengan alam ciptaan Tuhan serta menumbuhkan kesadaran ekologis di setiap jemaat.

Usai kegiatan penanaman pohon, rombongan Majelis Sinode dan BP Mupel melanjutkan rangkaian kegiatan pra-PSR dengan kunjungan ke Masjid Kubah 99 Asmaul Husna, Vihara, serta menghadiri Perkenalan Institut W.J. Rumambi dan Bedah Buku di STFT Indonesia Timur (INTIM) Makassar.

