Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Berita Radio – Jumat, 9…
  2. Di Tengah Dinamika GPIB, Tuhan…
  3. GPIB Hadirkan Tiga Rumah Oksigen…
  4. Lansia Ceria, Lansia Bertemu Tiap…
  5. Menjemaatkan Dokumen Keesaan…
  6. Lansia Harus Tetap Sehat dan…
  7. Tim MS XXII GPIB Periksa…
  8. Semarak HUT ke-78 GPIB dan…
  9. 75 Pendonor Berbagi Kehidupan bagi…
  10. Menembus Batas Pelayanan,…
  11. Night Call GPIB | Jumat…
  12. Ibadah Syukur Agung HUT ke…
Sinode

Selamat Jalan Pengawas Penuh Inisiatif

BUTUH dua bulan setelah kejadian, untuk meyakinkan diri menulis ini. Artikel Mendampingi Istri Hingga Akhir https://gpib.or.id/mendampingi-istri-hingga-akhir/, mendorong Pengurus Pusat […]

Selamat Jalan Pengawas Penuh Inisiatif

BUTUH dua bulan setelah kejadian, untuk meyakinkan diri menulis ini. Artikel Mendampingi Istri Hingga Akhir https://gpib.or.id/mendampingi-istri-hingga-akhir/, mendorong Pengurus Pusat Yapendik GPIB untuk mengenang kebaikan almarhumah Pdt. Sintiche Dethan, pada sekitar sebulan sebelum kepergiannya.

Tanggal 22 Februari 2020, atau beberapa hari
sebelum Persidangan Sinode Tahunan di Bogor, Yapendik GPIB mengadakan acara
rutin Rapat Tahunan Pembina di Jakarta. Belum ada konfirmasi positif pasien
Covid-19 dari pemerintah, apalagi PSBB. Kegiatan itu dihadiri hampir seluruh
Pengawas Cabang, atau Ketua Majelis Jemaat, yang mengurus sekolah Yapendik
GPIB. Salah satunya, almarhumah Pdt. Sintiche Dethan, pengawas cabang Bahtera
Hayat Batam, Kepulauan Riau.

Pada Sabtu pagi itu, sudah terbayang betapa
sibuknya Rapat Tahunan Pembina, karena salah satu staf kantor Yapendik GPIB
menjalani cuti urusan keluarga. Artinya, staf tersisa akan merangkap sebagai
keyboardis ibadah, dan kerja sekretariat kemungkinan menumpuk.

Namun, kekuatiran itu sirna. Tak disangka,
tanpa diminta oleh siapa pun, seorang penolong datang. Almarhumah Pdt. Sintiche
menghampiri pengurus dan menawarkan diri siap menjadi keyboardis. Sebuah
inisiatif yang tak terbayang sebelumnya.

Saya sempat ingin meniadakan iringan
keyboard, agar tak membebani satu staf yang ada. Sempat juga ingin meminta
tolong pengurus atau pengawas (para pendeta) yang hadir, tetapi tidak tahu
siapa. Kalau pun ada, permintaan itu pun akan dipikirkan berulang kali karena
rasa sungkan.

Namun, seorang pendeta langsung datang ke area
keyboard, dan menyatakan bisa mengiringi ibadah pembukaan serta penutupan.
Kekaguman dan rasa hormat langsung tumbuh, menambah kesan menyenangkan di awal
perkenalan.

“Saya minta tata ibadahnya ya,” pinta
mendiang Pdt. Sintiche.

Karena kesulitan menempatkan buku lagu di
hadapannya, almarhumah juga sempat meminta penjepit kertas. Hanya tata ibadah
dan penjepit kertas yang dimintanya. Tidak ada yang lain. Sekitar 1 jam
kemudian, saya baru bisa memberikan penjepit tersebut. “Tidak apa-apa, saya
sudah pakai jepit bolpen dulu,” katanya sambil tersenyum.

Hanya sempat sekali latihan, menyesuaikan
dengan tata ibadah di layar, saya terpaksa meninggalkan almarhumah sendiri di
ruang rapat. Untuk mengisi kekosongan sebelum dimulainya acara, Pdt. Sintiche
berinisiatif memainkan lagu-lagu rohani sendiri untuk meramaikan suasana,
kembali, tanpa diminta oleh siapa pun.

Ibadah pembukaan berjalan lancar dan kegiatan
rapat pun dimulai. Saya duduk bersebelahan dengannya, dengan 1-2 kursi kosong
di antara kami. Bukan untuk menjaga jarak sebenarnya. Karena belum ada imbauan
apa pun terkait virus, yang saat itu masih disebut Virus Corona Baru atau Virus
Wuhan.

Di sela-sela rapat, saya ingat kami
berinteraksi. Saat itu saya baru tahu nama panggilannya, Pdt. Ike, dan meminta
langsung menulis nama lengkapnya, agar tak salah dalam ucapan terima kasih.
Almarhumah juga bertanya beberapa hal tentang Pengurus Pusat. “Bagus Yapendik
punya pengurus muda,” pujinya. Saya menyampaikan, semoga keragaman pengurus
tetap berlangsung saat pengurus baru 2020-2025 nanti. “Seharusnya GPIB mulai
memberi kesempatan ke orang muda,” harapnya.

Di sela-sela presentasi para pengurus cabang,
Pdt. Sintiche terlihat antusias mendengarkan. Sesekali almarhumah menganggukkan
kepala, menulis hal-hal penting, dan terdengar samar memuji, saat pengurus lain
menyampaikan prestasi tertentu.

Almarhumah juga bercerita ingin menghadiri
Ibadah Hari Minggu 23 Februari 2020 di GPIB Paulus Jakarta. “KMJ-nya (Pdt.
Widyati Simangunsong-Sudarisman) teman saya,” ceritanya. Keinginan yang
akhirnya bisa dipenuhi karena keesokan hari, hampir seluruh peserta rapat
sepakat mengikuti IHM di GPIB Paulus.

Kembali ke ruang rapat, sekitar 9 jam
berlangsung, panitia memutuskan untuk menutupnya malam itu juga. Kesibukan
dimulai lagi karena tata ibadah penutupan harus dimodifikasi. Pemberita firman
ibadah penutupan harus segera dipastikan hadir, dan mengubah materi khotbah
yang disiapkan.

Sementara keyboardis Pdt. Sintiche harus
berlatih dengan lagu-lagu. Saya meminta maaf berkali-kali karena banyak mata
acara dadakan. Tata ibadah pun harus dipersingkat semaksimal mungkin, karena
hari sudah larut malam. Saat orang lain biasanya akan menambah kepanikan,
mempertanyakan ini-itu, menghakimi kenapa tidak disiapkan sebelumnya;
almarhumah justru hadir menenangkan.

“Tidak masalah. Saya ikuti saja apa pun yang
ditampilkan di layar tata ibadah,” tuturnya.

Tanpa berlatih lama, mendiang Pdt. Ike
menolong kami sekali lagi. Beberapa orang termasuk Pemberita Firman ibadah
pembukaan Pdt. J. Marlene Joseph, dan staf Yapendik GPIB Eveline memuji
kepiawaiannya mengiringi ibadah, dengan pilihan alunan bas yang enak diikuti.

Sekali lagi, mendiang Pdt. Sintiche 
hadir menenangkan dan menjadi jawaban atas problem, bahkan memperindah ibadah
dengan iringan keyboard-nya.

Malam itu berakhir dan kami berpamitan, saya
sekaligus menghaturkan banyak terima kasih atas inisiatifnya melayani sebagai
keyboardis. Keesokan harinya, almarhumah sempat lewat di depan kursi saya di
balkon GPIB Paulus.

Saat PST, saya tidak banyak berinteraksi dengan
almarhumah. Sempat mengirim foto saja saat mendiang Pdt. Sintiche di-shoot
kamera sebagai pimpinan sidang. Saya kirim foto tersebut juga kepada Pengurus
Pusat, dengan caption kebanggaan 2 Pengawas ditunjuk menjadi majelis ketua PST:
almarhumah dan Pengawas Sion Nunukan Pdt. Dian Otemusu.

Saat hari terakhir PST, Sabtu 29 Februari
2020, kami sempat berpapasan sambil saling melempar senyum di lorong hotel. Ibu
Pdt. Sintiche berjalan sambil menelepon, dan itulah rupanya hari terakhir kami
berjumpa.

Selanjutnya kabar sedih terdengar mulai dari
konfirmasi status, pemakaian ventilator, sampai kepergiannya. Saat Pdt.
Sintiche dipastikan berpulang ke Rumah Bapa di Sorga, saya tidak bisa tidur.
Bukan sekadar karena rasa duka tetapi karena tekanan akibat pertanyaan dari
sesama pelayan, yang belakangan rupanya menimbulkan gangguan psikosomatis.
Bagian itu akan diuraikan di tulisan lain.

Semoga harapan almarhumah tentang peran generasi muda dapat terwujud di GPIB. Selain itu, sikapnya yang penuh inisiatif, rela membantu, dan memberi ketenangan, dapat terus diteladani. Selamat jalan Pengawas Cabang Bahtera Hayat Batam 2018-2020, Pdt. Sintiche Dethan.​ /fsp

Penulis: Sekretaris 1 Yapendik GPIB Marlene Karamoy

http://yapendikgpib.or.id/selamat-jalan-pengawas-penuh-inisiatif/
Bagikan