Skip to content
GPIB Indonesia

GPIB Indonesia

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Primary Menu
  • Tentang GPIB
    • Visi dan Misi
    • Pemahaman Iman
    • Majelis Sinode GPIB
    • Presbiterial Sinodal
    • PKUPPG
  • DIREKTORI
    • Departemen
    • Yayasan
      • YAPENDIK
      • YAYASAN DIAKONIA
      • YAYASAN KESEHATAN
  • Berita & Artikel
    • SINODE
    • Kegiatan
      • M I S I O N E R
      • D I A K O N I A
    • Kegiatan PELKAT
      • PELKAT PA
      • PELKAT PT
      • PELKAT GP
      • PELKAT PKP
      • PELKAT PKB
      • PELKAT LANSIA
    • P E R S P E K T I F
      • I N S P I R A S I
      • Sosok
  • Sabda Digital
  • Radio GPIB
  • Hubungi Kami
  • Home
  • Perspektif
  • OPINI : Gereja yang Dianggap Diam
  • Featured
  • Perspektif

OPINI : Gereja yang Dianggap Diam

GPIB June 4, 2026 6 minutes read
WhatsApp Image 2026-06-04 at 09.52.22

Gereja/ilustrasi AI

Oleh: Jeirry Sumampow

Ketua 1 Departemen Germasa-LH & Pendeta Non-Organik GPIB

–Refleksi tentang Sebuah Pertanyaan yang Tak Pernah Lelah Ditanyakan–

Dalam dua kegiatan terakhir, saya kembali mendengar pertanyaan yang sesungguhnya tidak baru.

Pertanyaan itu muncul dalam Pendidikan Oikoumene Kebangsaan (POK) yang dilaksanakan Departemen Germasa-LH GPIB di Wisma GPIB di Jakarta. Pertanyaan yang sama juga muncul dalam forum Rumambi Memorial Lecture yang dilaksanakan oleh Institut W.J. Rumambi di GPIB Maranatha Surabaya. Dan sejujurnya, saya sudah cukup sering mendengarnya di berbagai forum lain.

Pertanyaannya sederhana. Kira-kira begini: “Mengapa gereja tidak pernah merespons atau bersikap terhadap persoalan sosial, kemasyarakatan, dan kebangsaan?” “Mengapa gereja selalu diam?” “Mengapa gereja tidak bersikap?”

Awalnya saya menganggapnya sebagai pertanyaan biasa. Tetapi karena ia terus berulang, saya mulai berpikir bahwa mungkin pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan. Ia adalah gejala. Ia adalah cermin. Ia adalah suara yang datang dari suatu kekecewaan yang sudah lama dipendam. Atau ia juga adalah suara yang datang dari sebuah kerinduan tentang gereja.

Dan semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa yang menarik agaknya bukanlah jawabannya. Yang menarik justru adalah kenyataan bahwa pertanyaan itu terus hidup, terus muncul dan terus ditanyakan.

Sebab jika suatu pertanyaan terus berulang ditanyakan selama bertahun-tahun, biasanya bukan karena orang tidak tahu jawabannya. Melainkan karena jawaban yang diberikan selama ini mungkin belum cukup meyakinkan, belum cukup memuaskan.

Untuk merespon kegelisahan itu, ada beberapa hal yang penting untuk dikemukakan dan direfleksikan bersama, yakni;

  1. Tentu saja kita (baca: gereja) dapat segera membela diri.

Bukankah gereja sudah mengeluarkan berbagai pernyataan?

Bukankah gereja sudah mengeluarkan berbagai seruan pastoral?

Bukankah gereja sudah melakukan banyak kegiatan sosial di masyarakat?

Bukankah gereja sudah banyak berbicara dan bersikap tentang korupsi, demokrasi, kemiskinan, kebinekaan, lingkungan hidup, dan berbagai isu kebangsaan lainnya?

Benar! Tentu, semua itu benar.

Tetapi, konon, ada sebuah prinsip sederhana dalam komunikasi: “Jika seseorang terus mengatakan bahwa ia tidak mendengar Anda, mungkin persoalannya bukan pada pendengar, melainkan pada cara Anda berbicara.”

Di sinilah ironi itu muncul.

Gereja merasa sudah bersuara. Jemaat merasa gereja diam.

Gereja merasa sudah hadir. Masyarakat merasa gereja tidak ada.

Gereja merasa sudah bekerja. Publik merasa gereja hanya sibuk dengan dirinya sendiri.

Lalu, siapa yang salah?

Mungkin tidak ada. Atau mungkin kita semua salah.

2.Ada sebuah kecenderungan yang menarik dalam kehidupan gereja.

Kita sangat rajin membicarakan gereja.

Kita membicarakan ibadah gereja.

Kita membicarakan program gereja.

Kita membicarakan struktur gereja.

Kita membicarakan anggaran gereja.

Kita membicarakan gedung gereja.

Kita membicarakan tata gereja.

Kita membicarakan jabatan gereja.

Dll, dst.

Kadang-kadang saya berpikir, jangan-jangan satu-satunya hal yang lebih sering dibicarakan gereja daripada Tuhan adalah gereja itu sendiri.

Kita begitu sibuk menjaga “Rumah Tuhan”, sehingga lupa bahwa Tuhan sering ditemukan sedang berjalan di luar rumah itu.

Ia ditemukan di tengah orang miskin.

Ia ditemukan di tengah korban ketidakadilan.

Ia ditemukan di tengah mereka yang kehilangan pekerjaan.

Ia ditemukan di tengah masyarakat yang frustrasi melihat hukum diperjualbelikan.

Ia ditemukan di tengah generasi muda yang kehilangan harapan terhadap politik.

Ironisnya, ketika Tuhan sedang berjalan di jalanan sejarah yang nyata, gereja justru masih sibuk menyusun agenda rapat berikutnya.

3.Dalam sejarah gereja, ada warisan pemikiran yang tanpa sadar masih hidup hingga hari ini. Bahwa semakin rohani seseorang, semakin jauh ia dari urusan dunia.

Akibatnya muncul pemisahan yang aneh.

Doa dianggap rohani. Keadilan dianggap duniawi.

Ibadah dianggap suci. Demokrasi dianggap urusan politik.

Liturgi dianggap penting. Kemiskinan dianggap urusan pemerintah.

Padahal para nabi dalam Alkitab tidak pernah mengenal pemisahan semacam itu.

Mereka berbicara tentang Tuhan sekaligus berbicara tentang ketidakadilan.

Mereka berbicara tentang ibadah sekaligus berbicara tentang penindasan.

Mereka berbicara tentang surga sambil mengkritik kekuasaan di bumi.

Karena itu barangkali persoalan terbesar gereja modern bukan karena kehilangan iman. Tetapi, barangkali justru karena terlalu sering mengurung iman di tempat yang aman dan nyaman.

4.Salah satu kata yang paling sering dipakai ketika gereja berhadapan dengan persoalan publik adalah “netral”.

Kata itu terdengar mulia. Tetapi sejarah mengajarkan bahwa netralitas sering kali merupakan:

Nama lain dari kenyamanan.

Nama lain dari ketidakberanian.

Nama lain dari kebingungan.

Nama lain dari ketidakberdayaan.

Ketika korupsi merajalela, gereja netral.

Ketika demokrasi melemah, gereja netral.

Ketika lingkungan rusak, gereja netral.

Ketika ketidakadilan merajalela, gereja netral.

Kita lupa bahwa dalam banyak situasi, netralitas sebenarnya adalah berpihak kepada keadaan yang sedang berlangsung.

Dalam hal ini, diam bukan selalu tanda kebijaksanaan.

Kadang-kadang diam hanyalah suara ketakutan yang kehilangan keberanian.

Sebab, dalam tradisi para nabi, diam bukanlah pilihan ketika martabat manusia sedang diinjak-injak.

5.Ada juga hal lain yang sering disalahpahami.

Ketika jemaat bertanya mengapa gereja diam, mereka tidak sedang meminta gereja menjadi partai politik. Mereka tidak sedang meminta mimbar gereja berubah menjadi panggung kampanye politik.

Yang mereka rindukan sebetulnya sederhana.

Mereka ingin mendengar suara moral gereja.

Mereka ingin melihat keberanian gereja.

Mereka ingin merasakan bahwa gereja masih memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada dunia yang sedang terluka.

Mereka ingin tahu bahwa gereja tidak hanya peduli pada keselamatan setelah kematian, tetapi juga pada kehidupan nyata sebelum kematian.

Karena sebagian besar jemaat tidak hidup di surga.

Mereka hidup di bumi: Indonesia.

Mereka hidup di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik.

Mereka hidup di tengah banjir informasi palsu.

Mereka hidup di tengah nilai tukar rupiah yang tidak stabil.

Mereka hidup di tengah ketidakpastian ekonomi.

Mereka hidup di tengah demokrasi yang terus tergerus.

Mereka hidup di tengah diskriminasi, pelarangan beribadah, persekusi dan tekanan politik lainnya.

Dan mereka bertanya: “Apa yang hendak dikatakan gereja tentang semua ini?”

6.Semakin lama saya memikirkan pertanyaan itu, semakin saya yakin bahwa itu bukan pertanyaan yang lahir dari kebencian terhadap gereja. Justru sebaliknya. Pertanyaan itu lahir karena orang masih berharap; berharap terhadap gereja.

Sebab, bukankah tidak ada yang bertanya kepada institusi yang sudah dianggap tidak penting lagi? Orang hanya bertanya kepada mereka yang masih diharapkan memberi jawaban.

Karena itu, ketika umat bertanya mengapa gereja diam, sesungguhnya mereka sedang berkata: “Kami masih percaya bahwa gereja memiliki sesuatu untuk dikatakan.”

Ketika jemaat bertanya mengapa gereja tidak bersikap, sesungguhnya mereka sedang berkata: “Kami masih berharap gereja memiliki keberanian.”

Dan ketika pertanyaan itu terus berulang dari satu forum ke forum lainnya, mungkin Roh Kudus sedang mengetuk pintu kesadaran gereja melalui suara umat-Nya sendiri.

7.Pada akhirnya, tantangan gereja bukanlah bagaimana menjadi lebih besar.

Bukan bagaimana menjadi lebih kaya.

Bukan bagaimana menjadi lebih ramai.

Bukan pula bagaimana menjadi lebih berpengaruh.

Tantangan terbesar gereja adalah menjadi gereja itu sendiri.

Menjadi komunitas yang berani mengatakan benar ketika yang benar harus dikatakan benar.

Berani mengatakan salah ketika yang salah harus dikatakan salah.

Berani berdiri di samping mereka yang lemah ketika banyak orang memilih berdiri di dekat mereka yang kuat.

Sebab sejarah tidak selalu mengingat gereja karena kemegahan gedungnya. Sejarah kadang mengingat gereja karena keberanian moralnya.

Dan mungkin, di tengah zaman yang semakin bising oleh propaganda, kepentingan, dan perebutan kuasa, bangsa ini tidak sedang membutuhkan gereja yang lebih suka berbicara tentang dirinya sendiri. Bangsa ini sedang menunggu gereja yang berani untuk berbicara dan bersikap tentang kebenaran dan keadilan.

Karena, sejatinya gereja kehilangan dirinya bukan ketika ia miskin, kecil, atau lemah.

Gereja kehilangan dirinya ketika ia tidak lagi memiliki keberanian untuk menjadi suara hati nurani publik bagi zamannya.

Dan ketika itu terjadi, yang terdengar bukan lagi suara kenabian. Melainkan keheningan yang panjang –terlalu panjang– hingga umat mulai bertanya: “Apakah gereja masih ada di sini?”

About the Author

GPIB

Administrator

GPIB

Visit Website View All Posts

Tinggalkan Komentar / Pesan Anda disini

Post navigation

Previous: Pemetaan Kerusakan Lingkungan Hidup Germasa

Related Stories

WhatsApp Image 2026-06-01 at 11.21.57
  • Featured
  • GERMASA
  • Kegiatan
  • Pesan-Pesan
  • SINODE

Pemetaan Kerusakan Lingkungan Hidup Germasa

GPIB June 1, 2026
K1
  • Featured
  • PELKES
  • SINODE
  • Slide

Program Bincang Pendeta untuk Beri Semangat di Pos Pelkes

GPIB May 11, 2026
DSC06283
  • Featured
  • SINODE
  • Slide

Pdt.Ebser: “Jangan Takut, Tuhan Sertai Pelayanan Kita!”

GPIB May 10, 2026

Kategori Artikel

  • DIAKONIA
  • Featured
    • Slide
  • INFO VIKARIS
  • Kegiatan
    • DIAKONIA
    • Misioner
      • GERMASA
  • Kegiatan PELKAT
    • PELKAT GP
    • PELKAT PA
    • PELKAT PKB
    • PELKAT PKP
    • PELKAT PT
    • PLEKAT LANSIA
  • PELEMBAGAAN
  • PELKES
  • Perspektif
    • Arcus
    • Inspirasi
    • Sosok
  • SINODE
    • Agenda
    • Pesan-Pesan
    • PSR XXII
  • STIKES
    • YAYASAN
      • YANKES

Hubungi Kami

Majelis Sinode GPIB
Jl. Merdeka Timur. No.10
Gambir, Kota Jakarta Pusat
Jakarta, Indonesia
P: (021) 384 2895
P: (021) 384 9917
F: (021) 385 9250
E: admin@gpib.or.id

Direktori

  • Yayasan
  • Departemen
  • Musyawarah Pelayanan
Copyright © GPIB Indonesia | MoreNews by AF themes.