Pemuda GPIB Diajak Merawat Demokrasi Indonesia
GPIB, Jakarta – Seminar Gereja Ramah Demokrasi (GRD) yang dilakukan Departemen Pelayanan Kemasyarakatan (Germasa) GPIB yang diselenggarakan pada Sabtu (11/7) pagi di GPIB “Pasar Minggu” diikuti ratusan anggota gerakan pemuda berjalan antusias.
Secara khusus kegiatan yang ditujukan bagi kaum muda itu untuk menjawab satu pertanyaan besar: bagaimana caranya pemuda gereja bisa benarbenar terlibat, bukan sekadar menonton, dalam menjaga demokrasi Indonesia dengan narasumber Pdt. Jeirry Sumampouw, Pdt. Cindy van Munster dan Dr. Hurriyah Direktur Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia.
Dalam sambutan pembukaan Ketua II MS GPIB XXII Pdt.Semuel Karinda menyampaikan tiga pesan bagi kaum muda, yakni menjaga pola pikir, yaitu berpikir jernih dan terbuka, tidak mudah terprovokasi, tidak asal percaya pada informasi yang belum tentu benar.
“Lalu yang kedua menjaga nurani, yakni menjadikan hati nurani sebagai kompas moral dalam bersikap dan mengambil keputusan, termasuk dalam urusan berbangsa dan bernegara. Dan ketiga, menjaga harapan, yaitu agar pemuda tetap percaya bahwa demokrasi yang sehat dan bermartabat masih mungkin diwujudkan, dan itu bisa dimulai dari langkah kecil di gereja sendiri,” kata Pdt.Semuel.

Dalam pemaparannya Dr. Hurriyah yang adalah Direktur Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia, yang membuka materi dengan kata “protes boleh, asal damai” atau “kritik harus disertai solusi”. Menurutnya, kalimat-kalimat semacam itu diam-diam bisa menjadi alat untuk membungkam suara kritis warga.
“Demokrasi bukan soal siapa yang paling sopan, melainkan soal keadilan, partisipasi, dan kontrol terhadap kekuasaan. Dan sebagai pemuda kita diajak membangun literasi politik yang kritis, berani bersuara, namun dengan cara berpikir yang jernih — tidak mudah tunduk pada narasi yang tampak baik di permukaan, tapi sebenarnya membatasi ruang partisipasi warga,” katanya.
Narasumber Pdt. Cindy van Munster yang adalah Ketua Majelis Jemaat GPIB Pancoran Rahmat Depok, membawa peserta menyelami Alkitab untuk melihat demokrasi dari kacamata iman. Lewat kisah bangsa Israel yang meminta seorang raja dalam 1 Samuel 8, ia mengingatkan bahwa suara rakyat itu penting di mata Tuhan, namun juga membawa tanggung jawab besar.
“Kisah Yesus dan Barabas misalnya sebagai pengingat bahwa suara terbanyak tidak selalu berarti suara yang benar. Gereja, tegasnya, dipanggil untuk tidak diam dan tidak netral terhadap ketidakadilan — sebab nurani yang terjaga akan menuntun pada sikap dan pilihan yang benar,” ujar Pdt.Cindy.
Dan pemateri ketiga Pdt. Jeirry Sumampow yang juga pengamat politik sekaligus Ketua I Departemen Germasa-LH GPIB, menyampaikan pengalaman panjangnya di dunia kepemiluan dan advokasi warga. Ia mengajak pemuda GPIB melihat politik bukan sebagai sesuatu yang kotor dan harus dijauhi, melainkan sebagai ruang pelayanan dan kesaksian iman.
“Pendidikan politik sejak dini bagi warga gereja serta perlunya membangun budaya berdemokrasi yang beretika dan berintegritas. Jadi, pemuda GPIB bukan hanya penonton, melainkan bisa menjadi agenda strategis dan agen perubahan nyata dalam kehidupan berbangsa — asalkan harapan itu terus dipelihara dan diwujudkan lewat langkah-langkah konkret,” ujarnya.
Antusias Peserta
Panitia cukup terkejut dengan antusias peserta kaum muda yang hadir dalam seminar tersebut. Tercatat peserta mencapai 95% dari total undangan, yakni 85 pemuda hadir, mewakili 85 jemaat GPIB. dan menurut keterangan panitia kegiatan yang diselenggarakan Germasa menjadi menarik bagi kaum muda GPIB dengan dipandu oleh Mellsya Anatasya yang membuat suassana menjadi lebih hangat, lincah mulai acara dimulai hingga selesai.

Kegiatan diawali dengan ibadah pembuka oleh Pdt. David Hukom, dilanjutkan sambutan oleh Penatua Rudy Kussoy, Ketua II PHMJ GPIB Pasar Minggu yang merasa bangga dan syukur atas kegiatan seminar tersebut dan menyambut 85 pemuda dari berbagai jemaat.
Sementara itu menurut panitia penyelenggara Penatua Eddy Rudiyanto bersyukur untuk banyaknya peserta dan antusias yang muncul.
Ketua Departemen Germasa GPIB, Dkn. Deny Tewu menegaskan bahwa seminar ini lahir dari kegelisahan sekaligus harapan Germasa agar pemuda gereja tidak apatis terhadap isu demokrasi dan kebangsaan.
“Saya mengapresiasi atas antusiasme luar biasa dari gerakan pemuda yang hadir dan berharap semangat ini terus berlanjut jauh melampaui satu hari seminar,” katanya.
Seminar yang berjalan lebih dari tiga jam itu ditutup dengan mengajak setiap peserta menuliskan harapannya untuk demokrasi di lingkup gereja di secarik sticky notes berwarna-warni, lalu menempelkannya bersama-sama di atas kertas karton hitam.
Peserta kemudian satu per satu menempelkan kertas dan membentuk kumpulan harapan dari 85 pemuda yang mewakili 85 jemaat GPIB yang menjadi gambaran sederhana bahwa merawat demokrasi bukan tugas satu orang, melainkan kerja bersama.(den/lip)
