Oleh : Pdt. Boydo Rajiv Hutagalung
Tanggal 2-4 Oktober 2025 yang lalu, Departemen PPSDI-PPK GPIB mengadakan Pembinaan Pra-emeritasi Pendeta (P3) GPIB, bertempat di Hotel Tara, Yogyakarta. Latar belakang diadakannya P3 ini adalah untuk mendukung kesiapan mental, spiritual, sosial, kesehatan, dan finansial dalam menyongsong masa emeritasi (purnabakti/pensiun pendeta). Adapun tema utama dalam P3 tersebut adalah “Hidup Yang Terus Berubah Namun Tetap Berbuah”.Pembinaan ini diikuti oleh 43 orang peserta, di mana sebagian besar merupakan Pendeta, dan beberapa ada pula yang merupakan pasangan (suami/istri) pendeta.
P3 berlangsung dengan dua model kegiatan. Pertama secara daring melalui aplikasi Zoom Workplace, yang diadakan pada 22, 25, dan 26 September 2025. Topik pembinaan daring pertama (22/9) ialah, “Tetap Menabur di Senja Hari”, yang membahas bagaimana mengelola perubahan identitas diri sebelum dan sesudah memasuki masa pensiun dalam terang pemahaman iman Kristen. Narabina yang menyampaikan materi dari perspektif teologis adalah Pdt. Em. Robby I.G. Chandra, M.A., M.Th., D,Min.,yang juga sudah berpengalaman menjalani masa emeritasinya.. Topik kedua (25/9) ialah “Menjadi Pribadi Sehat, Menjadi Berkat”, yang membahas bagaimana saran-saran untuk menjaga kesehatan fisik di usia lanjut serta mencegah dan mengelola penyakit degeneratif. Narabina yang menyampaikan materi dari perspektif kesehatan atau medis ialah dr. Silvia F. Situmorang – Lumempouw, SpN, Sub.Sp.NGD(K), FAAN. Kemudian yang terakhir untuk sesi pembinaan daring memiliki topik, “Post-Power Syndrom”, yang membahas tentang bagaimana menjaga vitalitas mental di usia lanjut. Narabina yang menyampaikan materi dari perspektif psikologi ialah Dr. Herta Napitupulu, MM., Psikolog.
Kegiatan P3 juga berlangsung secara luring, di Hotel Tara, Yogyakarta, mulai tanggal 2-4 Oktober 2025. Tim Kerja bekerja sama dengan Tim Dekorasi GPIB Marga Mulya menyiapkan dekorasi khusus untuk menciptakan suasana yang mendukung rangkaian acara. Di sebelah kanan panggung, terdapat Salib dengan hiasan kain berwarna jingga, yang memberikan pesan warna pelayanan kategorial Lansia (PKLU) di GPIB, sebab para peserta pembinaan sudah memasuki jenjang Lansia. Warna jingga tersebut juga menyimbolkan senja, di mana hendak dimaknai usia senja sebagai anugerah yang harus disyukuri, sebab tak semua orang atau pendeta bisa mencapainya atau memasukinya, khususnya dengan track record pelayanan yang baik. Dekorasi paduan hiasan dedaunan hijau dan bunga, mencerminkan semangat bertumbuh tetap ada. Didampingi dengan dedaunan kering berwarna coklat keemasan, mencerminkan situasi penuaan, kerapuhan, namun tetap merupakan mahkota kemuliaan untuk bisa menyongsong usia 65 tahun (usia pensiun di GPIB). Kreasi dekorasi tersebut hendak mengajak peserta memaknai Kristus tetap berkarunia meskipun para peserta kini dan ke depan akan ada di fase usia senja. Salib Kristus tetaplah anugerah dan sumber kekuatan di usia senja dan memasuki masa pensiun/emeritus. Tuhan tetap memelihara dan tidak akan pernah meninggalkan hamba-hambaNya untuk selamanya. (Bdk.Mazmur 37:25).
Ibadah Pembukaan dilaksanakan pada pagi hari, 2 Oktober 2025, dilayani oleh Pdt. Jimmy Sormin, M.A., selaku Ketua Majelis Jemaat GPIB Marga Mulya. Dalam khotbahnya Pdt. J. Sormin mengajak para peserta yang adalah senior dalam pengalaman pelayanan berjemaat untuk bersyukur atas anugerah perjalanan pelayanan selama ini. Meskipun beberapa tahun lagi akan memasuki emeritasi, Pdt. J. Sormin memotivasi para peserta untuk terus berkarya dalam bentuk-bentuk baru, terutama sebagai mentor dan penasihat bagi para pendeta-pendeta muda.

Sesi pertama dalam pembinaan luring tersebut berjudul, “Bukan Banyaknya, Tapi Bijaknya”. Materi ini disampaikan oleh dua narabina sekaligus, yaitu Bpk Agustinus Patty, S.E dan Ibu Ir. Shanti Koe, M.M. Keduanya sama-sama melayani di Dana Pensiun GPIB. Dalam pemaparannya, para narabina menguraikan apa saja manfaat pensiun yang diterima oleh peserta ketika memasuki masa pensiun. Tak hanya itu, para narabina memperkenalkan sekilas tentang investasi saham, sebagai salah satu alternatif sumber finansial di masa emeritus. Tentunya bagi yang berminat, perlu mendapatkan pembelajaran lebih lanjut.
Menjelang siang hari, para peserta menaiki bus menuju ke lokasi pembinaan lainnya, yaitu ke Lembaga Pembinaan dan Pengaderan Sinode (LPPS) GKJ dan GKI, di Samirono, Yogyakarta. Topik pada sesi ini ialah, “Kekuatan Dalam Perjalanan Bersama”. Topik ini mengharapkan para peserta dapat menemukan inspirasi dari bagaimana GKJ dan GKI berkolaborasi dalam mengadakan pusat pembinaan yang ternyata melibatkan para pendeta emeritus sebagai kontributor penulis renungan, bahan pemahaman Alkitab, kajian teologis dan praktis, serta penulis materi/modul-modul pembinaan. Hasil-hasilnya dibukukan dengan bahasa yang ringan agar dapat terjangkau oleh jemaat dan publik secara umum. Materi yang disampaikan oleh Pdt. Em. Eko Darsono, selaku mantan Direktur LPPS, memantik inspirasi bagi para pra emeritus pendeta untuk berkolaborasi baik sesama pendeta emeritus atau bahkan jika memungkinkan didukung oleh Sinode GPIB.

Perjalanan belajar dilanjutkan ke lokasi lain. Kembali menaiki bis menuju ke Racikan Resto. Kali ini, dengan topik, “Kisah Mereka Yang Tetap Berkarya”, para peserta menggali inspirasi dari sosok pasangan suami istri pengusaha sukses, yaitu Ibu Martha dan Pak Wahyu Saronto. Keduanya sudah lansia, sang suami sudah belasan tahun pensiun. Namun mereka berhasil mengembangkan beberapa bisnis di bidang Massage/Reflexology, Restaurant (Racikan dan Kopi Ponti), dan yang lainnya. Melalui sesi ini, diharapkan para senior pendeta, khususnya yang memiliki passion di bidang kuliner atau keterampilan jasa lannya, dapat belajar tips mengembangkan bisnis di bidang jasa dan kuliner. Rangkaian pembinaan di tanggal 2 Oktober ditutup dengan makan malam bersama di Racikan Resto!

Kegiatan di hari kedua diawali dengan Renungan pagi yang dilayani oleh Pdt. Melki Nguru. Setelah ibadah, rangkaian sesi pun dimulai. Menariknya, seluruh sesi materi hingga Ibadah Reflektif di hari kedua itu, semua narabinanya adalah dari Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Hal ini memang disengaja sebagai bentuk kemitraan antara GPIB dengan salah satu Perguruan Tinggi Kristen yang didukung, khususnya dalam menyelenggarakan pendidikan teologi bagi para calon pendeta.

Sesi keempat berlangsung secara hybrid, yaitu narasumber hadir melalui zoom workspace, dikarena sedang bertugas di Kualalumpur. Narabina di sesi itu adalah Dr. Leonard Chrysostomos Epafras, S.Si, M.Th. Topik materi adalah “Mudah dan Lebih Cepat Bersama Teknologi”. Pada sesi ini, narabina memotivasi para peserta bina, yaitu para pendeta pra-emeritus bahwa teknologi dapat menjadi sahabat dalam memperpanjang, memperluas, dan mempermudah pelayanan mereka. Narabina juga memberikan beberapa contoh bentuk pelayanan dan platform yang bisa dipelajari atau digunakan oleh peserta.
Topik berikutnya pada sesi kelima adalah “Pelayanan Tak Pernah Berhenti.” Dra. Erni Ekawati, M.SA, Ph.D., sebagai narabinanya, membantu para pendeta pra-emeritus untuk menyadari masih ada begitu banyak peluang pelayanan yang selaras dengan minat dan kompetensi yang dimiliki, baik dalam berkhotbah, membimbing, menulis, bertani, mengorganisasi, atau membangun jaringan. Setiap kompetensi para pendeta pra-emeritus bisa ditransformasikan menjadi bentuk usaha atau proyek sosial yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Di sesi 6, narabina, yaitu Dr. Singgih Santoso, menyampaikan materi bertema “Mengubah Pengalaman Jadi Peluang”. Di sini ia memaparkan kepada para pendeta pra-emeritus bahwa jika ingin bergerak di bidang bisnis produk ataupun jasa harus disertai dengan passion dan kemampuan melihat pasar, apa yang akan laku dijual atau akan sangat banyak yang membutuhkannya. Narabina juga mengajarkan caram menggunakan Bussiness Model Canvas (BMC). Di lanjutkan pada sesi 7 dan 8, dengan narabina tunggal, yaitu Dr. Perminas Pangeran. Dalam pemaparannya, narabina menyampaikan opsi-opsi pekerjaan dan usaha yang relevan dengan bidang yang biasa digeluti para pendeta dan bahkan bisa dikembangkan lebih lanjut ketika sudah pensiun, misalnya klink konseling pastoral on line, menulis buku, konsultan pelayanan, dll. Bahkan juga untuk bentuk-bentuk bisnis, seperti busana pelayanan, kuliner, dll. Dr. Perminas Pangeran memberi kesempatan kepada para peserta berdiskusi kelompok untuk menyusun BMC masing-masing, kemudian dipresentasikan.
Sesi ke 9 mengundang salah satu Pendeta GPIB, yaitu Pdt. Dr. Jozef M.N. Hehanussa, yang berhasil mengembangkan kanal Youtube-nya sendiri dengan konten pendalaman Alkitab dan renungan-renungan, sehingga dapat memberikan pemasukan bagi keluarga. Bahkan naskah dari konten-konten tersebut digubah dalam bentuk buku, sehingga tersedialah dua buku pendalaman Alkitab karyanya. Melalui sharing ini diharapkan para pendeta pra-emeritus mendapatkan contoh konkrit dari rekan pendeta muda yang berhasil untuk tetap melayani bahkan tetap menghasilkan pemasukan.

Setelah makan malam di Roof Top Tara Hotel, rangkaian kegiatan pembinaan ditutup dengan ibadah reflektif penutup. Tata ibadah reflektif secara khusus dipersiapkan oleh Pdt. Troitje Patricia A. Sapakoly, M.A. Musik ibadah diiringi oleh piano dan biola dari Tim Muger GPIB Marga Mulya. Sedangkan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Daniel K. Listijabudi, Ph.D. (dosen F.Teologi UKDW). Dalam khotbah yang didasari dari 1 Korintus 3.1-17, Pdt. Daniel memberikan beberapa poin penting. Pertama, segala pelayanan yang telah dikerjakan hingga saat ini adalah anugerah Tuhan semata yang memampukan. Kedua, apa yang telah diperjuangkan pada akhirnya akan teruji kualitasnya seiring waktu. Ketiga, benturan dan pergumulan hebat dalam pelayanan selama ini, hendaknya dihayati sebagai cara Tuhan membentuk kualitas diri dan iman. Beliau menutup khotbah dengan mengajak para pendeta praemeritus menyanyikan lagu Bill Gaither berjudul, “The Longer I Serve Him.” Beliau mengutip bagian akhir dari refrein lagu tersebut yang kiranya menggema dan menguatkan hati para pendeta yang akan memasuki masa emeritus, “The Longer I Serve Him, The Sweeter He Grows”. Maksudnya, sudah sampai sejauh ini melayani Tuhan, janganlah ada kepahitan. Melainkan bersyukurlah dan kecaplah betapa manis pemeliharaanNya. Demikianlah Pdt. Daniel memotivasi para pendeta praemeritus agar pun ketika pensiun, terus melayani Tuhan dengan berbagai cara agar tetap merasakan semakin manis kasih Tuhan.
Setelah khotbah, para peserta diajak merefleksikan pelayanan mereka selama ini melalui media refleksi-kreatif. Di setiap meja terletak bunga kering dan bunga hidup, sebuah kartu lipat, dan pulpen. Media ini digunakan untuk mendukung refleksi bagi para pendeta pra-emeritus. “Bapak/Ibu Pendeta dipersilakan mengambil waktu untuk merefleksikan panggilan dan pengutusan melalui lembar kertas dan bunga kering dalam hiasan, gambar, dan atau tulisan. Sembari menulis, menggambar dan atau menghias, tanyakan pada diri sendiri apakah pada saat emeritus nanti, ibu/bapak bisa mengenang seluruh pelayanan dalam kebanggaan? Hidup manusia ibarat “bunga yang ‘kan layu dan kering”. Apakah keindahan “bunga” itu sudah dan akan terus terpancar untuk keagungan dan kemuliaan nama Tuhan karena dalam perjalanan pelayanan, ibu/bapak dan keluarga terus berupaya menebar kebaikan dan kasih Tuhan?”, demikian Pdt. Troije Sapakoly memandu para peserta.
Akhirnya, Sekretaris 2 Majelis Sinode, Pnt. Ivan Lantu pun menyampaikan sambutan penutup dan harapan baik bagi semua peserta. Kemudian, beliau pun menutup rangkaian kegiatan Pembinaan Praemeritus Pendeta (P3) secara resmi.
Semoga P3 yang telah berlangsung sungguh membawa manfaat baik bagi para pendeta praemeritus yang telah mengikutinya. Kiranya Tuhan tetap memberkati para hamba Tuhan di GPIB, mulai yang muda hingga emeritus, hingga akhir terus berbuah bagi Tuhan .[]brh

