GPIB, Jakarta – Perhelatan Persidangan Sinode Tahunan GPIB 2026 tinggal menghitung hari. Dinamika hiudp pelayanan dicetuskan sebagai sesuatu yang menyala dalam menjalankan kerjalayan di GPIB. Harapan itu hasil PST 2026 disampaikan sejumlah pendeta yang dimintai pendapatnya.
“Tentu saja jalannya PST lancar dan programnya agar dipikirkan dapat berdampak pada pertumbuhan iman yang makin dekat dan melekat pada Tuhan,” kata Pdt.Devie Bawole-Dantjie saat dihubungi, Minggu (8/2).
Soal program, kata dia, dibuat tidak banyak, jadi anggaran pun sedikit. “Kadang kalau program banyak dananya terbagi-bagi, kenapa tidak sedikit tapi dukungannya besar. jadi setiap bidang satu atau dua program saja. Juga jika buat kegiatan tidak selalu bersama se-sinodal, bisa hanya di mupel atau jemaat masing-masing. Misalnya untuk hut Pelkat se Sinodal cukup pertahun satu pelkat yang dirayakan terpusat. Dan ini yang menurut saya juga penting yakni programkan peningkatan kinerja pendeta dan penyesuaian kenaikan golongan dengan lama masa pelayanan.”
Selaon menyoroti program, Pdt.Devie juga mengingatkan, perlu fokus pada tugas utama gereja, pada Visi dan Misi GPIB.
“Peserta persidangan tidak semua harus hadir secara fisik mengingat biaya yang cukup besar. Lalu, menurut saya agar PEG dapat membuat usaha bagi GPIB, misalnya saja jasa trevel yang bisa dimanfaatkan seluruh jemaat GPIB. Saya juga mendukung program penggunaan lahan kosong dari jemaat-jemaat. Juga dana pos dan dana penggajian pendeta di pos, dibuka donasi dari jemaat dan di luar jemaat bahkan menjangkau luar negeri. dna untuk ini perlu direkrut pegawai khusus untuk menanganinya.”
Sementara itu Pdt.Heber Hutauruk menyampaikan ada perubahan khususnya soal efisiensi waktu debat dari persidangan/pertemuan jemaat.
“Agar banyak hal yg lebih penting dapat dibahas, dan persidangan tidak menjadi ajang menyampaikan kegalauan yg tidak berdasar pada Firman Tuhan. Berharap dalam sidang itu tercipta atmosfir pelayanan positif dan menggembirakan, bukan hanya ketegangan yg menyudutkan/menghakimi pribadi tertentu. Sehingga semua orang merasa memiliki gereja dan meningkatkan keterlibatan dalan pelayanan,” kata Pdt.Heber.
Soal program menurut Pdt.Heber yang menjadi KMJ di jemaat Makedonia, Lampung, keberlanjutan misi, agar program jangan hanya berhenti sekali jalan atau malah menjadi seremoni semata, tetapi memiliki proyeksi jangka panjang demi pekerjaan misi Allah di dunia.
“Begitupun dalam PST ini, meski FMS baru, tetapi banyak program baik yg harus dilanjutkan. Agar keputusan tidak hanya dirasakan warga jemaat kota/pusat, tetapi mempertimbangkan warga jemaat pelosok/yg sedang berjuang ekonomi, sehingga keputusan bergaung sampai pos pelkes.”
Ia juga menyoroti integrasi dunia digital dan pemanfaatan positif media, seperti kanal YouTube menjadi corong komunikasi dan pendidikan iman warga jemaat. “Ini perlu terus dikembangkan,” tandasnya.
Pnt.Rinus Sinyal dari GPIB Gibeon, Jakarta ikut memberikan harapan terhadp hasil PST 2026 ini. “Doa dan harapan saya untuk PST 2026 ini , semoga berlangsung dalam naungan kasih Tuhan dan menghasilkan keputusan program kerja untuk tahun 2026-2027 yang sejalan dengan PKUPPG jangka panjang 3, dan kiranya hal-hal yang masih perlu disempurnakan dari hasil PSR Makassar 2025 dapat diselesaikam di PST 2026 ini.” 9lip)

