Langkat, Sumatera Utara — 18 Oktober 2025. Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) menorehkan sejarah dalam gerakan kepedulian lingkungan dengan menanam 10.000 pohon mangrove di lahan kemitraan KTH Peduli Pesisir, Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kegiatan monumental ini menjadi kelanjutan dari aksi serupa tahun sebelumnya yang menanam 1.000 bibit mangrove di lokasi yang sama.

Sekitar 50 peserta dari 15 jemaat dan satu bakal jemaat dari GPIB Musyawarah Pelayanan (Mupel) Sumut–Aceh hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka bersama perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Langkat serta unsur Forkompimcam Pangkalan Susu, menjadikan aksi ini bukan hanya simbol iman, tetapi juga wujud nyata kepedulian gereja terhadap alam ciptaan Tuhan.
Dalam sambutannya, Ketua II Majelis Sinode XXI GPIB, Pdt. Manuel E. Raintung, S.Th, M.M, mewakili Majelis Sinode XXI GPIB, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas capaian luar biasa Mupel Sumut–Aceh.

“Selamat pagi, selamat siang, atas nama Majelis Sinode XXI GPIB menyambut dengan penuh sukacita aktivitas kita pada pagi hari ini. Secara khusus untuk saya yang kedua kali, seribu pohon yang pertama tahun lalu kita lakukan di tempat ini, dan kali ini melengkapinya kita menargetkan 10 ribu. Tiga hari yang lalu kami sudah mencatatkan ini di Kementerian Agama Republik Indonesia, bahwa kegiatan ini sudah tercatat dan memenuhi rekor dari Kementerian Agama, karena sekaligus 10 ribu,” ujarnya penuh bangga.

Lebih lanjut, Pdt. Raintung menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk konkret GPIB dalam mewujudkan spiritualitas ekologi — semangat iman yang diwujudkan dalam aksi nyata menjaga kelestarian bumi.
“Ini akan mendorong, sekaligus memastikan bahwa GPIB benar-benar berpihak kepada penyelamatan bumi, kelestarian alam, tidak saja dalam narasi tertulis ataupun verbal, tetapi kita sudah mengaktualisasikannya. GPIB melakukannya tentu dengan hati kecil sekali yang kita buat ini, tetapi mempunyai makna yang besar,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa gerakan menanam mangrove telah dilakukan di berbagai daerah, mulai dari Kalimantan Utara, Lampung, Batam, Bekasi, Banten, hingga Jakarta Utara, dengan total lebih dari 15.675 pohon tertanam. Menurutnya, program ini harus menjadi gerakan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.
“Ini bukan kegiatan monumental yang terakhir, harus diikuti terus, dilanjutkan terus, dipelihara… Saya kira demikian, dan apresiasi untuk seluruh jemaat-jemaat GPIB yang berada di Mupel Sumatera Utara–Aceh. Mulai besok mungkin akan viral bahwa Mupel Sumut–Aceh berhasil membudidayakan mangrove 10.000. Ini menjadi cerita baik dan penghormatan bagi kita semua untuk tidak saja berbicara, tapi melakukannya,” tegasnya menutup sambutan.
Senada dengan itu, Ketua BP-Mupel SUMUT–ACEH, Pdt. Drs. Semuel A. Zacharias Karinda, M.Si, mewakili pelayan dan jemaat Mupel Sumut–Aceh, menekankan pentingnya kemitraan dan keberlanjutan dalam gerakan Gereja Ramah Lingkungan.

“GPIB, khususnya di Mupel Sumut–Aceh, berkomitmen pada implementasi Gereja Ramah Lingkungan. Hari ini bukan yang terakhir melainkan awal dari kerja sama yang lebih lanjut dengan pihak-pihak yang akan bekerja sama dalam melestarikan alam,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa komitmen ini telah diwujudkan melalui kerja sama dengan komunitas pesisir dan lembaga pemerintah di Langkat, serta kegiatan serupa di berbagai wilayah lainnya.

“Saat ini kita bersama-sama komunitas pesisir yang memelihara kawasan konservasi ini, dengan Dinas Lingkungan Hidup Langkat dan Forkompimcam Pangkalan Susu. Ke depannya kita akan membuat juga di jemaat-jemaat lainnya seperti yang sudah dilakukan di Parsingguran beberapa minggu lalu saat kita ikut menghijaukan pesisir Danau Toba. Bagi kami di Sumut–Aceh, komitmen dan kemitraan adalah nilai penting dalam ber-Germasa,” tambahnya.

Kegiatan Penanaman 10.000 Mangrove GPIB ini bukan sekadar kegiatan lingkungan, melainkan tonggak sejarah baru yang memperlihatkan wajah gereja yang peduli, bekerja, dan menanam untuk masa depan bumi. Lewat langkah kecil yang penuh makna ini, GPIB menunjukkan bahwa iman yang hidup adalah iman yang bertindak untuk memelihara ciptaan Tuhan.

