GPIB, Jakarta – Program Bincangan bersama Pendeta di Pos Pelkes dan Bajem yang dilakukan Senin (11/5) pagi lewat zoom sesuai program kerja tahun 2027. Tujuannya untuk sharing pelayanan dan menjadi penyemangat bagi para pendeta di Pos-pos Pelkes dan Bajem yang ada.
“Ini pertemuan pertama kali dari pertemuan-pertemuan yang akan dilakukan berikutnya. Tujuannya untuk mengetahui pendeta-pendeta yang ada di pos pelkes, lalu profiling jemaat di pos pelkes, potensi-potensi yang ada di pos pelkes, pendeta dapat mengetahui pengemebangan jemaat setempat. Ini sesuai PKUPPG jangka ketiga juga sekaligus terus memberi semangat bagi para pendeta di pos-pos pelkes,” kata Pdt.Henry Tamaela, ketua I MS XXII GPIB.
Ibadah program perbincangan dibuka dengan ibadah singkat oleh Pdt.Malia M.Lenakoly dan dihadiri fungsionaris Majelis Sinode XXII GPIB yang ikut dalam percakapan yakni Ketua I Pdt.Henry Tamaela juga didampinigi Sekretaris I Pdt.Emmawati Yulia Rumampuk-Baule. Juga Ketua Departemen Pelkes Pdt.Jefry Yuwanto bersama sejumlah pengurus Departemen Pelkes GPIB.
Pdt.Henry juga menambahkan bahwa program ini menjadi yang awal dan seterusnya dalam PKA tahun 2027 dan para pendeta yang menjadi dibentuk untuk menjad pemimpin dan ujung tombak dalam pengembangan pelayanan.
“Semoga pertemuan yang baik dan pertemuan inspiratif bagi pengembangan pelayanan kita semua,” ujar Pdt.Henry.
Melengkapi arahan dalam perbincangan pendeta, Sekretaris I GPIB Pdt.Emma Baule menambahkan bahwa MS XXII berharap dapat memanfaatkan waktu untuk catatan-catatan penting berdasarkan PKUPPG jangka panjang ke tiga.
“Ini langkah-langkah strategis selain mengenal satu dengan lain, juga profiling jemaat yang update dan berharap respons yang positif dengan memberikan informasi yang penting yang ada di pos-pos pelkes. Kami berharap jugadapat mendorong pendeta di pos-pos pelkes selalu menjaga kesehatan yang juga penting. Kedua, secara kesejahteraan teman-teman dan ini menjadi catatan penting sehingga bisa memberikan informasi bagaimana satu atau dua tahun pelayanan di pos pelkes ini, dan ada hal-hal yang menggembirakan, misalnya secara ekonomi kreatif menghasilkan kebun atau lahan sehingga hal ini dapat diinfo ke kami dan kita sharing ke PEG, adakah kendala atau ada langkah-langkah yang harus dilakukan. Jadi, mari memanfaatkan momentum yang baik ini,” kata Pdt.Emma.

Perbincangan juga diisi dengan gambaran pos-pos pelkes berdasarkan data yang telah dikumpulkan Departemen Pelkes dan data tersebut terus akan diupdate dengan kondisi yang baru yang dibawakan oleh Ketua I Departemen Pelkes Pnt.Adri Manafe dan pengelolaan pelayanan oleh Ibu Lenny Safei.

Setelah dua pemaparan kemudian peserta dibagi dalam tiga kelompok atau break room terdiri dari wilayah Kalimantan, Sumatera, dan tiga wilayah yang dijadikan satu, yakni Jawa, Bali NTB dan Sulawesi. Peserta di masing-masing kelompok itu menceritakan kondisi jemaat di masing-masing pos, berdasarkan pertanyaan-peratnyaan arahan. Salah satu yang muncul adalah kondisi jalan menuju pos, kondisi jemaat hingga kondisi ladang yang dikelola jemaat untuk ekonomi.
Salah satu yang disampaikan kondisi pos pelkes adalah persoalan konflik di pos yang membuat kehadiran jemaat di pos menjadi berkurang, seperti yang diceritak Pdt.Enos Hehakaja yang melayani di Pos Pelkes Maranatha, Karang Agung Tengah. “Persoalan kesehatan yang menjadi persoalan karena letak puskesmas yang cukup jauh. dan beraharap Departemen Pelkes dapat membantu dengan kondisi tersebut,” kata Pdt.Enos.
Dari hasil percakapan tersebut, Departemen Pelkes mencatat semua hal yang terjadi sehingga menjadi masukan dalam pengembangan pelayanan di pos pelkes berikutnya.(lip)
