GPIB, Jakarta – Pendidikan Oikumene Keindonesiaan (POK) III yang diselenggarakan oleh Departemen Germasa GPIB tahun 2026 ada yang berbeda, yakni diikuti oleh Diaken, Penatua dan Pendeta yang menurut Ketua II MS XXII GPIB Pdt.Semuel Karinda seperti Lemahans kecil.
“Tahun ini dari sekian kali POK yang telah diadakan agak berbeda khususnya dari segi peserta. Ada sekitar 35 peserta yang biasanya diikuti oleh para pendeta, kini juga diikuti oleh Diaken dan Penatua, jadi seperti mengikuti Lemhanas kecil. Kenapa kegiatan POK ini diadakan? Latar belakang pemikiran karena kami melihat ke depan Germasa ini harus dikenal oleh jemaat, kehadiran Germasa bukan sekadar pelengkap saja tapi harus juga hadir di tengah-tengah masyarakat. Jadi ketika bidang-bidang yang ada lalu dikolaborasikan dengan Germasa maka dia menjadi gereja yang benar-benar membumi dan juga berorientasi kepada kerajaan Allah,” kata Pdt.Semuel, di sela-sela pembukaan POK tahun 2026, di kantor MS, Jakarta, Senin (18/5).
Sementara dalam renungan yang diambil dari bacaan SBU Wahyu 12 ayat 7-9 saat ibadah pembukaan kegiatan POK yang disampaikan oleh Sekretaris Umum MS XXII GPIB Pdt.Ebser Lalenoh, mengatakan orang yang beriman yang melakukan kegiatan imannya, dia akan dapat berdiri menghadapi ancaman apapun.

“Kita yang dipanggil untuk melakukan pekerjaan Tuhan maka kita akan mendapatkan apresiasi yang baik. Para peserta POK hasilkanlah pemahaman Oikumene yang baik sehingga kita sebagai gereja menghasilkan kerja bersama dengan pemerintah dengan baik pula, Tuhan memberkati kerja layan kita,” kata Pdt.Ebser.
Acara POK III dibuka dengan serangkaian ibadah di GPIB Immanuel, Jakarta lalu setelah ibadah peserta diajak untuk melihat galeri Gereja Immanuel yang berisi lini masa sejarah hadirnya gereja itu sejak zaman kolonial hingga saat ini.
Peserta yang hadir kata Pdt.Semuel, dibatasi usianya 50 tahun ke bawah. “Karena kita ingin membuat kader-kader Germasa yang cukup baik dimulai dari tingkat jemaat dan supaya jika di usia 65, masih bisa berkarya 15 tahun sebelum usia itu jadi lebih bagus memang di usia 40 atau kurang dan akhirnya bisa berkarya di tingkat jemaat dan lebih besar tingkat Mupel dan Sinodal,” tambah Pdt.Sem.
Menyinggung materi yang diberikan bagi peserta, Pdt.Sem menjelaskan panitia merancang materi sedemikian rupa tak hanya bicara teori tapi juga praktik kunjungan ke sejumlah tempat.

Antara lain, Sesi 1: Reorientasi Jabatan Gerejawi: Mendefinisikan ulang peran Pendeta dan Pekerja Gereja sebagai “Pemimpin Perubahan” (PP1) di tengah gereja dan masyarakat berdasarkan PKUPPG III oleh Pdt.Semuel Karinda, Sesi 2: Bedah Strategis PKUPPG III (20262045): Memahami visi “Keadilan,Kebenaran, dan Pemulihan” bukan sebagai jargon, tapi sebagai peta jalan panggilan oleh Pdt.Nitis Putrasana Harsono (Ketua Umum MS XXII GPIB), Sesi 3: Oikoumene Kebangsaan: Peta Jalan Gereja dalam Konteks Kemajemukan Indonesia oleh Pdt.Margie Ririhena, Sesi 4: Dinamika Geopolitik Kawasan: Posisi Strategis Indonesia dan Tanggung Jawab Gereja dalam Mewujudkan Keadilan oleh Laksda TNI (Purn) Robert Mangindaan (Pengajar Lemhanas RI), Sesi 5: Teologi Publik GPIB dalam konteks negara Pancasila oleh Pdt. Dr. Josef Hehanussa, Sesi 6: Instrumen Analisis Sosial (Ansos): Teknik membedah peta masalah di wilayah pelayanan & Pemetaan Aktor & Jaringan (Stakeholder Mapping): Siapa saja kawan dialog dalam pelayanan? (Pemerintah, tokoh adat, kelompok marginal) oleh Dian Kartika Sari (Presedium Nasional Koalisi Perempuan Indonesia), Sesi 7:Workshop Kontekstualisasi: Setiap peserta membedah “Peta Masalah” di mupel/jemaat/pos pelkes tempat mereka ditempatkan, Sesi 8: Gereja dan Politik: Navigasi gereja di tengah dinamika politik Indonesia oleh Pdt. Jeirry Sumampow, S.Th (Ketua 1 Dep. Germasa GPIB), Sesi 9: Kepemimpinan Inklusif: Strategi merangkul kelompok yang selama ini terpinggirkan (Disabilitas, ODHA, Masyarakat Adat, Perempuan, Kelompok Lintas Iman, dll) oleh Pdt. Manuel Esau Raintung (KMJ GPIB Gibeon Jakarta), Sesi 10: Literasi Digital & Komunikasi Publik: Bagaimana pemimpin gereja bersuara di ruang publik secara bijak namun tetap profetik oleh Dr. Rewindinar (Dosen Institut Media Digital Emtek), Sesi 11: Iman di tengah krisis global: Dampak konflik Amerika-Iran-Israel terhadap Ekonomi Indonesia dan Strategi Ketahanan Jemaat.Religusitas Masyarakat oleh Dr. David R. Tairas, S.S., S.E., M.M (Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia), dan Sesi 12: Mediasi & Transformasi Konflik: Membekali Pendeta dan Pelayan sebagai juru damai di tengah ketegangan dan konflik sosial-politik oleh Pdt. Elga Sarapung (Direktur Dian/Interfidei).
“Selain materi-materi yang disampaikan oleh para narasumber, kami merancangan peserta akan ke lapangan, antara lain ke Lemhanas, ke masjid, ke vihara dan berbagai macam tempat untuk memperkaya pemahaman peserta. Jadi tidak hanya di balik meja tapi kami membuta sampai di tengah-tengah masyarakat,” tandasnya.

Selain 35 peserta dan tim kerja Departemen Germasa, juga didampingi Ketua I Pdt.Henry Tamaela, dan Ketua V Pnt.Maxi Hayer. Acara POK III dimulai Senin (18/5) dan berakhir pada Jumat (22/5) dan ditutup dengan nobar film dokumenter Pesta Babi.(lip)
