DENPASAR – Sekretaris Umum (Sekum) Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Pendeta Ebser Mago Lalenoh MTh memimpin Ibadah Utus-Sambut Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Maranatha Denpasar, Bali, pada Minggu (1/3/2026).
Pendeta Dr Nancy Thelma Nisahpih-Rehatta MTh selaku KMJ Maranatha Denpasar yang lama, menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada Pendeta Sonya A. Medyarto-Sitaniapessy STh M.Min, yang sebelumnya menjabat KMJ GPIB Gideon, Jakarta Pusat. Selanjutnya, Pendeta Nancy dipercayakan sebagai KMJ GPIB Siloam Jakarta Barat.
Pada Utus – Sambut yang dirangkaikan Ibadah Minggu V – Prapaskah bertema “Dipilih dalam Kasih, Diutus untuk Ciptaan” (Efesus 1:3-14) Pendeta Ebser, mengungkapkan bahwa pelayanan di dalam Tuhan penuh perjuangan, sebab banyak sekali tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan.
“Seorang pelayan Tuhan harus setia berdiri tegak kepada Yesus,” kata Pendeta Ebser.
Ia mengatakan, ketika seorang hamba Tuhan menggunakan gelar Pendeta di depan namanya, pilihannya adalah menerima panggilan Tuhan, seperti dikatakan Rasul Paulus dalam Efesus 1:3-14, segala sesuatunya akan berubah.
“Semuanya diubahkan Tuhan dengan cara Tuhan,” jelas dia.
Pendeta Ebser mencontohkan, perjalanan hidup Presiden Amerika Serikat (AS) ke-42, periode 1993-2001 Bill Clinton, yang terlahir dengan nama William Jefferson Blythe III, pada 19 Agustus 1946 di Hope, Arkansas.

Dijelaskan bahwa Clinton yang terlahir tanpa ayah, mengadopsi nama belakang ayah tirinya, Roger Clinton Sr, sehingga namanya berubah menjadi William Jefferson Clinton.
“Mengadopsi nama Clinton itu, mengantarkan dia menapaki jalan-jalan berliku yang penuh kepastian untuk sampai pada puncaknya. Dan, rakyat Amerika Serikat memilihnya menjadi Presiden,” katanya.
Ia mengatakan, Clinton adalah seorang tokoh AS yang hebat dan semua orang mengakui kemampuannya.
“Tetapi kehebatannya, kalau saya menelusuri jejak kehidupan Bill Clinton, adalah perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Demikian juga berpelayanan, yang penuh perjuangan karena segala tantangan demi tantangan harus dihadapi dengan baik,” kata dia.
Menurut Pendeta Ebser, seorang pelayan yang setia harus berdiri tegak kepada Yesus, yang dilayaninya. Kesaksian Rasul Paulus, lanjutnya, memperlihatkan bahwa jalan hidup manusia, apabila saudara dan saya hidup di dalam Tuhan, dipilih Tuhan, diperlengkapi oleh Tuhan dengan segala maksud Tuhan, maka perjalanan hidup akan menuju kepada puncaknya.
“Tuhan menolong, Tuhan menyertai, dan memberikan hikmat dan kebijaksanaan dalam segala sesuatu yang dilakukan,” kata Pendeta Ebser.

Cinta Sebagai Dasar Pelayanan
Pada kesempatan itu, Pendeta Nancy secara khusus menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan yang dilakukannya selama memimpin GPIB Maranatha Denpasar. Ia mengaku sangat mencintai seluruh Ibu, Bapak, Saudara, dan Anak-anak di jemaat itu.
“Kalimat pertama yang mau saya katakan adalah saya mencintai Ibu, Bapak, dan Saudara. Saya mencintai semua Pemuda, Anak-anak, Lansia, Bapak, Ibu, dan Remaja. Hanya karena cintalah saya bisa melayani Ibu, Bapak dari kedalaman hati, tidak mengenal waktu. Dan, saya bahagia,” kata dia.
Menurut Pendeta Nancy, kaki dan tangannya terbatas sehingga tidak bisa mengunjungi semua jemaat di kala sakit dan tidak dapat diabaikan dalam keterbatasannya, ada banyak hal yang dilakukan sehingga menyakiti hati jemaat.
“Maafkan saya. Kalau ada yang tersakiti amat dalam maupun yang tidak dalam, atas apa pun yang saya katakan atau perbuat, sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Sepenggal hati saya tertinggal di sini,“ katanya.
Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh jemaat, pengurus enam Pelkat, Komisi, dan jajaran pendeta yang selama ini bekerja sama dalam menjalankan pelayanan di GPIB Maranatha Denpasar.
“Tetaplah setia beribadah, berubahlah dari hal-hal yang buruk, bertumbuhlah menjadi lebih baik. Giatlah melayani Tuhan,” kata Pendeta Nancy.
Pendeta Nancy mengaku bahwa saat berada di mimbar besar sempat meneteskan air mata karena harus berpisah dengan jemaat yang telah menjadi bagian dari keluarganya.
“Dan, saya akan meninggalkan. Tuhan memberkati,” kata Pendeta Nancy.
Sementara itu, Pendeta Sonya menyampaikan dua harapan. Pertama, ia berharap cinta dan kasih sayang yang telah diberikan jemaat kepada Pendeta Nancy dapat diberikan kepadanya.
“Yang kedua, mari kita melayani dalam ketulusan, dalam kebenaran, dan dalam kejujuran. Itu modal kita,” ujarnya. (novy)

