GPIB, Surabaya – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Griya Husada Surabaya dikunjungi Fungsionaris Majelis Sinode GPIB XXII, diwakili Ketua V Pnt.Max Hayer dan Bendahara Umum Pnt.Steven Tunas bersama anggota Badan Pemeriksa Perbendaharaan Gereja (BPPG) GPIB XI, yakni Pnt. Boyke Marz Siagian, Pnt. Levania Santosa dan Pnt. Rico Sihombing, pada Kamis (16/4).
Kunjungan tersebut bertujuan untuk pemeriksaan laporan keuangan, aset/inventaris dan pengelolaan STIKES Griya Husada Surabaya.
Ketua STIKES Griya Husada Surabaya Pdt. (Em) Melkisedek Puimera bersama tiga Wakil Ketua yang mendampingi berharap positif atas kunjungan FMS GPIB dan BPPG tersebut, sehingga dapat melihat dan mendengar langsung keadaan dan permasalahan yang ada. “Sehingga dapat diambil langkah-langkah yang efektif supaya meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan STIKES Griya Husada Surabaya,” kata Pdt.(Em) Puimera.
Kehadiran FMS dan BPPG GPIB XI memastikan bahwa pengelolaan STIKES tunduk pada peraturan perbendaharaan GPIB, sehingga meminimalkan potensi kerugian keuangan gereja.
“Pemeriksaan ini juga kami harapkan menghasilkan gambaran posisi keuangan yang objektif untuk menilai, apakah pengelolaan perbendaharaan STIKES selama ini telah dilakukan secara cermat, bertanggung jawab, dan bijaksana. Dan kami tadi juga langsung menyampaikan rekomendasi perbaikan pengelolaan keuangan STIKES Griya Husada baik kepada MS GPIB XXII maupun Pengurus STIKES Griya Husada Surabaya,” kata Pnt.Boy.

Sementara itu Ketua V MS Pnt.Max berharapkan proses pemeriksaan oleh BPPG dilakukan secara profesional dan menyeluruh sebagai bagian dari tertib organisasi.
“Ya tadi kami menyaksikan proses itu dari kunjungan ini sehingga diketahui kepastian status aset dari stikes ini, karena mengingat seluruh harta milik di unit misioner (termasuk STIKES) adalah sah milik GPIB, sehingga pemeriksaan ini diharapkan mampu mendata secara akurat aset bergerak maupun tidak bergerak,” kata Pnt.Max.
Pnt.Max juga menambahkan, pemeriksaan laporan yang transparans dan akuntabilitas sehingga menghasilkan gambaran posisi keuangan yang objektif untuk menilai apakah pengelolaan perbendaharaan STIKES selama ini telah dilakukan secara cermat, bertanggung jawab, dan bijaksana.
“Kepastian status aset yang diperiksa juga sangata penting, mengingat seluruh harta milik di unit misioner (termasuk STIKES) adalah sah milik GPIB, jadi pemeriksaan ini diharapkan mampu mendata secara akurat aset bergerak maupun tidak bergerak,” tandasnya.
Menurut Bendahara Umum Pnt.Steven Tunas pemeriksaan tersebut bagi stikes tidak hanya sekadar bertahan, tetapi ditingkatkan kualitasnya ke level yang kompetitif di industri pendidikan kesehatan nasional.
“Potensi stikes ini diharapkan dapat dimonetisasi secara profesional sehingga menjadi unit yang mandiri secara finansial dan berkontribusi pada kemandirian daya dan dana GPIB secara keseluruhan,” ujarnya.(lip)
