GPIB Indonesia
  • Media GPIB
  • Tentang GPIB
    • TENTANG GPIB
    • Visi dan Misi
    • Pemahaman Iman
    • Majelis Sinode GPIB
    • Presbiterial Sinodal
    • PKUPPG
  • DIREKTORI
    • Departemen
    • Gereja
    • Pendeta
    • Yayasan
      • YAPENDIK
      • YAYASAN DIAKONIA
      • YAYASAN KESEHATAN
  • Berita & Artikel
    • SINODE
    • Kegiatan
      • M I S I O N E R
      • D I A K O N I A
    • Kegiatan PELKAT
      • PELKAT PA
      • PELKAT PT
      • PELKAT GP
      • PELKAT PKP
      • PELKAT PKB
      • PELKAT LANSIA
    • P E R S P E K T I F
      • I N S P I R A S I
      • Sosok
  • Sabda Digital
  • Hubungi Kami

GPIB Indonesia

  • Media GPIB
  • Tentang GPIB
    • TENTANG GPIB
    • Visi dan Misi
    • Pemahaman Iman
    • Majelis Sinode GPIB
    • Presbiterial Sinodal
    • PKUPPG
  • DIREKTORI
    • Departemen
    • Gereja
    • Pendeta
    • Yayasan
      • YAPENDIK
      • YAYASAN DIAKONIA
      • YAYASAN KESEHATAN
  • Berita & Artikel
    • SINODE
    • Kegiatan
      • M I S I O N E R
      • D I A K O N I A
    • Kegiatan PELKAT
      • PELKAT PA
      • PELKAT PT
      • PELKAT GP
      • PELKAT PKP
      • PELKAT PKB
      • PELKAT LANSIA
    • P E R S P E K T I F
      • I N S P I R A S I
      • Sosok
  • Sabda Digital
  • Hubungi Kami
SINODESlide

Sekum: Harapan Agar Pendeta Dekat dan Berintegritas

February 18, 2026

(Foto Lena Wurarah/Inforkom)

Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB Pendeta Ebser Lalenoh menyampaikan refleksi tentang pelayanan dari sudut pandang jemaat. Refleksi ditujukan bagi pendeta, namun juga relevan bagi seluruh presbiter, sehingga pelayanan bisa menyentuh sendi-sendi kehidupan sehari-hari.

“Jemaat melihat pendeta bukan hanya sebagai pemimpin ibadah, tetapi sebagai figur yang berjalan bersama mereka dalam perjalanan iman,” kata Pendeta Ebser Lalenoh jelang upacara penutupan persidangan Sinode 2026.  

“Karena itu, di mata jemaat, keberadaan pendeta selalu berada di antara dua harapan besar: menjadi gembala yang dekat sekaligus pemimpin yang mampu mengarahkan.”

Baginya, fungsi kegembalaan justru paling terasa di momen-momen personal. Saat jemaat sakit, berduka, menghadapi konflik keluarga, atau kebingungan mengambil keputusan hidup, kehadiran pendeta menjadi ukuran utama pelayanan. Pada akhirnya, pertumbuhan spiritual menjadi tujuan.

“Nilai seorang pendeta bukan terutama pada kepiawaian berbicara di mimbar, tetapi pada kesediaan mendengar tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, dan memberi penguatan yang tulus,” tuturnya.

“Dari sudut pandang ini, ukuran keberhasilan pelayanan pendeta sering kali tidak dinilai dari banyaknya kegiatan gereja, melainkan dari pertumbuhan spiritual jemaat itu sendiri – apakah mereka semakin dewasa dalam iman, lebih mampu mengampuni, lebih sabar, dan lebih memiliki harapan dalam menghadapi kehidupan.”

Tertib Administrasi, Berintegritas, Namun Dekat

Tuntutan bagi seorang pendeta memang tinggi. Jemaat melihat bahwa pekerjaan pendeta dalam membina kehidupan rohani membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan dedikasi besar. Tak hanya itu, jemaat juga berharap pentingnya kemampuan manajerial dari pendeta.

“Mereka berharap gereja berjalan tertib, program jelas arahnya, dan pelayanan tidak berjalan semaunya,” kata Pendeta Ebser. Hal demikian mampu memberikan rasa aman dan arah pelayanan yang pasti.

“Akan tetapi jemaat pun peka ketika pengelolaan yang terlalu administratif membuat pendeta terasa jauh dan sulit dijangkau. Di sinilah jemaat berharap adanya keseimbangan – bahwa kepemimpinan tidak menghilangkan kehangatan, dan ketertiban tidak mematikan relasi.”

Ketertiban itu juga dilihat harus berkelindan dengan integritas yang menumbuhkan kepercayaan.

“Seorang pendeta mungkin taat pada tata tertib, namun jika tidak disertai kerendahan hati, kejujuran, dan empati, jemaat akan merasakan jarak,” kata Pendeta Ebser. “Sebaliknya, ketika karakter pendeta selaras dengan tindakannya, jemaat melihat kehadiran gereja bukan sekadar sebagai institusi, melainkan sebagai rumah rohani.”

Menurutnya, jemaat perlu kehadiran yang tidak berjarak dan bisa meneguhkan.

“Dalam perspektif ini, pendeta dipandang sebagai jembatan – antara aturan dan kasih, antara struktur dan relasi, antara ajaran dan kehidupan – yang menolong jemaat merasakan bahwa iman bukan sekadar konsep, tetapi pengalaman hidup yang terus bertumbuh.”

(CP)

Sekum: Harapan Agar Pendeta Dekat dan Berintegritas was last modified: February 18th, 2026 by GPIB

Tinggalkan Komentar / Pesan Anda disini

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

PST 2020 Bogor Usai, Siap Sambut Pelaksanaan PS Di Surabaya

Jemaat GPIB bantuan Lombok

GPIB Serukan Kepekaan Moral Pemimpin Bangsa di Tengah Gelombang Aksi Rakyat

Sejumlah Pendeta, Penatua dan Diaken GPIB dalam Kondisi Sehat

Pdt.Ebser: “Jangan Sombong dan Tetap Setia”

Sejumlah Gedung Gereja GPIB Didisinfektan

Sesi #3 Pelatihan Jarak Jauh Ajak Warga Jemaat Peduli Singkong, Anggur Rosela dan Bikin Masker

Harapan Gereja Bagi Legislatif: Sejahterakan Rakyat Apapun Latar Belakang Sosial, Suku, Budaya dan Agamanya

GPIB Gerakkan Solidaritas Nasional untuk Jemaat Terdampak Bencana di Sibolga dan Lumajang

Bupati Sangihe Audiensi Ke Kantor Majelis Sinode GPIB, Siap Terima Tim Baksos YADIA

Kategori Artikel

  • Featured
    • Slide
  • PELKES
  • PELEMBAGAAN
  • STIKES
    • YAYASAN
  • INFO VIKARIS
  • DIAKONIA
  • SINODE
    • PSR XXII
    • Pesan-Pesan
    • Agenda
  • Kegiatan
    • Misioner
      • GERMASA
    • DIAKONIA
  • Kegiatan PELKAT
    • PELKAT PA
    • PLEKAT LANSIA
    • PELKAT PT
    • PELKAT GP
    • PELKAT PKP
    • PELKAT PKB
  • Perspektif
    • Arcus
    • Sosok
    • Inspirasi

Majalah Arcus

Hubungi Kami

Majelis Sinode GPIB
Jl. Merdeka Timur. No.10
Gambir, Kota Jakarta Pusat
Jakarta, Indonesia
P: (021) 384 2895
P: (021) 384 9917
F: (021) 385 9250
E: admin@gpib.or.id

Direktori

  • Yayasan
  • Pendeta
  • Departemen
  • Musyawarah Pelayanan
  • Facebook
  • Email

@2016 - Majelis Sinode GPIB.