(Foto Lena Wurarah/Inforkom)
Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB Pendeta Ebser Lalenoh menyampaikan refleksi tentang pelayanan dari sudut pandang jemaat. Refleksi ditujukan bagi pendeta, namun juga relevan bagi seluruh presbiter, sehingga pelayanan bisa menyentuh sendi-sendi kehidupan sehari-hari.
“Jemaat melihat pendeta bukan hanya sebagai pemimpin ibadah, tetapi sebagai figur yang berjalan bersama mereka dalam perjalanan iman,” kata Pendeta Ebser Lalenoh jelang upacara penutupan persidangan Sinode 2026.
“Karena itu, di mata jemaat, keberadaan pendeta selalu berada di antara dua harapan besar: menjadi gembala yang dekat sekaligus pemimpin yang mampu mengarahkan.”
Baginya, fungsi kegembalaan justru paling terasa di momen-momen personal. Saat jemaat sakit, berduka, menghadapi konflik keluarga, atau kebingungan mengambil keputusan hidup, kehadiran pendeta menjadi ukuran utama pelayanan. Pada akhirnya, pertumbuhan spiritual menjadi tujuan.
“Nilai seorang pendeta bukan terutama pada kepiawaian berbicara di mimbar, tetapi pada kesediaan mendengar tanpa menghakimi, menjaga kerahasiaan, dan memberi penguatan yang tulus,” tuturnya.
“Dari sudut pandang ini, ukuran keberhasilan pelayanan pendeta sering kali tidak dinilai dari banyaknya kegiatan gereja, melainkan dari pertumbuhan spiritual jemaat itu sendiri – apakah mereka semakin dewasa dalam iman, lebih mampu mengampuni, lebih sabar, dan lebih memiliki harapan dalam menghadapi kehidupan.”
Tertib Administrasi, Berintegritas, Namun Dekat
Tuntutan bagi seorang pendeta memang tinggi. Jemaat melihat bahwa pekerjaan pendeta dalam membina kehidupan rohani membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan dedikasi besar. Tak hanya itu, jemaat juga berharap pentingnya kemampuan manajerial dari pendeta.
“Mereka berharap gereja berjalan tertib, program jelas arahnya, dan pelayanan tidak berjalan semaunya,” kata Pendeta Ebser. Hal demikian mampu memberikan rasa aman dan arah pelayanan yang pasti.
“Akan tetapi jemaat pun peka ketika pengelolaan yang terlalu administratif membuat pendeta terasa jauh dan sulit dijangkau. Di sinilah jemaat berharap adanya keseimbangan – bahwa kepemimpinan tidak menghilangkan kehangatan, dan ketertiban tidak mematikan relasi.”
Ketertiban itu juga dilihat harus berkelindan dengan integritas yang menumbuhkan kepercayaan.
“Seorang pendeta mungkin taat pada tata tertib, namun jika tidak disertai kerendahan hati, kejujuran, dan empati, jemaat akan merasakan jarak,” kata Pendeta Ebser. “Sebaliknya, ketika karakter pendeta selaras dengan tindakannya, jemaat melihat kehadiran gereja bukan sekadar sebagai institusi, melainkan sebagai rumah rohani.”
Menurutnya, jemaat perlu kehadiran yang tidak berjarak dan bisa meneguhkan.
“Dalam perspektif ini, pendeta dipandang sebagai jembatan – antara aturan dan kasih, antara struktur dan relasi, antara ajaran dan kehidupan – yang menolong jemaat merasakan bahwa iman bukan sekadar konsep, tetapi pengalaman hidup yang terus bertumbuh.”
(CP)

