Jakarta, 27 November 2025 — Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) menyampaikan keprihatinan dan menggerakkan upaya respons cepat atas dua bencana yang menimpa wilayah pelayanan GPIB, yakni banjir dan longsor di Sibolga–Tapanuli Selatan, Sumatera Utara serta erupsi Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur. Seluruh proses koordinasi di tingkat pusat dilakukan melalui Majelis Sinode GPIB bersama Mupel terkait.
Respons Sekretaris Umum MS XXII GPIB: “Kita tidak boleh berdiam diri”
Sekretaris Umum Majelis Sinode XXII GPIB, yang pernah melayani di Mupel Jawa Timur, Pdt. Ebser Mago Lalenoh, menegaskan bahwa seluruh jemaat GPIB harus bergerak cepat, khususnya dalam menanggapi dampak erupsi Gunung Semeru terhadap jemaat di Lumajang.
“GPIB harus menggerakkan semua jemaat yang ada di Jawa Timur untuk terlibat dalam penanganan bencana yang ada di Lumajang… Atau keterlibatan seluruh jemaat GPIB untuk penanganan tanggap bencana terhadap peristiwa bencana yang terjadi di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dukungan berupa dana dan kebutuhan pokok sudah mulai digalang:
“Kita sudah mulai melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk penggalangan dukungan, baik dana maupun moral untuk penanganan bencana tersebut… Kita tidak boleh berdiam diri untuk menyatakan kasih Tuhan untuk semua saudara-saudara kita yang menderita.”
Koordinasi lintas Mupel sedang diperkuat:
“Kita sedang membangun koordinasi MUPEL-MUPEL… bahkan secara langsung jemaat-jemaat kita dorong untuk segera melaksanakan upaya penggalangan bantuan… baik dana maupun kebutuhan pokok setiap hari seperti makan, tenda-tenda, dan pakaian-pakaian.”
Ketua II Majelis Sinode XXII GPIB: Akses Putus, Jemaat Terisolasi, dan Dapur Umum Disiapkan
Ketua II Majelis Sinode XXII GPIB, Pdt. Semuel A. Karinda, yang pernah menjabat sebagai Ketua BP Mupel Sumut–Aceh, menjelaskan kondisi dramatis di Sibolga dan wilayah Sumatera Utara lainnya.
Ia mengatakan bahwa fenomena cuaca ekstrem pada 25 November lalu memicu banjir besar dan longsor yang memutus tiga akses utama menuju Sibolga.
“Kami berusaha untuk pergi ke sana… Ternyata akses tiga jalan utama ke Sibolga putus karena longsor. Mencoba lewat laut, ombak besar. Pakai udara juga tidak bisa dilakukan.”
Dampak bencana meluas hingga Medan, Besitang, dan Pangkalang Berandan. Komunikasi dengan sejumlah pendeta pun terputus.
“Listrik mati dan pendeta… tidak bisa kami hubungi. Sama seperti di Sibolga… karena listrik mati dan jalur komunikasi putus.”
Ia menyebut sebagian jemaat telah dievakuasi, termasuk seorang pendeta di Pangkalang Berandan.
“Pendeta Jovina diminta segera diungsikan karena sungai besar sudah jebol tanggulnya.”
Untuk penanganan awal, GPIB telah menyiapkan dapur umum di beberapa gereja meski akses evakuasi masih terkendala.
“Saya sudah perintahkan ke teman-teman di Mupel, buka dapur umum setiap gereja… tetapi persoalannya akses putus.”
Majelis Sinode juga telah menyalurkan bantuan dana awal sebesar 50 juta rupiah.
Pdt. Karinda menegaskan bahwa GPIB akan membuka rekening khusus untuk penyaluran bantuan secara transparan:
“Majelis Sinode lagi membuka rekening khusus… Kirim saja melalui Majelis Sinode. Nanti akan ditangani oleh Mupel dan kita akan menyalurkan dengan baik supaya semua transparan.”
Bidang Pelayanan dan Kesaksian: Koordinasi Cepat dan Pendampingan Darurat
Ketua 1 Majelis Sinode XXII GPIB, Bidang Pelayanan dan Kesaksian, Pdt. Henry T. Tamaela, menjelaskan langkah awal yang telah dilakukan Unit Penanggulangan Bencana GPIB.
“Beberapa jam sesudah bencana di Sibolga, kami berkoordinasi langsung dengan Mupel Sumut–Aceh… mengumpulkan data-data korban, serta mencari jaringan dengan PGI atau PGIW agar kita bisa terlibat dalam aksi darurat bencana.”
Ia memastikan bahwa Majelis Sinode telah menyalurkan dana awal sebesar 50 juta rupiah untuk mempercepat aksi tanggap darurat.
“Majelis Sinode sudah mengirimkan 50 juta untuk kegiatan awal ataupun dana darurat bagi Mupel Sumut–Aceh… dan juga Mupel Jatim untuk membantu korban di Lumajang.”
Surat edaran kepada seluruh jemaat segera diterbitkan untuk membuka ruang partisipasi solidaritas.
Pesan Ketua Umum MS XXII: “Mereka tidak sendiri”
Ketua Umum Majelis Sinode XXII GPIB, Pdt. Nitis Putrasana Harsono, menyampaikan pesan kepada seluruh jemaat GPIB di Indonesia.
Ia mengajak jemaat bersatu dalam doa dan tindakan nyata.
“Kita dikejutkan dan kita sedih… Harapannya dalam gumulan kita, saya mengajak kita sehati dalam doa… meminta kekuatan dari kuasa Roh Kudus.”
Ia menekankan pentingnya kehadiran gereja bagi anak-anak dan keluarga terdampak:
“Mereka harus merasakan bahwa ada tangan kasih sayang Tuhan Yesus yang akan bertindak… dan itu diwujudkan melalui keprihatinan Kristus yang harus kita nyatakan dengan tindakan nyata.”
Pdt. Nitis menegaskan bahwa dukungan harus dilakukan bersama, terkoordinasi dengan Satgas Tanggap Bencana GPIB dan Mupel setempat.
“Kami berharap dukungan kita semua dapat dilakukan secara bersama melalui Satgas… agar mereka merasakan bahwa mereka tidak sendiri dalam mengalami kesulitannya.”
GPIB Serukan Solidaritas Nasional
Melalui rangkaian pernyataan resmi tersebut, GPIB menegaskan bahwa respons terhadap bencana bukan hanya tugas gereja di daerah terdampak, tetapi merupakan panggilan bersama seluruh warga GPIB.
Penggalangan bantuan, pembukaan dapur umum, evakuasi jemaat, serta koordinasi lintas sinode dan lembaga ekumenis terus dilakukan sebagai bentuk nyata pelayanan kasih.

