GPIB, Jakarta – Persidangan Sinode Tahunan (PST) Gereja Protestan Indonesia bagian Barat akan dihelat pada 11-14 Februari di Jakarta. Dalam rangka itu, pada 5-6 Februari 2026 dilakukan Pra PST yang berupa seminar yang mengangkat berbagai topik. Di hari pertama, sejumlah pembicara, antara lain Pdt. E.Gerrit Singgih, Pdt.Em.John Titaley, Pdt.Rommy Mateos dan Pdt.Binsar Pakpahan.
Pdt.Binsar Pakpahan bicara topik Demokrasi dan Tantangan Kebenaran untuk Bertumbuh dalam Keselamatan dalam kaitannya dengan KUPPG GPIB 2026. Pdt.Binsar menyampaikan penjelasan soal Statecraft Ideologi dan Statecarft Realisme. Dua yang diibandingkan sebagai dasar sejumlah negara menjalankana pemerintahannya. Dan selanjutannya Pdt.Binsar menjelaskan soal Epistemologi:
Perbedaan Cara Mengetahui dalam Teologi dan Sains.
“Aku percaya kepada Allah, Bapa Yang Maha Kuasa, Khalik langit dan bumi yang adalah pengakuan Iman Rasuli. Ini menjadi pengakuan yang secara teologi. Sementara ada Teori Pengetahuan, yakni belief (keyakinan): di mana seseorang harus percaya pada suatu proposisi atau pernyataan tanpa pembuktian. Juga ada justification (atau pembenaran): yang berisi keyakinan yang benar itu harus beralasan atau berdasarkan bukti dan bisa dibenarkan oleh yang lain. Dan ketiga yaitu pemahaman soal truth atau kebenaran yaitu apa yang diyakini itu harus benar secara objektif, pernah dialami.”

Di bagian akhir Pdt.Binsar menyampaikan bahwa kesetiaan iman kita pada Kristus akan membawa pada jalan menuju kebenaran. “Hal itu dapat dipraktikan dalam menjadi teladan, seperti 1 Petrus 2 ayat 12, juga menjadi hidup dalam pengharapan seperti 1 Petrus 2 ayat 16 dan 17.”
Sementara Pdt.Em.Gerrit dalam paparannya mengetengahkan Tema tahunan GPIB 2026-2027 yakni “Bertumbuh dalam Keselamatan” yang diambil dari 1 Petrus 2:2 menyimpulkan bahwa dalam menghadapi tekanan dari publik berupa masyarakat umum yang dominan, umat Tuhan perlu menghayati teologi sabar menderita yang diilhami oleh ayat-ayat mengenai penderitaan Hamba Tuhan di Yesaya pasal 53, yang diyakini telah digenapi oleh Tuhan Yesus.
“Sama seperti Tuhan Yesus rela menderita dengan sabar, begitulah umat diharapkan bisa meneladani Gusti Yesus dalam penderitaan-Nya. Teologi sabar menderita ini dapat dihayati secara menyeluruh, tetapi juga secara khusus, misalnya bagi PRT-PRT dan istri-istri. Teologi sabar menderita ini tidak dipahami secara cengeng, melainkan menjadi semacam strategi dalam rangka mengatasi tekanan publik. Di pihak lain, karena jemaat memiliki social self-identity, maka kalau identitas tersebut tidak disukai dan dilecehkan, ya apa boleh buat, jemaat diminta agar menahannya dengan sabar tetapi juga dengan senang dan tidak malu. Dan akhirnya ada saran-saran kepada sesame penatua, agar tetap menjaga hakikat gereja sebagai gereja relawan (volunteer-church) dalam rangka penggembalaan terhadap jemaat dengan bijaksana dan penuh kerendahan hati.”
Pdt.Em John Titaley juga menekan berdasarkan tema tahunan itu dalam kehidupan bernegara dan berbangsa, bahwa sebagai pengikut Kristus harus mempelajari sejarah sebagai bangsa Indonesia secara kritis, untuk mengidentifikasi ada tidaknya Firman yang dipahami sebagai Tritunggal itu telah terjadi dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama, khususnya kesepakatan bersama, dalam dua naskah dasar bangsa Indonesia sebagai fenomen baru tahun 1945, yaitu Teks Proklamasi dan UUD 1945.
“Dua teks itu adalah jati diri bangsa Indonesia yang selalu saya katakan sebagai Fenomen Baru, yang
belum pernah ada presedenya (padanannya) di masa lalu, sampai tahun 1945 ZB ini. Mati
hidupnya kita, baik buruknya kita tergantung pada kedua naskah itu. Itulah jati diri kita sebagai
orang Indonesia. Kita bergereja dalam konteks bangsa seperti itu dengan segala tantangan dan
permasalahannya, serta pemecahahan atas semua persoalan itu. Saya berharap 20 tahun tema jangka panjang memberi cukup waktu bagi kita untuk merenung dan menggumulinya dalam Iman Kristen yang Indonesiani. Menjadikan Indonesia sebagaimana pernah ada di zaman sebelum tahun 1945 seperti kerajaan, kesultanan, tradisionalisme bangsa dan daerah dulu, Sukarno menyebutnya itu bukan Indonesia.”
Sementara Pdt.Rommy Mateos menjelaskan bahwa keselamatan yang diterima oleh orang percaya
harus dihidupi dalam proses pertumbuhan yang berkelanjutan. Kerinduan akan firman Allah menjadi kunci utama bagi pertumbuhan iman yang sehat dan dewasa.
“Bagi GPIB di masa kini, panggilan untuk bertumbuh dalam keselamatan merupakan panggilan untuk membangun kehidupan warga gereja yang matang dalam iman, relevan dalam pelayanan, dan setia dalam kesaksian. Dengan demikian, gereja tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi komunitas yang bertumbuh, yang mampu menghadirkan karya keselamatan Allah secara nyata di tengah-tengah dunia. Karya keselamatan itu diwujudkan melalui program-program pelayanan yang memperlihatkan aksi nyata gereja dalam menghadirkan damai sejahtera Allah bagi seluruh ciptaan.”(lip)

