Langsung ke konten
Logo GPIB GPIB Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Berita Terbaru

Ketuk foto untuk membaca
  1. Berbagai Kasih, Menghadirkan Harapan
  2. Berita Radio – Sabtu, 24…
  3. Rayakan Dies Natalis ke-28, STIKES…
  4. Wakapolda Sumsel Kunjungi…
  5. GPIB Keluarkan Sikap Resmi Soal…
  6. Di Tengah Dinamika GPIB, Tuhan…
  7. GPIB Hadirkan Tiga Rumah Oksigen…
  8. Lansia Ceria, Lansia Bertemu Tiap…
  9. Menjemaatkan Dokumen Keesaan…
  10. Lansia Harus Tetap Sehat dan…
  11. Morning Call GPIB Minggu 25…
  12. Lomba Line Dance - Modern…
Sinode

Pelatihan Sesi #2 Gandeng Tiga Narasumber: UP2M Siapkan Pendampingan Jarak Jauh

GPIB, Jakarta –  Setelah sukses di hari pertama, Pelatihan Jarak Jauh seri #2 yang dilaksanakan secara daring semakin […]

Pelatihan Sesi #2 Gandeng Tiga Narasumber: UP2M Siapkan Pendampingan Jarak Jauh

GPIB, Jakarta –  Setelah sukses di hari pertama, Pelatihan Jarak Jauh seri #2 yang dilaksanakan secara daring semakin menarik pada Kamis 25/6/2020. Acara yang dilaksanakan dalam rangka Bulan Pelkes 2020 ini menampilkan narasumber Pnt. Andreas Sujono, S.Pi, Jonner Situmorang, M.Si dan Chikita Lestari, SP.

Para
peserta pelatihan jarak jauh seri #2
ini mengikuti secara detil apa yang disajikan narasumber yang memikiki keahlian
masing-masing dibidangnya. Unit Pembinaan Dan
Pemberdayaan Masyarakat (UP2M) yang menjadi motor
acara ini cukup berhasil menjaring peserta yang pada dasarnya membutuhkan
materi-materi aktual berkaitan dengan pandemi Covid-19 yang mengakibatkan terpuruknya
tatanan keekonomian warga.

Narasumber Pnt. Andreas Sujono, S.Pi yang membawakan materi “Budidaya Lele dan Sayuran untuk Ketahanan Ekonomi Keluarga Di Era Pandemi Covid-19” mengatakan, dampak Covid-19 banyak warga jemaat yang mengalami kesulitan ekonomi. Mengatasi hal itu, Andreas memberi solusi dengan memanfatkan pekarangan.

“Pangan sehat dari pekarangan yang sempitpun bisa memberikan dampak positif terhadap perekonomian  keluarga,” katanya dalam acara yang dipandu Martino Andrias Therik, S.Kom mencontohkan pemeliharaan lele dapat dilakukan dalam tandon, drum, atau di ember bisa mengatasi ketersediaan gizi bagi keluarga dan keekonomian warga. Selama pemeliharaan ikan lele 2 bulan akan dilakukan pergantian air 30%  setiap 3-4 hari. Air dari pembuangan ini yang kaya akan unsur Nitrogen (N)  dimanfaatkan sebagai  pupuk cair organik bagi tanaman.

Ikan
lele dapat dipanen pada umur 2 bulan (1 kilogram/10-12 ekor) dan dalam pembesaran lele dipadankan
dengan budidaya sayuran ini praktis dan mudah untuk dilakukan.

Untuk
sayuran, kata warga GPIB Zebaoth Bogor ini, wadah
tanam bisa menggunakan
botol plastik bekas; media tanam bisa beragam seperti sekam padi dan tanah. Sayur yang ditanam
seperti Kangkung, bayam. Sayuran
dapat dipanen dalam waktu 30 hari.

Selain
materi Lele, UP2M juga menghadirkan narasumber Jonner
Situmorang, M.Si yang memaparkan “Wirausaha
Minyak Atsiri dan Produk Turunannya Perfume
Alami, Freshcare, dan Massage Oil”
menggunakan bahan-bahan rempah.

Menurut
Jonner, rempah adalah bagian tumbuhan yang beraroma
atau berasa kuat yang digunakan dalam jumlah kecil di makanan,
sebagai pengawet  dalam makanan. Rempah/Atsiri/Essential
Oil merupakan metabolit
sekunder yang berfungsi sebagai material pertahanan tanaman.

Sebanyak 40 dari 70 species tanaman atsiri di dunia ada di Indonesia. Sampai saat ini, industri minyak atsiri aromatik masih dihasilkan oleh petani atau para penyuling skala kecil dengan alat suling traditional (drum bekas) yang tersebar di daerah. Peluang usaha berbagai jenis minyak atsiri unik dan bernilai ekonomi.

Teknik
penyulingan
minyak
Atsiri bisa kita lakukan dan sangat sederhana,” tuturnya.  Penyulingan dengan beberapa sistem seperti uap dengan alat drum
sederhana, Teknik Air dan Uap, dan
Redestilasi. Bahan
Baku minyak yang berbeda menghasilkan rendemen dan waktu penyulingan yang
berbeda.

Jonner
menyebutkan bahwa Bimbingan Teknik yang pernah dilakukan
adalah Produksi Minyak Atsiri dan Formulasi Fragrans  untuk Aromatheraphy, Baby Oil, Massage Oil
dan Perfume Alami; Bimtek Vikaris GPIB 2019 (Sereh wangi); Wirausaha minyak
Atsiri di SMK Pertanian.

“Harga
parfum alami lebih mahal dari parfum sintesis, parfum sintetis memiliki efek samping terhadap
kesehatan,
sementara parfum alami sehat dan sangat prospek bisa kita kembangkan di jemaat
kita di pos
pelkes atau di perkotaan,” imbuh Jonner.

Tak
kalah menariknya,  Pelatihan
Jarak
Jauh
seri #2 ini mengusung narasumber Chikita
Lestari, SP yang menyajikan Peluang
Budidaya Ikan Hias di Era Pandemi Covid-19. “Tingkat
permintaan ikan hias air tawar meningkat secara signifikan di masa pandemi Covid-19. Ini peluang pasar yang besar,” tuturnya.

Jenis
ikan yang dibudidayakan adalah ikan rainbow (ikan pelangi) seperti Rainbow
Bosemani, Rainbow Balloon, Rainbow Merah, Rainbow Biru, Rainbow Makaloni,
Rainbow Peacock. Wadah
budidaya bisa di kolam plastik,
box bekas kulkas, box Styrofoam, aquarium, kolam terpal.

Persiapan
pemeliharaan meliputi tahapan: Pembersihan tempat pemeliharaan, isi tandon air
(usahakan air sumur), pengisian tempat pemeliharaan. Proses pemeliharaan:
pakan Pellet dan cacing sutra.
Penggantian air sebanyak 4 hari sekali; Sortir ikan 2 minggu sekali.

Analisis
usahanya, kata Chikita, untuk
10 kolam (masing-masing ukuran 1 x 2 x 0.6 m) dan bibit ikan dan pakan per
bulan sebesar Rp. 1,745,000. Pemeliharaan 30 hari: dari rainbow peacock =
1,728,000 (menutup biaya operasi) dari rainbow bosemani: Rp. 2,880,000 (nett)
(dengan Survival Rate 80%). Keuntungan
bulan ke-4 sebesar Rp. 3,434,000. Kendala
yang mungkin dihadapi jika di kolam ikan di luar rumah adalah ada hama jadi
perlu ditutup waring

Pengurus
UP2M Dr. Lenny Syafei berharap pelatihan yang diberikan tidak sampai disini
saja. Karena itu UP2M memikirkan rencana tindak lanjut.

“UP2M
GPIB akan membentuk grup peserta pelatihan jarak jauh pelkes untuk komunikasi
berikutnya, oleh sebab itu data bapak dan ibu kami butuhkan,” katanya. UP2M GPIB akan
membantu dalam penyediaan bibit (buah atau sayur) dan modul-modul yang praktis
yang bisa langsung diterapkan;

UP2M
GPIB akan memberikan pendampingan jarak jauh, jadi diharapkan agar peserta dari
tiap jemaat membentuk kelompok di jemaatnya masing-masing; langsung  mempraktekan apa yang diperoleh dari
pelatihan dan tetap berkomunikasi dengan UP2M GPIB.

Pembentukan
kelompok dapat dikoordinasikan di tingkat jemaat. Struktur kepengurusan
kelompok, nama kelompok, lokasi kelompok, komoditi yang akan dikembangkan
menjadi data dasar untuk pendaftaran kelompok ke dinas pertanian setempat.

Pelatihan Jarak Jauh Pelkes ini disusun secara berseri (sampai #4). Semua peserta diharapkan bisa mengikuti semua seri pelatihan. Peserta yang mengikuti pelatihan secara penuh akan mendapatkan sertifikat dari UP2M.  /fsp

Bagikan