Logo Persidangan Sinode Raya (PSR) XXII GPIB yang akan berlangsung di Makassar pada 27–31 Oktober 2025 mendatang bukan sekadar karya visual. Ia adalah rangkuman perjalanan iman, sejarah, dan panggilan profetis gereja di tengah zaman yang terus berubah. Dirancang oleh Arthur Noya dari Gerakan Pemuda GPIB Mangngamaseang, logo ini memadukan kekayaan budaya Bugis-Makassar dengan simbol alkitabiah yang sarat makna rohani.
Melalui informasi yang disampaikan panitia kepada redaksi, Logo PSR XXII GPIB memiliki beberapa unsur. Simbol utama yang tampil adalah kapal Pinisi, mahakarya leluhur Bugis-Makassar yang sejak lama menjadi ikon keberanian pelaut Nusantara. Bagi masyarakat setempat, Pinisi bukan hanya sarana transportasi, tetapi juga simbol spiritual: rumah terapung yang menyatukan manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dalam konteks gereja, Pinisi sejalan dengan simbol stola GPIB yang menampilkan bahtera sebagai lambang panggilan gereja untuk berlayar bersama Kristus. Alkitab pun kaya dengan citra kapal, dari Bahtera Nuh hingga perahu murid-murid Yesus yang diterpa badai—semuanya menegaskan bahwa kapal adalah gambaran tentang penyelamatan, ujian iman, dan penyertaan Tuhan.
Tak kalah kuat adalah simbol ombak biru yang diarungi Pinisi. Ombak ini melambangkan arus zaman yang mengguncang: digitalisasi, krisis ekologi, perubahan budaya, hingga tantangan internal gereja sendiri. Ombak bisa menjadi ancaman yang menenggelamkan, namun juga energi yang membawa ke pelabuhan baru bila dihadapi dengan iman dan kreativitas. Di sinilah gereja dipanggil untuk berani mengarungi perubahan, bukan menjauhinya.
Di bagian atas, lengkungan emas tergambar sebagai “Gerbang Emas”—pintu menuju momentum sejarah. Mengingatkan pada tradisi Kristen Bizantium tentang Yesus yang memasuki Yerusalem melalui gerbang itu, simbol ini kini ditarik pada konteks GPIB: sebuah panggilan untuk memasuki perjalanan menuju “GPIB Emas 2048”, bertepatan dengan usia seabad gereja. Momentum PSR XXII bukan hanya ajang pemilihan pemimpin, melainkan pintu transisi menuju arah baru: apakah GPIB akan tetap terjebak pada pola lama, ataukah berani melangkah ke masa depan sebagai gereja yang hidup, kritis, relevan, dan berpihak pada mereka yang kecil dan terabaikan.
Logo ini, pada akhirnya, adalah undangan rohani: setiap presbiter dan jemaat bukanlah penumpang, melainkan awak kapal yang harus menjaga layar tetap tegak, berani menghadapi ombak, dan tidak ragu melangkah ke gerbang emas. Kristus adalah Nahkoda, Roh Kudus adalah angin yang menggerakkan layar, dan tujuan akhir adalah sebuah gereja reformasi yang setia pada Injil, menjadi terang bagi bangsa, serta menyongsong GPIB Emas dengan iman, keberanian, dan kasih.
Dengan begitu, logo PSR XXII GPIB 2025 bukan hanya gambar, melainkan narasi perjalanan iman—bahwa gereja ini adalah Pinisi yang terus berlayar, bukan berlabuh untuk menjemput GPIB Emas, bukan dengan nostalgia, tetapi dengan iman, keberanian, dan kasih.

