Jakarta, 23 Oktober 2025 — Peluncuran Institut W.J. Rumambi berlangsung di GPIB Paulus Jakarta dengan ibadah pembuka yang dilayani oleh Pdt. Melkisedek Eka Puimera. Dalam ibadah ini, juga diperkenalkan susunan pengurus Institut yang membawa nama tokoh besar oikumenis dan kebangsaan, Ds Wilhelm Johannis Rumambi.
Awal Ibadah: Ketulusan dan Cita-cita Pelayanan
Dalam sambutan pembuka, Pdt. Johny Lontoh, Ketua Majelis Jemaat GPIB Paulus – Jakarta, menyampaikan:

“Bicara ketulusan untuk melayani menurut pandangan saya, semua harus dimulai dari diri dan keluarga. Mungkin karena saya orang pastoral. Dan jujur pikiran-pikiran beliau baru saya baca akhir-akhir ini.”
Ia mengenang masa kecilnya bersama keluarga Rumambi:
“Ketika kami dari Bandung datang ke Jalan Patimura… saya masih ingat, om saya bilang begitu, ‘bagus John ya, cuma baik-baik ya jadi pendeta.’ Dan dari situ saya melihat itulah ketulusan untuk melayani.”
Ia menutup dengan ucapan penuh hormat:
“Dalam ketulusan untuk melayani, kami GPIB Paulus menyambut baik acara ini. Dan kalau ada kekurangan mohon dimaafkan. Selamat berproses. Tuhan Yesus memberkati. Shalom.”
Sambutan Departemen Germasa-LH GPIB
Melanjutkan suasana awal ibadah, Pnt. Alex Mandalika, Ketua Departemen Germasa–Lingkungan Hidup GPIB, turut memberikan sambutan penuh makna:

“Hari ini kita merayakan sesuatu yang tidak hanya menjadi milik GPIB, tetapi milik seluruh gereja dan bangsa. Institut W.J. Rumambi adalah ruang belajar, ruang dialog, dan ruang gerak bersama untuk menghadirkan iman yang bekerja melalui kasih di tengah kehidupan berbangsa.”
Ia menegaskan dasar pembentukan institut ini:
“Nama besar Domine W.J. Rumambi adalah simbol dari kerendahan hati, integritas, dan pelayanan lintas batas. Karena itu GPIB merasa terpanggil untuk menghidupkan kembali nilai-nilai itu dalam konteks oikumenis dan demokratis saat ini.”
Mandalika juga menyampaikan harapannya:
“Semoga Institut ini tidak berhenti sebagai lembaga simbolik, tetapi menjadi tempat di mana gagasan dan iman bertemu untuk melahirkan tindakan nyata bagi gereja dan masyarakat Indonesia.”
Dalam khotbahnya, Pdt. Melkisedek Eka Puimera membacakan firman dari Yosua 23:1–10 dan menyampaikan pesan reflektif:

“Yosua itu sangat paham bahwa di bawah matahari ini manusia itu datang dan pergi, lahir dan mati. Tetapi satu hal yang pasti bahwa pekerjaan Tuhan yang telah nyata dalam sejarah umat Israel itu harus tetap tinggal selamanya.”
Ia menegaskan pentingnya mengenang karya Tuhan melalui tokoh-tokoh iman, termasuk W.J. Rumambi:
“Peristiwa hari ini menjadi tradisi yang baik sebab ini menunjukkan apresiasi kita atas sebuah sejarah waktu lampau. Dari sana kita warisi banyak hal, bahkan dalam iman di sana pulalah kita temukan Tuhan dalam karya itu.”
Pdt. Eka juga menyinggung karakter Rumambi:
“Kemahiran organisatori dan jelajah yang luas menembus batas-batas budaya dan keyakinan dari sang hamba Tuhan ini membuat beliau dipercaya sebagai Menteri Penghubung Pemerintah dengan MPR, DPR, DPA, Bappenas, bahkan Front Nasional.”
Ia menutup khotbahnya dengan ajakan:
“Harapan Yosua agar kesetiaan kepada Allah harus dipelihara oleh umat Israel dan keberanian berkata dengan jujur, benar serta tulus dalam melayani oleh Rumambi kiranya mewarnai semua apa yang direncanakan untuk dikerjakan oleh institut ini. Tuhan memberkati saudara-saudara. Amin.”
Orasi Pdt. (Em.) Prof. Drs. John Titaley: “Gereja yang Demokratis untuk Indonesia yang Bersatu”
Dalam orasinya, Pdt. (Em.) Prof. Drs. John Titaley, Th.D., menyoroti warisan teologis dan kebangsaan Rumambi:
“Ada satu hal yang masih menjadi ganjalan dari almarhum adalah gereja Kristen yang Esa di Indonesia. Sebagai tujuan dari pendirian Dewan Gereja-Gereja di Indonesia 25 Mei 1950.”
Ia menjelaskan konteks berdirinya DGI dalam pergulatan politik Indonesia awal kemerdekaan:
“Para pendiri DGI dengan rumusan membentuk gereja Kristen yang Esa, jelas memilih kesatuan daripada serikat. Gereja-gereja kekristenan di Indonesia mendukung keberadaan Indonesia yang didirikan tahun 45 sebagai anugerah dari Tuhan.”
Titaley menegaskan pentingnya paradigma baru:
“Kita harus memahami yang ilahi dalam suatu negara demokrasi yang menghargai semua secara setara apapun agamanya. Karena itu kita butuh cara bergereja yang demokratis.”
Sambutan Kemenag RI: “Menjadi Ruang Iman yang Teduh dan Dialogis”

Mewakili Dirjen Bimas Kristen Dr. Jeane Marie Tulung, Pdt. Marvel Kawatu menyampaikan pesan:
“Nama W.J. Rumambi bukan hanya sebuah nama besar, tetapi juga simbol dari perjuangan iman yang berpihak pada kemanusiaan.”
Ia menegaskan relevansi institut ini:
“Institut W.J. Rumambi menemukan relevansinya melalui tiga ruang lingkup pelayanannya yaitu penguatan pelayanan masyarakat, pengkaderan warga gereja untuk gereja dan bangsa, serta pengkajian dan pengembangan demokrasi.”
“Lembaga ini menjadi rumah bersama bagi siapapun yang rindu melihat Indonesia yang damai, demokratis, dan berkeadilan.”
Sambutan Keluarga: “Tempat Ini Penuh Sejarah bagi Kami”

Mewakili keluarga, Pdt. Paulus Kariso Rumambi menyampaikan kesan mendalam:
“Puji Tuhan hari ini bisa terlaksana launching atau peluncuran Institut W.J. Rumambi. Apalagi di tempat yang sangat bersejarah. GPIB Paulus ini tempat di mana Dewan Gereja-Gereja di Indonesia dibicarakan untuk dibentuk.”
Ia mengenang kiprah kedua orang tuanya:
“Di belakang kehidupan ayah saya tentu ada yang menopangnya, yaitu ibu saya, Ibu Juliana Marce Rumambi Kolopita… beliau lebih banyak berorganisasi ketimbang ayah saya.”
Pdt. Kariso juga berterima kasih kepada pihak-pihak yang menggagas institut:
“Terima kasih banyak kepada GPIB, dalam hal ini Departemen Germasa… mereka yang menggagas, menginisiasi, memprakarsai pengadaan Institut W.J. Rumambi.”
Sambutan LAI: “Menyatukan yang Berbeda”
Mewakili Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat Lebang menuturkan:

“Beliau sebagai salah seorang pendiri dari Lembaga Alkitab Indonesia yang didirikan tahun 1954. Semangat oikumenisnya membuat banyak lembaga lahir bersama.”
Ia menegaskan warisan Rumambi dalam Alkitab terjemahan baru:
“Alkitab itu terjemahan Indonesia dilakukan tidak hanya untuk Protestan tetapi bersama-sama dengan gereja Katolik… Indonesia negara pertama yang memiliki satu Alkitab dalam bahasa Indonesia untuk umat Kristen.”
“Tugas kami umat Kristen di Indonesia ialah turut mengusahakan kesejahteraan, perdamaian, keadilan dan ketertiban untuk seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya untuk golongan Kristen.”
Sambutan PGI: “Integritas yang Langka”
Sekretaris Umum PGI Pdt. Darwin Darmawan menyampaikan apresiasi:

“Ini indikator bagaimana GPIB menghidupi eklesiologi yang mengikuti irama spiritualitas Kristus… gereja yang berbicara tentang pentingnya membangun gereja ramah demokrasi.”
Ia mengenang keteguhan Rumambi:
“Ketika ditawari jabatan Menteri Sosial, almarhum menolak… Ini integritas, kesederhanaan, dan ketulusan yang perlu ada dalam kehidupan kita sebagai masyarakat Indonesia.”
Sambutan GPIB: “Ruang Dialog dan Partisipasi”

Mewakili Majelis Sinode GPIB, Pdt. Manuel E. Raintung menegaskan:
“Institut W.J. Rumambi digagas dan diinisiasi oleh GPIB bukan karena Paulus Kariso Rumambi… visinya adalah terwujudnya kehidupan yang ekumenis dan demokratis.”
Ia menambahkan:
“Ini bukan institut pendidikan, tetapi institut untuk kita menjadikannya sebagai ruang dialog, ruang belajar, dan ruang partisipasi seluruh gereja-gereja… Kami mempersembahkan Institut W.J. Rumambi bukan hanya untuk GPIB, tetapi untuk semua.”
Warisan yang Hidup
Peluncuran Institut W.J. Rumambi menjadi simbol semangat lintas generasi: menghidupkan warisan iman, oikumenisme, dan cinta tanah air sebagaimana diteladankan oleh almarhum.
Peluncuran Buku
Selain itu, dalam acara ini diadakan juga Peluncuran 2 buku, bekerjasama dengan BPK Gunung Mulia masing – masing berjudul Menuju Gereja Ramah Demokrasi dan Teologi Publik Wilhelm Johannis Rumambi.
Selengkapnya dapat disaksikan dalam tayangan berikut : https://youtu.be/537nr8f7c-Y?t=2640 (Kanal Youtube GPIB Indonesia)


