MAGELANG – GPIB “Beth-El” Magelang adalah jemaat yang memiliki akar sejarah panjang di jantung Kota Magelang, Jawa Tengah. Para ahli sejarah menyebut keberadaan gedung gereja ini hadir sejak sekitar dua abad silam, bahkan sebelum Perang Diponegoro.
Empat tempat ibadah utama; Masjid Agung yang didirikan tahun 1812, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Beth-El (1817), Gereja Katolik Santo Ignatius (1892), dan Klenteng Liong Hok Bio (1864) —berlokasi berdekatan di sekitar Alun-Alun Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah.
Keberadaan empat tempat ibadah yang berusia ratusan tahun ini menjadi simbol nyata kerukunan dan toleransi beragama serta harmoni keberagaman yang tumbuh subur di Magelang sejak Abad XIX.
Di kawasan bersejarah ini, gereja terpanggil untuk menjadi saksi masa lalu sekaligus pelaku aktif dalam kehidupan bermasyarakat di Magelang.
Sebagai gereja yang letaknya berlokasi di pusat pemerintahan dan aktivitas publik, dinamika sosial dan ekonomi selalu menjadi bagian dari realitas pelayanan. Di sisi lain, ada pergumulan konkret yang dihadapi Jemaat GPIB “Baith-El,” yaitu persoalan perparkiran dan mobilitas masyarakat di kawasan alun-alun.
Jemaat memahami bahwa gereja adalah tubuh Kristus yang dipanggil bukan hanya untuk merayakan ibadah ritual di dalam gedung gereja, tetapi juga menghadirkan ibadah aktual dalam kehidupan nyata sehari-hari. Iman tidak berhenti pada liturgi, iman harus bekerja melalui kasih dan tanggung jawab jemaat di tengah masyarakat.
Selama masa kepemimpinan Ketua Majelis Jemaat (KMJ) Pendeta Monica Betsi Sarah Joris-Latumaerissa STh, M.Min, jemaat bersyukur atas keberhasilan mendapatkan sertifikat gereja. Keberhasilan ini merupakan wujud peneguhan legalitas dan perlindungan aset pelayanan.
Di sisi lain, ada masa-masa ketika angka pada Laporan Keuangan tidak lagi sekadar deretan nominal, tetapi menjadi cermin kegelisahan semua pihak. Saldo Kas Jemaat menipis padahal kebutuhan operasional tetap berjalan.
Pelayanan harus dilanjutkan dan Komisi Pembangunan Ekonomi Gereja (PEG) harus berupaya maksimal untuk menopang keberlanjutan pelayanan.
Di ruang rapat, pertanyaan itu terus menggema, bagaimana gereja akan bertahan? Sunyi, tidak ada suara. Bukan karena tidak peduli, karena semua menyadari bahwa persoalan ini bukan sekadar soal uang melainkan keberanian iman untuk bertindak nyata.

Keberanian Iman
Disaat berada di titik terendah, Tuhan menguji keberanian seluruh jemaat. Setelah melalui proses dialog panjang yang diwarnai pro dan kontra, akhirnya halaman gereja diberdayakan sebagai lahan parkir pada Desember 2019, dua bulan sebelum wabah Covid-19 merebak di Indonesia.
Langkah ini bukan semata-mata pragmatis, tetapi keberanian iman untuk mengelola talenta yang Tuhan percayakan. Keputusan untuk mengelola lahan parkir secara mandiri, bukan menyerahkannya kepada pihak ketiga. Dan, ini menjadi tonggak penting.
Di sini lahir karya Komisi PEG pertama yang menopang keberlangsungan pelayanan. Namun, usaha parkir ini bukan semata-mata karena alasan keuangan, juga menjadi wujud pemberdayaan jemaat dan pelaksanaan nyata dari semangat yang tertuang dalam Pokok-pokok Kebijakan Umum Panggilan dan Pengutusan Gereja (PKUPPG), yaitu membangun kemandirian ekonomi jemaat sebagai bagian integral dari panggilan gereja.
Langkah pertama akhirnya melahirkan keberanian kedua. Sekitar enam tahun tepatnya tahun 2025, pada era kepemimpinan Ketua Majelis Jemaat (KMJ) Pendeta Yannadelle Hehanusa Sahetapy, STh, MSi, visi kemandirian itu berkembang, tidak berhenti pada pengelolaan parkir.
Apalagi saat itu, salah satu ujian paling nyata adalah laporan saldo Kas Jemaat yang kembali menipis, yaitu mendekati angka Rp 30 juta, sementara kebutuhan operasional sekitar Rp 35 juta per bulan.
Tuhan sering memakai keadaan sulit dan terjepit untuk membangunkan gereja dari zona nyaman. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menumbuhkan dan menguatkan. Gereja diajak melangkah lebih jauh, yaitu menghadirkan ruang kuliner yang tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan dan pemberdayaan.
Ada kekhawatiran. Ada pertanyaan dan ada rasa tidak nyaman. Apakah ini pantas? apakah ini tidak mengurangi kekudusan? dan apakah gereja menjadi terlalu duniawi?
Pergumulan itu nyata. Air mata doa mungkin tidak terlihat, tetapi ada. Perlahan-lahan kesadaran itu tumbuh. Bukankah talenta harus dikelola? Bukankah gereja dipanggil bukan hanya berdoa, tetapi juga bertindak?
Dari situlah lahir PEG kedua, yaitu PEG Kuliner berwujud Kantine “Van Der Steur.” Kantin ini hadir bukan dari kelimpahan, tetapi karena keterdesakan.
Dari saldo Kas Jemaat yang hampir kosong, secara perlahan-lahan mulai ada ruang untuk bernafas. Dari kecemasan, hadir pengharapan. Gereja belajar bahwa situasi kepepet menjadi alat Tuhan untuk melahirkan kemandirian.

Spiritualitas Pelayanan
Nama “Van Der Steur” bukan sekadar romantisme sejarah. Ia adalah peneguhan nilai dan spiritualitas pelayanan. Johannes Van der Steur menjual seluruh hartanya demi mendirikan Panti Asuhan di Magelang dan mengasuh sekitar 1.100 anak. Ia menghadirkan kasih yang konkret, bukan dalam kata-kata, tetapi melalui pengorbanan total.
Salah satu anak asuhnya adalah Pak Paring, yang kini menjadi bagian dari keluarga besar GPIB Jemaat “Beth-El” Magelang. Kisah ini menjadi jembatan antara sejarah dan masa kini: kasih yang ditabur dengan iman akan berbuah lintas generasi.
Penggunaan nama itu, gereja menegaskan bahwa Kantine “Van Der Steur” adalah perpanjangan semangat diakonia, di mana iman yang bekerja melalui kasih yang nyata dan pelayanan yang berdampak.
Kehadiran kantin juga menghadirkan sesuatu yang lebih luas dari sekadar ekonomi, yakni ruang perjumpaan dan kebersamaan lintas iman. Di ruang sederhana itu, percakapan lintas iman terjadi. Masyarakat dari berbagai latar belakang duduk bersama, berbagi cerita, dan membangun komunikasi.
Di kota yang sejak Abad XIX masyarakatnya hidup dalam keberagaman, Kantine “Van Der Steur” menjadi ruang kebersamaan baru. Di sana gereja tidak kehilangan kekudusannya, tapi menghadirkan kehadiran Kristus melalui keramahan, dialog, dan keterbukaan.
GP Motor Penggerak
PEG kedua ini juga menjadi wadah regenerasi. Gerakan Pemuda (GP) berperan sebagai motor penggerak melalui promosi media sosial (Medsos) dan kreativitas digital.
Dengan penuh syukur kepada Tuhan Yesus Kepala Gereja, Kantine “Van Der Steur” diresmikan pada hari Minggu (15/2/2026) oleh Bendahara Majelis Sinode GPIB, Penatua Steven Glen Tunas S.Pi, disaksikan unsur Wali Kota Magelang, dan Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah.
Dukungan ini meneguhkan bahwa gereja hadir bukan hanya di ruang internal, tetapi juga sebagai mitra pembangunan sosial di ruang publik.
Jemaat GPIB “Beth-El” Magelang percaya bahwa gereja yang berakar dalam Kristus akan selalu menemukan cara terbaik untuk menjadi terang dan garam di tengah kota. Mereka berani melangkah karena iman, kami berani mengelola karena tanggung jawab. Dan, kami berani berinovasi karena kasih Kristus.
Dua PEG ini bukan sekadar program, tetapi pernyataan bahwa gereja hidup, bergerak, dan bertumbuh. Apa yang lahir dari kepepet, Tuhan mengubahnya menjadi berkat. Apa yang dimulai dari saldo tipis, Tuhan menjadikan kesaksian iman. Itu semua terjadi bukan karena jemaat kuat. Tetapi karena Tuhan setia.
Kiranya semangat ini menginspirasi jemaat GPIB di mana pun Tuhan mengutus. Amin.
Penulis: Penatua Reno Ranuh/Ketua II PHMJ GPIB Jemaat “Beth-El” Magelang
Editor: Novy Lumanauw

