Sibolga, 28 Maret 2026 — Suasana penuh syukur menyelimuti halaman Gedung GPIB Jemaat Siloam Sibolga pada Sabtu sore (28/3). Di tengah pemulihan pasca bencana yang masih dirasakan warga, kegiatan Bakti Sosial (Baksos) Pengobatan Gratis yang digelar Yayasan Kesehatan (Yankes) GPIB menjadi oase harapan bagi ratusan masyarakat.

Perjalanan panjang ditempuh oleh tim pelayanan dari Jakarta. Fungsionaris Majelis Sinode GPIB, Pnt. Christ Wangkay (Unit Penanggulangan Bencana, Dept. Pelkes – CC GPIB), Perwakilan Mupel SUMUT-ACEH bersama Ketua Yankes GPIB dan tim kesehatan menempuh perjalanan sekitar 10 jam dari Medan melalui jalur berkelok menuju Sibolga sejak 27 Maret 2026. Namun, kelelahan itu terbayar lunas ketika melihat antusiasme masyarakat yang datang dari berbagai kalangan usia—mulai dari anak-anak hingga lansia.
Kegiatan yang semula menargetkan 100 peserta justru melampaui ekspektasi. Sebanyak 665 jiwa menerima pelayanan, mulai dari pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan laboratorium, pembagian obat-obatan, sembako, hingga kacamata baca.
Ketua Yayasan Kesehatan GPIB, dr. Griselda Aer, menegaskan bahwa kehadiran tim bukan sekadar menjalankan tugas organisasi, melainkan panggilan kemanusiaan.

“Hari ini saya dan tim hadir bukan hanya sebagai pimpinan dan pengurus Yayasan Kesehatan GPIB, tetapi sebagai sesama manusia yang terpanggil untuk berbagi kasih, kepedulian, dan penguatan. Kehadiran kami adalah bentuk nyata bahwa GPIB tidak berjalan sendiri, dan masyarakat Sibolga tidak sendirian menghadapi situasi ini.”
Ia juga menjelaskan bahwa pelayanan ini merupakan respons terhadap kondisi pascabencana yang rentan terhadap berbagai penyakit.

“Melalui kegiatan pengobatan gratis pasca bencana, Yayasan Kesehatan GPIB bersama tenaga medis dan relawan berupaya memberikan layanan pemeriksaan kesehatan, pengobatan dasar, pemeriksaan darah dan pembagian kacamata baca bagi warga terdampak. Kami memahami bahwa pasca bencana, ancaman penyakit sering meningkat seperti infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit, diare, demam, hipertensi yang kambuh, serta gangguan psikologis akibat trauma.”
Pelayanan ini tidak hanya menjadi aksi sosial, tetapi juga wujud nyata dari visi Yankes GPIB untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang holistik—menyentuh aspek fisik, mental, dan spiritual masyarakat.

Ketua Pembina Yankes GPIB yang juga Ketua II Majelis Sinode XXII GPIB, Pdt. Semuel Karinda, menyoroti luasnya jangkauan pelayanan yang bahkan melibatkan lintas komunitas.
“Sebagai ketua Pembina Yankes GPIB tugas pelayanan yang kami lakukan saat ini bekerja sama dengan MUPEL SUMUT ACEH dan menjadi titik pusat kesaksian pelayanan kami ada di GPIB SILOAM Sibolga dan ternyata kehadiran umat untuk pemerikasaan kesehatan juga diikuti oleh saudara-saudara kita umat Muslim yang ada disekitar kompleks GPIB Siloam.”

Ia juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari iman, mengingat bencana ekologis yang masih berdampak hingga kini.
Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat GPIB Siloam Sibolga, Pdt. Surianti Tundu, mengungkapkan rasa syukur atas dukungan luas yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan ini.

“Syukur kepada Tuhan yang telah menggerakkan banyak sahabat-sahabat GPIB yang bermurah hati mengulurkan tangan untuk mengumpulkan donasi bencana…”
Ia juga menambahkan bahwa antusiasme masyarakat dan jemaat menjadi pengalaman yang sangat mengharukan.

“Selain merasa haru atas antusias masyarakat yang melebihi ekspektasi kami, saya pun merasa sangat terharu menyaksikan antusias jemaat sejak persiapan hingga pelaksanaan baksos.”
Gambaran suasana penuh kehangatan dan pemulihan juga disampaikan oleh Sekretaris I Majelis Sinode GPIB, Pdt. Emmawati Baule.

“Senyum mulai kembali merekah di wajah-wajah yang sempat diliputi duka. Sabtu menjelang sore ini, halaman GPIB Siloam Sibolga berubah menjadi rumah pemulihan yang hangat.”
Ia menekankan bahwa kegiatan ini merupakan lebih dari sekadar pelayanan medis.
“Lebih dari sekadar pelayanan medis, kegiatan ini adalah respons iman atas bencana ekologis yang menyisakan luka bagi warga jemaat November 2025 lalu.”
Dengan kolaborasi tenaga medis dari Jakarta dan Sibolga, serta keterlibatan lintas iman, kegiatan ini menjadi simbol kuat persatuan dan kepedulian kemanusiaan. Dari total penerima layanan, tercatat 346 pasien umum, 201 pemeriksaan laboratorium, dan 118 penerima kacamata baca—angka-angka yang mencerminkan besarnya kebutuhan sekaligus harapan yang dipulihkan.

Menutup kegiatan ini, harapan besar disematkan agar aksi serupa tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan terus berlanjut sebagai gerakan pelayanan berkelanjutan.
“Harapan kami, kegiatan ini bukan hanya menjadi momen pemulihan dari trauma pascabencana, tetapi juga percikan api yang memotivasi banyak pihak untuk terus bergerak dalam aksi-aksi kemanusiaan.”
Di tengah keterbatasan dan luka yang masih tersisa, Bakti Sosial ini menjadi bukti nyata bahwa kasih, kepedulian, dan kebersamaan mampu menghadirkan pemulihan—bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi hati dan harapan masyarakat Sibolga.at


