Tapanuli Tengah – Komitmen membangun masyarakat tangguh bencana terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, gereja, dan berbagai pemangku kepentingan. Dalam rangkaian kegiatan Bulan Pelayanan dan Kesaksian (Pelkes) GPIB Tahun 2026 di Sibolga dan Tapanuli Tengah, rombongan Majelis Sinode GPIB, Departemen Pelkes, Crisis Center (CC) GPIB dan Mupel Sumut Aceh melakukan pertemuan dengan Wakil Bupati Tapanuli Tengah, Mahmud Efendi Lubis, pada 6 Juni 2026 lalu di Kantor Bupati Tapanuli Tengah. Pertemuan tersebut difasilitasi oleh Pdt. Drs. Jonathan Victor Rembeth, M.Div., M.Arts. dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dalam pertemuan tersebut, Wakil Bupati Mahmud Efendi Lubis menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan keterlibatan GPIB dalam mendukung upaya pengurangan risiko bencana di wilayah Tapanuli Tengah. Menurutnya, gereja memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran masyarakat karena mampu menjangkau berbagai kelompok di tengah kehidupan sosial.

“Tentunya untuk menciptakan suatu gereja yang tangguh bencana kita mulai dari gereja, jadi dari gereja ini lebih gampang lagi untuk mengedukasi masyarakatnya,” ujar Mahmud Efendi Lubis.
Ia menegaskan bahwa upaya membangun masyarakat tangguh bencana tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah. Diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk gereja, untuk memberikan edukasi yang berkelanjutan sehingga masyarakat memiliki pemahaman yang sama dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
Selain itu, pemerintah daerah juga menyambut baik berbagai aksi nyata yang dilakukan GPIB, termasuk kegiatan penanaman pohon sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan pascabencana.

“Kami selaku pemerintah sangat mendukung sekali langkah-langkah dan upaya yang sudah dilakukan oleh Gereja maupun dari BNPB yang mengajak GPIB ini melaksanakan kegiatan ini di tengah-tengah masyarakat Tapanuli Tengah,” kata Mahmud.
Sementara itu, Ketua I Majelis Sinode XXII GPIB, Pdt. Henry Tamaela, menjelaskan bahwa keterlibatan GPIB di Sibolga dan Tapanuli Tengah bukanlah kegiatan yang bersifat sesaat. Menurutnya, sejak akhir tahun 2025 GPIB telah beberapa kali hadir di wilayah tersebut melalui berbagai program pelayanan dan aksi kemanusiaan sebagai respons atas bencana yang terjadi. Ia menyebutkan bahwa pada Maret 2026 GPIB juga telah melaksanakan bakti sosial kesehatan bagi masyarakat.

Dalam penjelasannya, Pdt. Henry menegaskan bahwa Bulan Pelkes merupakan bagian dari panggilan utama gereja untuk melayani masyarakat. Karena itu, rangkaian kegiatan tahun ini kembali dipusatkan di Sibolga dan Tapanuli Tengah dengan fokus pada penguatan kapasitas masyarakat dan gereja dalam menghadapi bencana.
“Kalau gereja-gereja sekarang mulai menyadari pentingnya terlibat dalam mitigasi, dalam pelayanan terhadap situasi bencana baik lingkup nasional atau daerah, kami menetapkan diri bahwa GPIB itu akan menjadi gereja tangguh bencana,” ungkapnya.
Selain pembinaan mengenai gereja tangguh bencana bersama BNPB dan unit tangguh bencana GPIB, rombongan juga melaksanakan penanaman pohon di kawasan hunian tetap Sibolga, bakti sosial, serta aksi kepedulian bersama di GKPI Hutanabolon dan HKBP Sipange sebagai bentuk dukungan terhadap proses pemulihan masyarakat dan gereja-gereja terdampak.

Pdt. Henry menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan tersebut sejalan dengan visi GPIB untuk menghadirkan kebenaran, keadilan, dan pemulihan di tengah masyarakat.
“Semangat kami adalah karena Tapanuli Tengah dan Sibolga dalam masa pemulihan, kami punya semangat juga untuk terlibat dalam pemulihan pasca bencana,” tuturnya.at
