GPIB Keluarkan Sikap Resmi Soal Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)
GPIB, Jakarta – Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap terhadap bencana kebakaran hutan dan…
GPIB Hadirkan Tiga Rumah Oksigen Bagi Warga Terdampak Karhutla
Rumah Oksigen GPIB Ebenhaezer Palangka Raya resmi dibuka untuk masyarakat umum pada Rabu, 30 September 2026. Peresmian dihadiri oleh perwakilan PGIW Kalimantan…
Menjemaatkan Dokumen Keesaan Gereja dalam Kehidupan Spiritualitas Praksis Jemaat
GPIB, Jakarta – Diskusi lewat webinar soal sosialisasi Dokumen Keesaan Gereja (DKG) yang diselenggarakan oleh Mupel Banten bersama Departemen Germasa MS GPIB…
Semarak HUT ke-78 GPIB dan ke-331 Gedung Gereja Sion, Beragam Kegiatan Disiapkan
JAKARTA – Majelis Sinode GPIB bersama GPIB Jemaat Sion Jakarta akan menyelenggarakan rangkaian kegiatan Journey of Grace GPIB 2026 dalam rangka menyambut…
75 Pendonor Berbagi Kehidupan bagi Sesama di GPIB Kinasih
GPIB, Tangerang Selatan – Donor darah yang diselenggarakan GPIB Jemaat Kinasih pada Sabtu (19/9) bertempat di Gedung Serbaguna GPIB Kinasih mendapat respons…
GPIB, Banyuwangi – Tahun ajaran baru 2027/2028 segera akan dimulai dan banyak skeolah berbenah untuk menyambut murid baru. […]
brurce_admin2 menit baca
GPIB, Banyuwangi – Tahun ajaran baru 2027/2028 segera akan dimulai dan banyak skeolah berbenah untuk menyambut murid baru. Salah satu sekolah yang juga ikut bebenah adalah TK-SD Kristen Petra Banyuwangi dibawah naungan Yayasan Pendidikan Kristen (Yapendik) GPIB cabang Immanuel Banyuwangi yang berada di Jalan Letjen Sutoyo Siswomiharjo No. 38, Banyuwangi.
Ibu Suhardita salah seorang guru di sekolah itu bercerita bahwa saat ini jumlah murid yang akan menjalani tahun ajaran baru berjumlah 16 anak.
“Jadi tiap kelas terdiri dari 2 atau 3 siswa sehingga totalnya 16 siswa. Tahun ini meluluskan 2 siswa dan masuk sekolah negeri di tingkat SMP,” kata ibu Suhardita yang menjadi satu-satunya guru ASN.
Ia menambahkan, siswa Sekolah Kristen Petra diperuntukan tidak hanya warga Kristen tetapi juga warga sekitar yang memasukan anaknya di sekolah ini. “Biayanya tidak bayar, karena kami yang mencarikan donatur bagi siswa-siswa itu sehingga anak tinggal belajar saja di sini,” ujarnya.
Gedung sekolah terdiri dari kelas 1 hingga kelas 6, lalu ada ruang guru, ruang kelas TK, lapangan tempat bermain, taman baca dan area halaman ditumbuhi sejumlah pohon Kencana yang rindang sehingga suasana sekolah adem.
Soal jumlah siswa yang sedikit, upaya yang dilakukan pihak sekolah menurut bu Suhardita telah melakukan berbagai cara memberikan promosi dan sosialisasi.
“Kami menjemput bola dengan mengunjungi gereja-gereja sekitar dan menyampaikan bahwa sekolah ini menerima siswa baru bahkan menerima siswa disabilitas. Bahkan siswa kami yang disabilitas tuna runggu yang tadinya tidak bisa mengikuti pelajaran secara umum, kini dapat mengikuti dan nilainya cukup baik,” terang ibu Suhardita.
Ibu Suhardita yang memasuki pensiun di bulan Oktober tahun ini dan masuk sekolahdan menjalani piket berharap, sekolah ini tetap ada meski siswanya sedikit.
“Harapan saya, sekolah kristen ini tetap ada karena jadi sekolah kristen satu-satunya di Kecamatan ini dan guru-gurunya tetap semangat khususnya lagi Yapendik GPIB untuk mendukung sekolah ini,” tandasnya.
Bendahara sekolah itu, Max Arens Walalalyo mengaku tantangan yang dihadapi pihak sekolah selain mencari siswa baru juga mencari dontur khusus untuk menunjang kegiatan sekolah.
“Ya itu harapan kami agar sekolah ini banyak orantua yang memasukan anaknya untuk sekolah di tempat ini dan juga kami mencari donatur-donatur khusus untuk menunjang kegiatan kami,” katanya.(lip)