Pada hari kedua persidangan sinode GPIB, Pendeta Ebser Lalenoh merefleksikan laporan kerja unit misioner dan mendorong transformasi pada pertanggungjawaban kualitas program dan dampak bagi jemaat.
Sejak awal persidangan, Majelis Sinode (MS) melalui Ketua Umum telah mencanangkan sidang gerejawi tahun ini sebagai persidangan dalam kebenaran dan keadilan. Namun di hari kedua—ketika berbagai unit misioner mulai mempresentasikan laporan pertanggungjawaban—tema itu tidak lagi terdengar sebagai slogan.
Pendeta Ebser Lalenoh, Sekretaris Umum MS GPIB, menyebut momen ini sebagai langkah awal rasionalisasi bersama.
“Melalui persidangan ini, kita merasionalisasi semua peserta. Harus ada perubahan hati dan pikiran. Nurani pelayanan harus menjadi penekanan utama,” ujarnya di sela-sela persidangan, Kamis, 12 Februari 2026.
Laporan yang Lebih dari Sekadar Formalitas
Satu per satu unit misioner menyampaikan laporan bidang masing-masing—tentang program, capaian, penggunaan anggaran, hingga evaluasi pelaksanaan. Secara kuantitatif, banyak kegiatan berjalan. Program terlaksana. Agenda sinodal dijalankan.
Namun, menurut Pendeta Ebser, pertanyaan yang lebih penting adalah kualitasnya.
“Kuantitas bisa tercapai, tetapi kualitas belum tentu maksimal. Kita harus jujur melihat apakah yang kita kerjakan benar-benar membangun jemaat, memperkuat persekutuan, dan menghadirkan dampak,” katanya.
Beberapa laporan masih menyisakan catatan. Ada unit pelaksana yang belum menyelesaikan laporan pertanggungjawaban, padahal penggunaan anggaran sudah signifikan. Ada kegiatan yang berjalan, tetapi evaluasi dampaknya belum jelas.
Bagi MS, laporan bukan sekadar kewajiban administratif. Ia adalah wujud integritas.
“Kita harus mulai dengan laporan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Diungkapkan apa adanya, termasuk persentase pencapaian dan kekurangannya.”
Hari kedua pun berubah menjadi ruang refleksi kolektif—bukan hanya memaparkan keberhasilan, tetapi juga mengakui keterbatasan.
Dari Rutinitas ke Pertanggungjawaban
Dalam evaluasinya, Pendeta Ebser menyoroti mentalitas lama yang masih membayangi sebagian pelayanan.
“Kalau hanya asal melakukan kegiatan, itu tidak cukup. Muatan perancangan harus tercapai. Jemaat harus merasakan dampaknya—merasa diteguhkan, mau terlibat, mau ikut membangun.”
Ia menilai, beberapa kegiatan selama ini dilakukan karena kebiasaan. Bahkan ada kepuasan internal karena program berjalan. Namun, ia berpandangan bahwa basis dari evaluasi adalah kesesuaian dengan amanat Tuhan.
“Kalau tidak sesuai amanat Tuhan, hasilnya tidak maksimal. Kita bercermin dari Firman Tuhan untuk melakukan pelayanan. Itu fondasi kita.”
Karena itu, tema keadilan dan kebenaran menurutnya perlu menjadi trending topic yang bukan sekadar wacana, melainkan kerangka evaluasi atas setiap laporan komisi yang disampaikan.
Think Tank Sinodal, Program dan Pantauan Kinerja
Ke depan, Pendeta Ebser berpandangan bahwa evaluasi akan dilakukan secara berkala melalui Unit Percepatan Transformasi Sinodal (UPTS), yang dibentuk belum lama ini. Tim ini tidak saja berfungsi sebagai think tank MS, namun juga merancang, mengamati, dan mengevaluasi pelaksanaan program berdasarkan PKUPPG dan misiologi GPIB. Evaluasi tidak lagi bersifat insidental, melainkan dilakukan secara berkala.
“Kita tidak bisa berjalan dengan visi kerja masing-masing. Sebelas orang MS harus melangkah searah. Semua unit pelayanan harus punya roh yang sama,” ujar Pdt. Ebser.
Dalam konteks laporan komisi yang dipresentasikan, keberadaan tim ini diharapkan membantu memastikan bahwa setiap program tidak hanya selesai di atas kertas, tetapi juga terukur output dan outcome-nya.
Ia bahkan menggunakan istilah yang lebih manajerial: KPI, output, outcome—sebuah pendekatan yang menunjukkan gereja pun perlu tata kelola yang akuntabel, tanpa kehilangan dasar teologisnya.
Pembaruan yang Dimulai dari Diri Sendiri
Namun bagi Pendeta Ebser, sistem sebaik apa pun tidak akan efektif tanpa pembaruan batin.
“Kita harus mulai dengan pembaruan akal budi. Hati nurani yang murni, pikiran yang jernih, dituntun oleh Roh Kudus. Ini gerejanya Tuhan,” katanya.
Ia menekankan pentingnya keteladanan. Jika pimpinan tidak bergerak, perubahan tidak akan terjadi. Etos kerja dan kecerdasan rohani harus berjalan bersama.
Pendampingan akan dilakukan. Semua bidang akan diawasi dan didampingi. Namun jika tidak ada perubahan, langkah tegas pun harus diambil.
“Kita tidak bisa membiasakan orang tidak produktif. Pelayanan harus berbuah. Itu fondasi Alkitab,” tutur Pendeta Ebser. “kita tidak bisa bersembunyi di balik ungkapan inikan pelayanan, kasihan. Pengabdian harus totalitas, kita harus berbuah. Itu fondasi Alkitab yang kalau tidak berbuah (maka) dipotong dan ditebang.”
Hari kedua persidangan sinode ini karenanya bukan sekadar laporan dan program. Sinode menyerukan panggilan untuk kembali ke jati diri gereja.
“Kita harus melakukan segala sesuatu dengan bertanggung jawab. Ukurannya kebenaran firman Tuhan, bukan kebenaran diri sendiri dan kata orang,” ujar Pendeta Ebser. “Itu jadi kesaksian yang murni, GPIB yang maju, dan di dalamnya mengimplementasikan Firman Tuhan.”
(CP)

