GPIB Indonesia
  • Media GPIB
  • Tentang GPIB
    • TENTANG GPIB
    • Visi dan Misi
    • Pemahaman Iman
    • Majelis Sinode GPIB
    • Presbiterial Sinodal
    • PKUPPG
  • DIREKTORI
    • Departemen
    • Gereja
    • Pendeta
    • Yayasan
      • YAPENDIK
      • YAYASAN DIAKONIA
      • YAYASAN KESEHATAN
  • Berita & Artikel
    • SINODE
    • Kegiatan
      • M I S I O N E R
      • D I A K O N I A
    • Kegiatan PELKAT
      • PELKAT PA
      • PELKAT PT
      • PELKAT GP
      • PELKAT PKP
      • PELKAT PKB
      • PELKAT LANSIA
    • P E R S P E K T I F
      • I N S P I R A S I
      • Sosok
  • Sabda Digital
  • Hubungi Kami

GPIB Indonesia

  • Media GPIB
  • Tentang GPIB
    • TENTANG GPIB
    • Visi dan Misi
    • Pemahaman Iman
    • Majelis Sinode GPIB
    • Presbiterial Sinodal
    • PKUPPG
  • DIREKTORI
    • Departemen
    • Gereja
    • Pendeta
    • Yayasan
      • YAPENDIK
      • YAYASAN DIAKONIA
      • YAYASAN KESEHATAN
  • Berita & Artikel
    • SINODE
    • Kegiatan
      • M I S I O N E R
      • D I A K O N I A
    • Kegiatan PELKAT
      • PELKAT PA
      • PELKAT PT
      • PELKAT GP
      • PELKAT PKP
      • PELKAT PKB
      • PELKAT LANSIA
    • P E R S P E K T I F
      • I N S P I R A S I
      • Sosok
  • Sabda Digital
  • Hubungi Kami
SINODEKegiatan

Sekum MS: Berbuah atau Ditebang

February 12, 2026

Pada hari kedua persidangan sinode GPIB, Pendeta Ebser Lalenoh merefleksikan laporan kerja unit misioner dan mendorong transformasi pada pertanggungjawaban kualitas program dan dampak bagi jemaat.

Sejak awal persidangan, Majelis Sinode (MS) melalui Ketua Umum telah mencanangkan sidang gerejawi tahun ini sebagai persidangan dalam kebenaran dan keadilan. Namun di hari kedua—ketika berbagai unit misioner mulai mempresentasikan laporan pertanggungjawaban—tema itu tidak lagi terdengar sebagai slogan.

Pendeta Ebser Lalenoh, Sekretaris Umum MS GPIB, menyebut momen ini sebagai langkah awal rasionalisasi bersama.

“Melalui persidangan ini, kita merasionalisasi semua peserta. Harus ada perubahan hati dan pikiran. Nurani pelayanan harus menjadi penekanan utama,” ujarnya di sela-sela persidangan, Kamis, 12 Februari 2026.

Laporan yang Lebih dari Sekadar Formalitas

Satu per satu unit misioner menyampaikan laporan bidang masing-masing—tentang program, capaian, penggunaan anggaran, hingga evaluasi pelaksanaan. Secara kuantitatif, banyak kegiatan berjalan. Program terlaksana. Agenda sinodal dijalankan.

Namun, menurut Pendeta Ebser, pertanyaan yang lebih penting adalah kualitasnya.

“Kuantitas bisa tercapai, tetapi kualitas belum tentu maksimal. Kita harus jujur melihat apakah yang kita kerjakan benar-benar membangun jemaat, memperkuat persekutuan, dan menghadirkan dampak,” katanya.

Beberapa laporan masih menyisakan catatan. Ada unit pelaksana yang belum menyelesaikan laporan pertanggungjawaban, padahal penggunaan anggaran sudah signifikan. Ada kegiatan yang berjalan, tetapi evaluasi dampaknya belum jelas.

Bagi MS, laporan bukan sekadar kewajiban administratif. Ia adalah wujud integritas.

“Kita harus mulai dengan laporan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Tidak boleh ada yang ditutup-tutupi. Diungkapkan apa adanya, termasuk persentase pencapaian dan kekurangannya.”

Hari kedua pun berubah menjadi ruang refleksi kolektif—bukan hanya memaparkan keberhasilan, tetapi juga mengakui keterbatasan.

Dari Rutinitas ke Pertanggungjawaban

Dalam evaluasinya, Pendeta Ebser menyoroti mentalitas lama yang masih membayangi sebagian pelayanan.

“Kalau hanya asal melakukan kegiatan, itu tidak cukup. Muatan perancangan harus tercapai. Jemaat harus merasakan dampaknya—merasa diteguhkan, mau terlibat, mau ikut membangun.”

Ia menilai, beberapa kegiatan selama ini dilakukan karena kebiasaan. Bahkan ada kepuasan internal karena program berjalan. Namun, ia berpandangan bahwa basis dari evaluasi adalah kesesuaian dengan amanat Tuhan.

“Kalau tidak sesuai amanat Tuhan, hasilnya tidak maksimal. Kita bercermin dari Firman Tuhan untuk melakukan pelayanan. Itu fondasi kita.”

Karena itu, tema keadilan dan kebenaran menurutnya perlu menjadi trending topic yang bukan sekadar wacana, melainkan kerangka evaluasi atas setiap laporan komisi yang disampaikan.

Think Tank Sinodal, Program dan Pantauan Kinerja

Ke depan, Pendeta Ebser berpandangan bahwa evaluasi akan dilakukan secara berkala melalui Unit Percepatan Transformasi Sinodal (UPTS), yang dibentuk belum lama ini. Tim ini tidak saja berfungsi sebagai think tank MS, namun juga merancang, mengamati, dan mengevaluasi pelaksanaan program berdasarkan PKUPPG dan misiologi GPIB. Evaluasi tidak lagi bersifat insidental, melainkan dilakukan secara berkala.

“Kita tidak bisa berjalan dengan visi kerja masing-masing. Sebelas orang MS harus melangkah searah. Semua unit pelayanan harus punya roh yang sama,” ujar Pdt. Ebser.

Dalam konteks laporan komisi yang dipresentasikan, keberadaan tim ini diharapkan membantu memastikan bahwa setiap program tidak hanya selesai di atas kertas, tetapi juga terukur output dan outcome-nya.

Ia bahkan menggunakan istilah yang lebih manajerial: KPI, output, outcome—sebuah pendekatan yang menunjukkan gereja pun perlu tata kelola yang akuntabel, tanpa kehilangan dasar teologisnya.

Pembaruan yang Dimulai dari Diri Sendiri

Namun bagi Pendeta Ebser, sistem sebaik apa pun tidak akan efektif tanpa pembaruan batin.

“Kita harus mulai dengan pembaruan akal budi. Hati nurani yang murni, pikiran yang jernih, dituntun oleh Roh Kudus. Ini gerejanya Tuhan,” katanya.

Ia menekankan pentingnya keteladanan. Jika pimpinan tidak bergerak, perubahan tidak akan terjadi. Etos kerja dan kecerdasan rohani harus berjalan bersama.

Pendampingan akan dilakukan. Semua bidang akan diawasi dan didampingi. Namun jika tidak ada perubahan, langkah tegas pun harus diambil.

“Kita tidak bisa membiasakan orang tidak produktif. Pelayanan harus berbuah. Itu fondasi Alkitab,” tutur Pendeta Ebser. “kita tidak bisa bersembunyi di balik ungkapan inikan pelayanan, kasihan. Pengabdian harus totalitas, kita harus berbuah. Itu fondasi Alkitab yang kalau tidak berbuah (maka) dipotong dan ditebang.”

Hari kedua persidangan sinode ini karenanya bukan sekadar laporan dan program. Sinode menyerukan panggilan untuk kembali ke jati diri gereja.

“Kita harus melakukan segala sesuatu dengan bertanggung jawab. Ukurannya kebenaran firman Tuhan, bukan kebenaran diri sendiri dan kata orang,” ujar Pendeta Ebser. “Itu jadi kesaksian yang murni, GPIB yang maju, dan di dalamnya mengimplementasikan Firman Tuhan.”

(CP)

Sekum MS: Berbuah atau Ditebang was last modified: February 12th, 2026 by GPIB

Tinggalkan Komentar / Pesan Anda disini

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Bantuan Bagi Warga yang Berdampak Covid-19 Terus Mengalir

Ibadah Penglepasan Pdt. (em) R. A. Waney

Karnaval Anak-Anak Semarakkan HUT 20 Tahun WKPUB

“Ini Bentuk Peduli Kami”

Bantuan GPIB di Wilayah Jakarta Utara

Peduli Sesama, GPIB Paulus Jakarta Memperbaiki Rumah Warganya

Penyampaian Surat Gembala Pilkada Serentak Oleh GPIB

74 Paket Sembako bagi Warga Berdampak Di Mupel Jaksel

RAAL Griya Asih Bertahan di Tengah Pandemi

Baksos Komisi PelKes GPIB Silo DKI dan GPIB Immanuel Kotabaru

Kategori Artikel

  • Featured
    • Slide
  • PELKES
  • PELEMBAGAAN
  • STIKES
    • YAYASAN
      • YANKES
  • INFO VIKARIS
  • DIAKONIA
  • SINODE
    • PSR XXII
    • Pesan-Pesan
    • Agenda
  • Kegiatan
    • Misioner
      • GERMASA
    • DIAKONIA
  • Kegiatan PELKAT
    • PELKAT PA
    • PLEKAT LANSIA
    • PELKAT PT
    • PELKAT GP
    • PELKAT PKP
    • PELKAT PKB
  • Perspektif
    • Arcus
    • Sosok
    • Inspirasi

Majalah Arcus

Hubungi Kami

Majelis Sinode GPIB
Jl. Merdeka Timur. No.10
Gambir, Kota Jakarta Pusat
Jakarta, Indonesia
P: (021) 384 2895
P: (021) 384 9917
F: (021) 385 9250
E: admin@gpib.or.id

Direktori

  • Yayasan
  • Pendeta
  • Departemen
  • Musyawarah Pelayanan
  • Facebook
  • Email

@2016 - Majelis Sinode GPIB.