Pembukaan Bulan PELKES GPIB 2026 Meneguhkan Iman Melalui Aksi Nyata Kemanusiaan

SIBOLGA — Suasana pesisir Kota Sibolga yang hangat menjadi saksi pembukaan Bulan Pelayanan dan Kesaksian (PELKES) GPIB Tahun 2026. Selama rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 5–8 Juni 2026, warga GPIB dari berbagai daerah berkumpul untuk merayakan iman yang diwujudkan melalui pelayanan nyata kepada sesama.
Perjalanan menuju Sibolga bukanlah perjalanan yang singkat. Dari Bandara Silangit, peserta menempuh perjalanan darat sekitar empat jam menuju GPIB Jemaat Siloam Sibolga di wilayah GPIB Musyawarah Pelayanan (Mupel) Sumatera Utara – Aceh. Namun kelelahan perjalanan seakan terbayar ketika para peserta disambut oleh keramahan jemaat dan masyarakat setempat yang menjadi tuan dan puan rumah penyelenggaraan Pembukaan Bulan PELKES tahun ini.
Mengusung semangat pelayanan yang membumi, rangkaian kegiatan tidak berhenti pada ibadah dan seremoni. Berbagai bantuan disalurkan kepada jemaat dan masyarakat terdampak bencana, sekaligus menjadi wujud nyata kehadiran gereja di tengah pergumulan masyarakat.
Gereja Dipanggil Menjadi Terang dan Garam Dunia

Dalam ibadah pembukaan, Sekretaris Umum XXII GPIB, Pdt. Ebser M. Lalenoh mengingatkan bahwa gereja tidak boleh berhenti pada kehidupan iman yang bersifat pribadi.
Ia menegaskan:
“Kita sudah harus membangun, merekonstruksi kembali kehidupan beriman kita yang benar. Kehidupan berimannya yang benar, yang suci, kudus. Tetapi dia tidak boleh berpuas hanya untuk dirinya sendiri, tetapi dia harus menjadi terang bagi dunia, garam bagi dunia dalam perbuatan-perbuatan yang nyata.”
Pesan tersebut menjadi benang merah seluruh rangkaian Bulan PELKES tahun ini. Menurutnya, iman harus diuji dan dibuktikan melalui tindakan nyata yang menghadirkan keadilan, kebenaran, dan kasih.

“Gereja yang hidup di samping dia sungguh-sungguh beriman. Dia harus berbuat kebaikan dan kebenaran. Ujilah itu dalam hidup. Iman, keadilan, kebenaran, perbuatan kasih diuji itu dalam perbuatan-perbuatan nyata sebagai bagian dari kesaksian gereja Tuhan.”
Pdt. Ebser juga mengingatkan bahwa pelayanan gereja harus lahir dari hati yang bersih dan tulus.
“Yang bersih hati dan pikiran, pelayanannya, pekerjaan, buah-buah pekerjaannya itu akan berkenan dan diberkati oleh Tuhan.”
Dari Sibolga, ia menyerukan agar seluruh warga GPIB terus menyatakan kesaksian dalam kuasa dan kasih karunia Tuhan.
“Dari Sibolga kita akan terus-menerus menyatakan kesaksian dalam kuasa, kasih karunia dan dalam pertolongan Tuhan.”
GPIB Membuktikan Diri Sebagai Gereja yang Hidup

Ketua I Majelis Sinode XXII GPIB, Pdt. Henry Teddy Tamaela, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelayanan dan kesaksian merupakan wujud konkret gereja yang hidup dan bertumbuh.
Menurutnya:
“Gereja yang hidup itu adalah gereja yang berempati, gereja yang bergerak, gereja yang bertumbuh seperti tema tahun kita pada hari ini bertumbuh dalam keselamatan.”
Ia menjelaskan bahwa pelayanan ritual harus berjalan beriringan dengan pelayanan sosial yang menyentuh kehidupan masyarakat.
“Dengan Pelkes kita bisa membuktikan bahwa GPIB adalah campur tangan Tuhan atau tangan Tuhan untuk mewujudkan misinya.”
Lebih jauh ia menyebut bahwa penyelenggaraan Pembukaan Bulan PELKES di Sibolga dan Tapanuli Tengah merupakan kesempatan bagi GPIB untuk menghadirkan misi Allah secara nyata.
“Sibolga serta Tapanuli Tengah menjadi tempat untuk kami mewujudkan misi Tuhan membuktikan bahwa GPIB ini adalah gereja yang hidup.”
Sinergi Kemanusiaan Bersama BNPB

Pembukaan Bulan PELKES juga mendapat dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam sambutan Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto yang dibacakan oleh Pdt. Victor Rembeth, disampaikan apresiasi kepada GPIB atas keterlibatannya dalam penanganan dan pemulihan pascabencana Siklon Senyar.
BNPB menyampaikan:
“Ucapan terima kasih tulus kami berikan kepada GPIB, karena Pemerintah dalam hal ini sangat terbantu dengan partisipasi semua pihak.”
BNPB juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana melalui pendekatan berbasis komunitas.
“Kesiapsiagaan masyarakat adalah garda terdepan untuk meminimalisir korban jiwa saat bencana terjadi.”
Selain itu, BNPB menekankan pentingnya kerja bersama lintas sektor dan lintas agama dalam pelayanan kemanusiaan.
“Mari kita pastikan agar setiap bantuan dan program pendampingan masyarakat yang diberikan tepat sasaran, akuntabel, inklusif dan memberikan manfaat langsung kepada para penyintas bencana.”
Dari Mimbar ke Lapangan Pelayanan

Setelah seremoni pembukaan pada Minggu, 7 Juni 2026, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan bantuan secara simbolis kepada GPIB Jemaat Siloam Sibolga dan masyarakat sekitar.
Bantuan yang disalurkan meliputi dukungan perbaikan fasilitas penginapan jemaat, perlengkapan kesiapsiagaan bencana berupa APAR, rambu jalur evakuasi, rompi, senter, jas hujan, helm, perlengkapan pertolongan pertama, hingga bantuan sembako bagi masyarakat.
Rombongan kemudian melanjutkan pelayanan ke GKPI Hutanabolon dan HKBP Sipange. Di Hutanabolon, bantuan diberikan untuk pembangunan pastori serta dukungan bagi pelayanan anak-anak. Sementara di HKBP Sipange, bantuan berupa bibit dan pohon produktif diserahkan kepada masyarakat yang terdampak bencana banjir bandang dan Siklon Senyar.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pelayanan gereja tidak berhenti di dalam gedung gereja, tetapi hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan.
“Kami Merasa Seperti Pulang ke Rumah Sendiri”
Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan ini tidak terlepas dari kerja keras GPIB Jemaat Siloam Sibolga sebagai tuan rumah.

Ketua Departemen PELKES GPIB, Pdt. Jepry Daminto, menyampaikan kesan mendalam atas kebersamaan yang terjalin selama kegiatan berlangsung.
“Perjalanan dari tanggal 5 hingga 7 Juni 2026 kemarin bukan sekadar deretan agenda di kalender, melainkan sebuah rajutan cerita indah yang akan selalu membekas di hati kami.”
Ia secara khusus mengapresiasi pelayanan jemaat tuan rumah.
“Mulai dari penyambutan yang hangat khas pesisir Sibolga, hidangan yang memanjakan lidah, hingga koordinasi lapangan yang luar biasa. Kalian adalah tuan rumah yang luar biasa! Kami merasa seperti pulang ke rumah sendiri.”
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada BP Mupel Sumut-Aceh yang terus mendampingi seluruh rangkaian kegiatan.
Di akhir pesannya, Pdt. Jepry mengingatkan bahwa pembukaan Bulan PELKES bukanlah akhir dari pelayanan, melainkan awal dari gerakan kesaksian yang lebih luas.
“Kebersamaan di Sibolga telah usai, namun api Pelayanan dan Kesaksian baru saja dinyalakan.”
Ia mengajak seluruh warga gereja untuk membawa semangat yang diperoleh di Sibolga kembali ke jemaat masing-masing.
“Mari kita bawa semangat, keceriaan, dan kasih yang kita rasakan di GPIB Jemaat Siloam Sibolga ini ke pos pelayanan dan jemaat kita masing-masing.”
Menyalakan Harapan dari Pesisir Barat Sumatera
Pembukaan Bulan PELKES GPIB Tahun 2026 di Sibolga memperlihatkan wajah gereja yang tidak hanya berkhotbah tentang kasih, tetapi juga menghadirkannya melalui tindakan nyata. Dari ruang ibadah hingga lokasi pelayanan masyarakat, dari doa hingga aksi kemanusiaan, seluruh rangkaian kegiatan menjadi kesaksian bahwa gereja dipanggil untuk hadir, mendengar, merangkul, dan melayani.
Dari pesisir Sibolga, pesan itu kembali bergema: iman yang hidup adalah iman yang bergerak. Dan pelayanan yang sejati adalah pelayanan yang menghadirkan harapan bagi sesama.at

