GPIB, Tangerang – Dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional BP Mupel Banten menggelar acara Safety Talk pada Jumat (1/5) bertempat di GPIB Ora Et Labora, Serpong, Tangerang.
Menurut Ketua CC UPB Mupel Banten Pnt.Jeffry Lewerissa acara tersebut bertujuan untuk memperkuat sistem pengetahuan serta persepsi untuk semua pengurus baru yang di utus dari ke-14 Jemaat GPIB di Mupel Banten dan para pemangku jabatan K1 PHMJ ke-14 jemaat sehingga dapat meneruskan hasil pembinaan singkat terkait Kesiapsiagaan Bencana di lingkup jemaat masing-masing. Juga didampingi Ketua I BP Mupel BantenPdt.Lenastine Titihalawa.
Materi pertama dibawakan Pnt.Chris Wangkay dengan tema Teologi dan Mitigasi dan SOP CC GPIB.
“Kita membangun sistem, bukan sekadar tim. Tim bisa berganti, tapi sistem keselamatan GPIB harus tetap berdiri,” kata Pnt.Chris Wangkay Ketua CC UPB GPIB.
Pnt.Chris kemudian menjelaskan soal Filosofi dan Sejarah CC GPIB juga Standar Manajerian dan Sturktur komando, Instrumen Kesiapsiagaan Standar, Strategi Keberlanjutan dan Regenerasi dan deklarasi siaga.
Salah satu yang disampaikan Pnt.Chris bahwa GPIB dalam hal ini CC/UPB GPIB mewakili lembaga Kristen dan PGI telah menerima panduan Rumah Ibadah Tangguh Bencana yang telah diserahkan langsung oleh Deputy Pencegahan BNPB, Dra. Prasinta Dewi pada 9 Oktober 2024 di banda Aceh.
Pembicara kedua, Mahdiar, Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang menjelasakan bahwa membangun kesiapsiagaan bencana di wilayah perkotaan membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, termasuk komunitas keagamaan. Gereja, sebagai ruang publik yang mengumpulkan ratusan hingga ribuan jemaat dalam satu waktu memiliki kerentanan yang spesifik.

“Pengurus gereja harus dibekali pemahaman yang utuh mengenai mekanisme dan batas waktu yang tepat untuk melakukan eskalasi pelaporan kepada instansi berwenang. Sehingga untuk itu gereja dapat memperkuat kapasitasnya dengan mengintegrasikan pemuda atau relawan internal gereja ke dalam wadah yang lebih luas seperti relawan tingkat kota, sehingga tercipta ekosistem penanganan bencana yang solid dan saling mendukung,” kata Mahdiar.
Selain kata dia, dibutuhkan peran aktif jemaat dalam mitigasi dan tanggap bencana lewat beberapa langkah, pertama fokus pada kapasitas, yakni soal keselamatan bergantung pada kesiapan individu dan koordinasi, bukan sekadar mengandalkan kelengkapan peralatan gedung. Kedua aktif mengikuti simulasi kebencanaan, ketiga mengenali jalur evakuasi yakni dengan membiasakan diri mengidentifikasi letak pintu darurat dan titik kumpul terdekat setiap kali memasuki ruang ibadah. Keempat, menjadi agen deteksi dini, yaitu peka dan segera melaporkan potensi bahaya (contoh: kabel terkelupas atau lorong terhalang kursi) kepada petugas sebelum ibadah dimulai. Kelima adalah bergabung menjadi relawan atau terlibat langsung pada relawan tingkat lingkungan secara inklusif dan setara, bergotong-royong bersama warga sekitar. Keenam kata Mahdiar, yaitu melindungi kelompok rentan dengan berinisiatif mendampingi dan mendahulukan pergerakan lansia, difabel, ibu hamil, serta anak-anak saat evakuasi berlangsung. Dan ketujuh, mematuhi instruksi satgas K3 gereja demi menghindari penumpukan di pintu keluar.
“Mewujudkan Gereja Tangguh Bencana pada hakikatnya adalah komitmen bersama untuk melindungi keselamatan jiwa seluruh jemaat melalui kemandirian dan kesiapsiagaan. Ketangguhan sebuah rumah ibadah tidak semata-mata diukur dari kelengkapan fasilitas keselamatannya, melainkan dari peningkatan kapasitas individu dan kelancaran koordinasi antar-instansi saat kedaruratan terjadi. Melalui sinergi yang kuat dan pemahaman prosedur pelaporan yang tepat sasaran, setiap ancaman bencana di lingkungan gereja dapat direspons dengan cepat, terukur, dan meminimalisir segala risiko yang ada,” ujar Mahdiar menutup penjelasan.(lip)
