Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) menyatakan keprihatinannya atas situasi kebangsaan yang tengah diwarnai gelombang aksi demonstrasi rakyat di berbagai daerah. Dalam pernyataan resminya, GPIB menyesalkan jatuhnya korban jiwa dalam aksi-aksi tersebut dan menilai hal itu mencerminkan beratnya beban hidup masyarakat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, turunnya penghasilan, dan semakin sulitnya lapangan pekerjaan.
Majelis Sinode GPIB menilai bahwa sejumlah kebijakan politik, termasuk yang diputuskan DPR, justru menimbulkan kesan kurangnya kepekaan terhadap penderitaan rakyat. Kondisi ini dinilai memperdalam jurang antara aspirasi masyarakat dengan sikap elit politik. Karena itu, GPIB menegaskan bahwa suara rakyat melalui demonstrasi merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang harus dihargai dan ditanggapi secara bijaksana, bukan dengan tindakan represif yang menimbulkan korban baru.
Dalam pernyataan sikapnya, GPIB menyampaikan lima seruan utama: mengungkapkan duka mendalam atas jatuhnya korban jiwa, mengajak pemerintah dan DPR untuk lebih mendengar suara rakyat, mendorong aparat keamanan agar bertindak humanis dan dialogis, mengajak seluruh elemen bangsa memperbaiki arah demokrasi, serta menegaskan peran gereja untuk selalu berpihak pada yang lemah dan memperjuangkan keadilan serta kesejahteraan.
Informasi dari Ketua II Majelis Sinode GPIB, Pendeta Manuel Essau Raintung, S.Si., M.M., Majelis Sinode GPIB menegaskan bahwa kehadiran gereja di ruang publik tidak bisa dipisahkan dari realitas kebangsaan. “GPIB terpanggil untuk menyuarakan kebenaran dalam kasih dan menghadirkan damai sejahtera Allah. Kami percaya, bangsa Indonesia dikaruniai potensi besar untuk bangkit, tetapi kebangkitan itu hanya mungkin terjadi jika semua pihak bersatu mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun golongan,” ujarnya.
GPIB berharap dinamika yang terjadi menjadi momentum bagi pemerintah, DPR, aparat keamanan, masyarakat sipil, dan lembaga agama untuk bersama-sama memperkuat demokrasi Indonesia. Gereja meyakini, dengan keadilan, kasih, dan kepekaan moral dari semua pihak, bangsa Indonesia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih baik, damai, dan sejahtera bagi seluruh rakyat.

