GPIB, Jakarta – Hal itu disampaikan narasumber Dr.Andi Wijayanto saat menanggapi pertanyaan peserta dalam acara Pembekalan Pendeta 2026 dengan tema utama Pendeta di Era Ekonomi Rentan: Literasi, Ketahanan, dan Penatalayanan Hidup lewat zoom pada Senin (29/6) mulai pukul 10.00 WIB.
Andi Wijayanto menyampaikan materi Dinamika Ekonomi Global, Ketahanan Nasional, dan Keberlanjutan Pelayanan GPIB yang menyoroti kondisi politik secara umum yang sednag terjadi di dunia dan kondisi ekonomi yang terpengaruh akan perubahan politik tersebut.
Menurut Andi Wijayanto diperlukan usaha-usaha untuk memperketat pengeluaran dengan kondisi ekonomi yang terjadi saat ini hingga pertengah tahun 2027.
“Yang kedua adalah bagaimana persiapan-persiapan khusus satu tahun kedepan serta pengelolaan asset-aset GPIB yang dimiliki sehingga bisa dimaksimalkan,” katanya.
Selain Andi Wijayanto sebagai narasumber, materi kedua disampaikan Pnt.Dr.Iris Tutuarima yang membawakan tema Sikap Moral terhadap Keuangan. Ia menjelaskan soal kondisi ke-ingin-an dan hasrat serta perkembangan sistem aplikasi keuangan secara umum yang sedang berkembang, khususnya kemudahan system keuangan yang berkembang saat ini.

“Seperti yang saya jelaskan tadi agar kita harus mengendalikan hasrat sehingga kita nyambung dengan apa yang dijelaskan oleh pak Andi tadi,” kata Ibu Iris.
Acara zoom yang diikuti 335 pendeta GPIB selain dua narasumber utama juga ditanggapi oleh tiga penanggap, yakni oleh Pdt. Angela Wendy Tankersley-Kakerissa, yang memberi tanggapan Respons dari perspektif teologis-pastoral dan spiritual care. Penanggap kedua Pnt.Adee Roeroe Tiwow yang menyampaikan tanggapan Respons dari perspektif ekonomi mikro dan ketahanan ekonomi keluarga. Dan penanggap ketiga Pdt.Yosua Wahyu Anggoro yang menanggapi soal Respons dari perspektif kepemimpinan dan inovasi kebijakan gereja.
Sejumlah peserta mengajukan berbagai pertanyaan, antara lain soal gaji pendeta, investasi apa yang ingin dilakukan oleh pendeta, soal moral dan etika serta hasrat yang dimiliki pendeta dan pengelolaan asset yang dimiliki GPIB.

Acara pembekalan pendeta dibuka oleh Ketua Umum Majelis Sinode XXII Pdt.Nitis Putrasana Harsono yang menyampaikan bahwa pembekalan ini sangat diperlukan dan menyambut baik dengan kondisi ekonomi saat ini dan dampak pada pelayanan yang dilakukan oleh pendeta.
Fungsionaris MS ke XXII yang turut hadir adalah Ketua III Pdt. Sarah Martha Yuliana Tahitu-Hengkesa. Ketua IV Pnt. Wicklief Ferdy Luwy Leunufna dan Sekretaris II Pnt.Ivan Lantu serta tim kerja yang merupakan lintas departemen Majelis Sinode, yakni TPG, PPSDI dan Inforkom Litbang.
Turut memberikan komentar dengan kegiatan itu adalah Ketua IV MS XXII Pnt.Wicklief Ferdy Luwy Leunufna menyampaikan kita mampu mengelola keuangan secara bijaksana apapun kondisinya.
“Kita mengelola pengeluaran dan berupaya meningkatkan dari sisi penerimaan. Dan sebagai lembaga, maka kita harus menjaga transparansi keuangan supaya ada kepercayaan. Dan kita perlu bangun kekuatan saling bergantung dan kepedulain bersama. Terima kasih untuk tim kerja untuk kegiatan yang baik ini dan berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlangsung,” kata Pnt.Luwy.
Pdt.Ebser Lalenoh Sekretaris Umum MS XXII menyampaikan sambutan penutup yang menekankan untuk terus berusaha menata kebutuhan kita dengan ekonomi yang didapatkan dan dikelola dengan baik dengan semangat berpelayanan yang mengutamakan Tuhan.
“Itu menjadi kekuatan yang harus kita miliki dan harus dikelola sehingga pelayanan gereja tetap dikembangkan dan ditumbuhkan untuk kemajuan gereja GPIB,” tandas Pdt.Ebser.(lip/mel)
