JAKARTA. GPIB – Kesetaraan dimulai dari keberanian untuk menyuarakan tentang kebenaran. Kesetaraan adalah pengakuan bahwa setiap manusia memiliki martabat, nilai, dan hak yang sama di hadapan Allah, meskipun memiliki perbedaan dalam jenis kelamin, usia, status sosial, dan suku.
Kesetaraan bukan berarti semua orang memiliki tugas atau fungsi yang sama, tetapi setiap orang layak diperlakukan adil dan diberi kesempatan yang setara untuk menikmati hak serta menjalankan tanggung jawabnya.
Hal itu diungkapkan Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Jemaat Ekklesia Jakarta Timur, Pendeta Risto Efraim Andaki saat memimpin Ibadah Hari Minggu V Sesudah Pentakosta, dalam rangka Penutupan Bulan Pelayanan dan Kesaksian (Pelkes) GPIB Tahun 2026, di GPIB Jemaat Siloam Jakarta Barat, Minggu (28/6/2026).

Pendeta Risto dalam khotbah bertema “Menyuarakan Kesetaraan” yang terambil dari Bilangan 27:1-11, menyatakan bahwa lima anak perempuan Zelafehad, yaitu Mahlah, Noa, Hogla, Milka, dan Tirza dengan berani menyuarakan tentang kebenaran. Mereka menghadap Musa, Eleazar, para pemimpin, dan seluruh umat Israel karena menyadari bahwa diam berarti menerima ketidakadilan sebagai sesuatu yang wajar.
“Lima perempuan hebat ini menyampaikan permohonan untuk memperoleh hak warisan ayah mereka yang telah meninggal, tanpa anak laki-laki,” jelas Pendeta Risto.
Mahlah, Noa, Hogla, Milka, dan Tirza, lanjut Pendeta Risto, memahami bahwa ada ketidakadilan yang datang melalui jalur yang tidak benar sehingga mereka harus menyampaikan alasan penolakan secara bijaksana.
“Mereka tidak menuntut hak karena ambisi pribadi, tetapi karena keadilan dalam perjanjian Allah,” jelas Pendeta Risto.
Kisah lima anak perempuan Zelafehad menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki nilai yang sama di hadapan Allah. Martabat seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelamin, status sosial, atau kedudukannya, melainkan karena ia adalah ciptaan Allah.
“Gereja dan masyarakat dipanggil untuk menghormati martabat setiap orang tanpa diskriminasi. Setiap orang berharga di hadapan Allah dan layak dihormati tanpa memandang latar belakangnya,” kata Pendeta Risto. (novy)
