Skip to content
GPIB Indonesia

GPIB Indonesia

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat

Primary Menu
  • Tentang GPIB
    • Visi dan Misi
    • Pemahaman Iman
    • Majelis Sinode GPIB
    • Presbiterial Sinodal
    • PKUPPG
  • DIREKTORI
    • Departemen
    • Yayasan
      • YAPENDIK
      • YAYASAN DIAKONIA
      • YAYASAN KESEHATAN
  • Berita & Artikel
    • SINODE
    • Kegiatan
      • M I S I O N E R
      • D I A K O N I A
    • Kegiatan PELKAT
      • PELKAT PA
      • PELKAT PT
      • PELKAT GP
      • PELKAT PKP
      • PELKAT PKB
      • PELKAT LANSIA
    • P E R S P E K T I F
      • I N S P I R A S I
      • Sosok
  • Sabda Digital
  • Radio GPIB
  • Hubungi Kami
  • Home
  • SINODE
  • Sesi #3 Pelatihan Jarak Jauh Ajak Warga Jemaat Peduli Singkong, Anggur Rosela dan Bikin Masker
  • SINODE

Sesi #3 Pelatihan Jarak Jauh Ajak Warga Jemaat Peduli Singkong, Anggur Rosela dan Bikin Masker

Redaksi Arcus June 26, 2020 4 minutes read
IMG_20200626_195130

GPIB, Jakarta – Unit Pembinaan dan Pemberdayaan Masyarakat (UP2M) Bidang Pelayanan dan Kesaksian GPIB kembali sukses melaksanakan Pelatihan Jarak Jauh yang dilaksanakan secara daring Jumat, 26/2/2020. Dua hari sebelumnya UP2M juga berhasil menawan peserta dengan materi-materi yang sangat dibutuhkan mengatasi krisis ekonomi karena pandemi Covid-19.

Acara Pelatihan Jarak Jauh seri #3 ini menampilkan narasumber Narasumber Prof. Tineke Mandang, Pnt. Henny Urai, Sandra Nirmalawati, Dr. Lenny S. Syafei. Di sesi ke-3 ini lagi dan lagi para peserta Pelatihan Jarak Jauh dipuaskan dengan sajian materi menarik dari empat narasumber tersebut. Menarik karena apa yang disajikan sangat menantang warga jemaat untuk menerapkannya.

Narasumber Prof. Dr. Ir. Tineke Mandang dari IPB Bogor dalam acara yang digagas dalam rangka Bulan Pelkes Tahun 2020 ini mengajak warga jemaat untuk peduli pada ubikayu. Keuntungan memproses ubikayu segar menjadi tepung sehingga dapat disimpan lama serta mudah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan antara lain bahan baku industri kue, roti, mie, kerupuk, industri-industri non makanan lainnya seperti alkohol/etanol, protein sel tunggal dan pasta gigi.

“UP2M GPIB harus memberikan contoh bagaimana mengurangi ketergantungan impor tepung terigu melalui pengembangan tepung singkong di tingkat keluarga, kelompok dan gereja; GPIB telah berkontribusi besar untuk Indonesia,”tuturnya.

Prospek pasar, baik domestik maupun internasional menunjukkan bahwa tepung ubikayu merupakan komoditas yang sangat potensial dalam mendukung pemberdayaan ekonomi pedesaan mengingat keterkaitannya dengan industri juga cukup besar.

“Impor tepung terigu Indonesia sudah mencapai angka 6 juta ton tiap tahun, menandakan bahwa ketergantungan import kita besar sekali. Indonesia dengan jumlah penduduk yang terus meningkat akan sangat berbahaya jika terus mengandalkan impor,”kata perempuan yang pernah menekuni Ilmu Keteknikan Pertanian di IPB Bogor ini.

Menurutnya, rata-rata produktivitas nasional ubikayu hanya sebesar 16,4 ton/ha (BPS, 2006), ini jauh sekali dari potensi produktivitas ubikayu yang dapat mencapai 40 ton/ha. Tiga kilogram singkong menghasilkan 1 kg tepung singkong/mocaf.

Ubikayu dapat dimanfaatkan secara luas, yaitu dapat dikonsumsi segar direbus, digoreng, makanan olahan aneka kue, aneka camilan, bahan baku industri seperti industri makanan, minuman, pakan ternak/ikan dan farmasi.

Tepung ubikayu dapat mensubtitusi tepung terigu untuk pembuatan roti, kue, mie, dan biskuit, sehingga dapat menekan jumlah pemakaian tepung terigu yang sampai saat ini masih diimpor.

Pnt. Henny Urai mengatakan, berbagai jenis kue bisa dibuat dari singkong cassava seperti spekulaas, kue kering keju tepung singkong, dan onbijtkoek tepung singkong. Resep-resep kue dimaksud telah tersedia dan bisa dipraktikkan di rumah atau kelompok Ibu-Ibu.

“Usaha roti atau kue dari tepung singkong bisa digunakan untuk pengembangan ekonomi keluarga dan jemaat,” kata Warga Jemaat GPIB Nazareth Jakarta saat berbicara dalam Pelatihan Jarak Jauh Sesi #3 ini.

Banyak cara menghasilkan tambahan penghasilan di masa pandemi ini. Pembuatan Anggur Perjamuan dari Bunga Rosella yang dipaparkan Dr Lenny Syafei bisa menjadi solusi meningkatkan perbaikan keekonomian warga di pos-pos pelkes ataupun di kota-kota besar lainnya.

Langkah kerja pembuatan anggur rosella dimuai dengan mencuci bunga rosela dan didihkan dengan air. Panaskan larutan bunga rosella dengan gula dan daun kelor, pindahkan ke dalam ringen dan didinginkan semalam. Esok paginya ditambahkan ragi, dikocok sampai berbusa, lalu didiamkan di tempat gelap untuk proses fermentasi 14 hari. Pada H-14 dilakukan pasteurisasi dengan memasak dalam botol gelas ditandai dengan 5-7 gelembung didih lalu uji rasa dan siap dikemas.

Formula pembuatan Anggur ini, kata Lenny, diperkenalkan oleh Prof G.A. Wattimena setelah mencoba kurang lebih dua tahun 2007-2009. Rosella (Hibiscus sabdariffa) ternyata memiliki kandungan vitamin C yang tinggi atau 3 kali lipat dari kandungan Vit. C pada anggur, 9 kali lipat dari orange/citrus dan 10 kali lipat dari vit C dari jambu biji. Ada 5 jenis bunga rosela yakni rosela putih, hijau, merah, ungu, super ungu.

“Saat ini beberapa jemaat GPIB telah memproduksi sebagai anggur perjamuan,” ungkap Pdt Elly Pitoy De Bell, Sekretaris I Majelis Sinode GPIB. Formula anggur rosella terdiri dari Air 10 L, bunga rosella ungu 200 gr, tepung daun kelor 10 sdm, Ragi/fermipan 150 g dan gula pasir 4 kg.

Narasumber lainnya, Sandra Nirmalawati cukup optimis menyikapi masa pandemi ini untuk terus berkreasi. Pembuatan masker di masa pandemi Covid-19 adalah peluang yang bagus. “Jangan takut, kerjakan saja walau orang lain sudah membuatnya. Selama masa pandemi ini orang pasti butuh masker,” katanya.

Di masa pandemi covid-19 saat ini, keterampilan membuat masker adalah peluang UKM untuk membantu ekonomi keluarga. Dalam pembuatan masker perlu mengerti soal bahan yang sesuai dengan standar WHO, desain membuat masker, terampil menggunting bahan baku siap dijahit menjadi masker siap pakai.

“Kita harus menghitung biaya produksi suatu masker, biaya packaging, biaya distribusi dan biaya promosi. Promoso produk bisa dengan cara yang mudah dan murah dengan medsos dan multimedia,” katanya.

Dalam pembuatan masker perlu diperhatikan kualitas bahan, memiliki unggul/kelebihan, dan nyaman untuk dipakai. Kunci utama seorang entrepreneur: talenta dikenali, dikembangkan, terus mau belajar, dan dipraktekkan. /fsp

About the Author

Redaksi Arcus

Contributor

Visit Website View All Posts

Tinggalkan Komentar / Pesan Anda disini

Post navigation

Previous: Undangan Seri Diskusi Daring
Next: Pelatihan Jarak Jauh Seri #4: Ekowisata Berbasis Budaya Lokal dan Sumberdaya Alam

Related Stories

WhatsApp Image 2026-05-18 at 15.59.13
  • GERMASA
  • Misioner
  • SINODE

POK Germasa GPIB 2026 Seperti Lemhanas Kecil

GPIB May 18, 2026
Pendeta Nitis
  • Kegiatan
  • SINODE
  • Slide

Pendeta Nitis Resmikan Pelembagaan GPIB Jemaat Agape Mersam Jambi

GPIB May 17, 2026
K1
  • Featured
  • PELKES
  • SINODE
  • Slide

Program Bincang Pendeta untuk Beri Semangat di Pos Pelkes

GPIB May 11, 2026

Kategori Artikel

  • DIAKONIA
  • Featured
    • Slide
  • INFO VIKARIS
  • Kegiatan
    • DIAKONIA
    • Misioner
      • GERMASA
  • Kegiatan PELKAT
    • PELKAT GP
    • PELKAT PA
    • PELKAT PKB
    • PELKAT PKP
    • PELKAT PT
    • PLEKAT LANSIA
  • PELEMBAGAAN
  • PELKES
  • Perspektif
    • Arcus
    • Inspirasi
    • Sosok
  • SINODE
    • Agenda
    • Pesan-Pesan
    • PSR XXII
  • STIKES
    • YAYASAN
      • YANKES

Hubungi Kami

Majelis Sinode GPIB
Jl. Merdeka Timur. No.10
Gambir, Kota Jakarta Pusat
Jakarta, Indonesia
P: (021) 384 2895
P: (021) 384 9917
F: (021) 385 9250
E: admin@gpib.or.id

Direktori

  • Yayasan
  • Departemen
  • Musyawarah Pelayanan
Copyright © GPIB Indonesia | MoreNews by AF themes.