GPIB Indonesia
  • Media GPIB
  • Tentang GPIB
    • TENTANG GPIB
    • Visi dan Misi
    • Pemahaman Iman
    • Majelis Sinode GPIB
    • Presbiterial Sinodal
    • PKUPPG
  • DIREKTORI
    • Departemen
    • Gereja
    • Pendeta
    • Yayasan
      • YAPENDIK
      • YAYASAN DIAKONIA
      • YAYASAN KESEHATAN
  • Berita & Artikel
    • SINODE
    • Kegiatan
      • M I S I O N E R
      • D I A K O N I A
    • Kegiatan PELKAT
      • PELKAT PA
      • PELKAT PT
      • PELKAT GP
      • PELKAT PKP
      • PELKAT PKB
      • PELKAT LANSIA
    • P E R S P E K T I F
      • I N S P I R A S I
      • Sosok
  • Sabda Digital
  • Hubungi Kami

GPIB Indonesia

  • Media GPIB
  • Tentang GPIB
    • TENTANG GPIB
    • Visi dan Misi
    • Pemahaman Iman
    • Majelis Sinode GPIB
    • Presbiterial Sinodal
    • PKUPPG
  • DIREKTORI
    • Departemen
    • Gereja
    • Pendeta
    • Yayasan
      • YAPENDIK
      • YAYASAN DIAKONIA
      • YAYASAN KESEHATAN
  • Berita & Artikel
    • SINODE
    • Kegiatan
      • M I S I O N E R
      • D I A K O N I A
    • Kegiatan PELKAT
      • PELKAT PA
      • PELKAT PT
      • PELKAT GP
      • PELKAT PKP
      • PELKAT PKB
      • PELKAT LANSIA
    • P E R S P E K T I F
      • I N S P I R A S I
      • Sosok
  • Sabda Digital
  • Hubungi Kami
SINODE

Pdt. Malia: “Hati yang Gembira adalah Obat”

April 16, 2020

Kamis (16/4) sore, Pdt. Malia Lenakoly tengah memasukan sejumlah pakaian ke dalam tasnya untuk siap-siap kembali ke rumah. “Puji Tuhan hari ini saya akan pulang dan saya sembuh setelah 22 hari diisolasi di rumah sakit ini,” katanya bersemangat saat dihubungi lewat telpon.

Ia adalah Pendeta Jemaat di GPIB Imanuel Samarinda dan ditempatkan Pos-pos Pelkes Bukit kasih, Gloria dan Sinar Kasih, Teluk Dalam, Tenggarong, Kalimantan Timur dirawat di Wisma Atlit Aji Imbut Tenggarong Seberang, Kalimantan Timur.

Pdt. Malia kemudian bercerita ia mengalami sesak nafas dan batuk mulai 25 Maret dan setelah melakukan pemeriksaan dan langsung dikarantina.

“Baru pertama kali saya mengalami sesak nafas yang luar biasa dan juga dipicu karena ayah saya meninggal dan tidak bisa pulang,” ujarnya.

Dari kondisi itulah, kata Pdt. Malia, ia meminta dijemput Dinas Kesehatan Tenggarong untuk dirawat. “Saya sendiri cukup terkagum-kagum dengan melewati apa yang saya alami, karena kalau melihat ke belakang sampai berpikir mungkin saya tidak ada lagi,” akunya.

Di masa 22 hari diisolasi, menurutnya ada takut dan cemas, apalagi membaca berita-berita jika sudah kena virus itu akan dibungkus dan lalu mati.

“Saya bersyukur di masa-masa itu saya mendapat banyak support dari teman-teman saya, rekan pendeta, khususnya angkatan vikaris 2015 yang jadi support system. Bahkan teman-teman pengurus dan pelayan PA dan Lansia mengirimkan video hiburan. Tapi lebih dari pada itu, saya membaca firman Tuhan. Dan saya meyakini bahwa hati yang gembira adalah obat. Dan itu benar-benar saya upayakan, saya terapkan untuk mencari hal-hal yang membuat saya bersukacita, bernyanyi, melihat cerita-cerita lucu dan memotviasi diri sendiri supaya bersuka cita dan saya juga melakukan dengan memberi semangat pada orang lain, karena itu menjadi kekuatan ketika melihat orang sehat dan baik-baik, itu menjadi semangat buat saya bahwa saya akan baik-baik saja,”tuturnya.

Pdt.Malia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak rumah sakit, para suster dan dokter yang telah merawatnya dengan baik serta pemerintah setempat yang telah membantunya.

“Saya berterima kasih dan akan merasa kangen dengan semua yang ada di rumah sakit ini, mulai dari cleaning service, para perawat dan dokter yang merawat dan memberi saya semangat,” ujarnya.

Kesembuhan Pdt. Malia Lenakoly disambut gembira Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah dan pejabat yang mendampingi saat jumpa pers di Pendopo Bupati Kukar.

Pdt. Malia bersama seorang dokter setelah konferensi pers.

“Kesembuhan ini patut kita syukuri, dimana saat ini angka kesembuhan pasien Covid-19 di Kutai Kartanegara 100 persen,” kata Edi seperti dikutip selasar.co.

Bupati juga berpesan kepada Pdt. Malia untuk tetap menjaga kesehatan dan menjadi contoh bagi keluarga dan masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Tetap melakukan program jaga jarak fisik, dan meneruskan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari,” ucapnya. (lip)

Pdt. Malia: “Hati yang Gembira adalah Obat” was last modified: August 9th, 2024 by GPIB

Tinggalkan Komentar / Pesan Anda disini

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Ketum MS GPIB : Kebangkitan Kristus Memperkuat Spiritual dan Solideritas Sesama

Wisma GPIB Jadi Tempat Isolasi Mandiri, Sudah Ada 4 Orang Pasien

Paket Nasi Kotak Dibagikan ke Warga

Ibadah Live Streaming HUT ke-55 Pelkat PKP GPIB

Satgas Covid-19 Mupel Banten Bagikan Paket Sembako

Catatan Seorang Vikaris Tentang Alm. Pdt. Em. S.Th. Kaihatu, M.Th

Calon Vikaris GPIB Tahun 2016

Juklak Indonesia Bergerak & Undangan Ibadah awal tahun

Jenazah Pendeta Wuwungan Disemayamkan di Wisma GPIB, FMS GPIB Ajak Umat Beri Penghormatan Terakhir

STIKES Griya Husada Gelar Dies Natalis ke-27 dan Wisuda Angkatan ke-25

Kategori Artikel

  • Featured
    • Slide
  • PELKES
  • PELEMBAGAAN
  • STIKES
    • YAYASAN
  • INFO VIKARIS
  • DIAKONIA
  • SINODE
    • PSR XXII
    • Pesan-Pesan
    • Agenda
  • Kegiatan
    • Misioner
      • GERMASA
    • DIAKONIA
  • Kegiatan PELKAT
    • PELKAT PA
    • PLEKAT LANSIA
    • PELKAT PT
    • PELKAT GP
    • PELKAT PKB
  • Perspektif
    • Arcus
    • Sosok

Majalah Arcus

Hubungi Kami

Majelis Sinode GPIB
Jl. Merdeka Timur. No.10
Gambir, Kota Jakarta Pusat
Jakarta, Indonesia
P: (021) 384 2895
P: (021) 384 9917
F: (021) 385 9250
E: admin@gpib.or.id

Direktori

  • Yayasan
  • Pendeta
  • Departemen
  • Musyawarah Pelayanan
  • Facebook
  • Email

@2016 - Majelis Sinode GPIB.