JAKARTA – Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPIB Jemaat Siloam Jakarta Barat, Pendeta Nancy Nisahpih Rehatta memimpin Ibadah Paskah, pada Minggu (5/4/2026). Di GPIB Jemaat Siloam Jakarta, Ibadah Paskah diselenggarakan dua kali, yaitu pada pukul 04.30 WIB dan 17.00 WIB. Selain itu, diadakan Lomba Mencari Telur (TK & AK), Makan Mie Goreng (AT & PT), Induk dan Anak Ayam (AT & PT), Menghias Nasi Kuning (PKP/PKB), Ular Naga (Lintas Pelkat), dan Tari Kreasi Nusantara.
Pendeta Nancy mengawali khotbahnya dengan menyampaikan ekspresi jemaat tentang perayaan Paskah. Ia mengatakan, apabila orang Kristen bertemu pada Hari Paskah, pasti yang diucapkan adalah Selamat Paskah.
“Ini adalah kata yang singkat. Sama seperti mengucapkan Selamat Natal. Tetapi sebenarnya, ucapan Selamat Paskah akan jauh lebih dalam maknanya, apabila kita mengucapkan, Yesus Sudah Bangkit dan dijawab Ya Benar Dia Sudah Bangkit,” kata Pendeta Nancy dalam khotbahnya bertema “Fakta Tak Berubah Dalam Irama Berbeda” (Matius 28:1-10)..
Pendeta Nancy mengatakan, mengucapkan Selamat Paskah tidak salah, karena ungkapan itu juga merupakan kesaksian hidup. Sama seperti cerita tentang kebangkitan Yesus, yang adalah fakta yang tidak pernah berubah, tidak tiba-tiba muncul menjadi sebuah kesaksian atau buku.
“Ini fakta sejarah yang tidak pernah berubah, tetapi iramanya berbeda. Apa maksudnya? Makna yang kita dapatkan pada setiap perayaan Paskah atau kebangkitan Yesus Kristus itu berbeda,” jelas dia.

Dalam khotbahnya, Pendeta Nancy juga memberikan contoh tentang makna sebuah penantian panjang, yang dijalani hewan berjenis kelamin betina.
Ia menyatakan bahwa seekor Gajah betina memiliki masa kehamilan sekitar 22 bulan lamanya, yang merupakan salah satu periode terlama di dunia hewan darat; seekor hiu dogfish, hiu berukuran relatif kecil yang hidup di perairan dingin dan sedang di seluruh dunia menjalani masa kehamilan selama 24 bulan; dan salamander, hewan persilangan kadal dan katak yang hidup di Pegunungan Alpen, mengandung selama 38 bulan sebelum melahirkan.
Tidak semua hal baik lahir dalam waktu cepat, Tuhan selalu menggenapai rencana-Nya. Sebab, semakin besar nilai kehidupan, maka semakin panjang prosesnya.
“Tidak bisa dibayangkan kalau manusia harus hamil dan merawat kandungan selama itu. Dan, bagi ibu-ibu yang melahirkan anak, apabila waktunya panjang akan menimbulkan kegelisahan tersendiri. Sebab, menanti adalah hal yang mendebarkan dan terkadang membosankan,” kata Pendeta Nancy.
Lebih lanjut dikatakan, dalam perjalanan iman, ada satu fase yang tidak mudah yaitu menanti. Alkitab mencatat bahwa setelah nabi Maleakhi, umat Tuhan memasuki masa penantian panjang sekitar 400 tahun, sebelum kedatangan Yesus Kristus. Pengharapan digenapi, ketika Yesus Sang Mesias lahir ke dunia untuk membuktikan bahwa penantian tidak pernah sia-sia.
“Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Allah berjanji bahwa Dia akan memberikan Juru Selamat atau Dia akan menyelamatkan manusia. Itu berlangsung ribuan tahun lamanya. Apakah Allah pernah berubah? Sama sekali tidak,” katanya.
Ini menjadi bukti bahwa penantian panjang tidak sia-sia, kubur bukan akhir, dan kebangkitan adalah fakta yang tidak pernah berubah. Yesus hidup, maka manusia memiliki harapan yang hidup. (novy)

