JAKARTA, GPIB – Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) meresmikan Galeri Cagar Budaya Peringkat Nasional bagi Gereja GPIB Immanuel, Minggu (21/12). Bertempat di halaman depan gedung gereja Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon meresmikan galeri Cagar Budaya Peringkat Nasional di depan Ketua Umum Majelis Sinode GPIB Pdt.Nitis Putrasana Harsono, Sekretaris I MS Pdt. Pdt. Emmawati Yulia Rumampuk-Baule dan Bendahara MS Pnt. Steven Glenn Tunasdan, juga Ketua Majelis Jemaat Pdt.Abraham Ruben Persang, sejumlah pejabat Kementerian Budaya, sejumlah pendeta dan jemaat yang hadir siang itu.
Menteri Fadli Zon mengatakan bahwa Gereja Immanuel sebagai living museum yang menyimpan jejak sejarah bangsa Indonesia.
“Gereja Immanuel ini sudah berusia 186 tahun. Dengan ada atau tidaknya galeri, sebenarnya gereja ini sudah dinobatkan sebagai living museum.”
Ketua Umum MS GPIB Pdt.Nistis juga menyambut baik gereja Immanuel dijadikan Galeri Cagar Budaya Peringkat Nasional oleh pemerintah.
“Jadi dengan digelarnya acara Galeri Cagar Budaya, gereja ini khususnya yang dimulai dari Jemaat Immanuel ini menunjukkan, pertama perhatian pemerintah terhadap perjalanan gereja di tanah air. Dan kedua, ini persembahan gereja juga terhadap pemerintah, bangsa dan negara. Apa yang disuguhkan di sini itu juga memperlihatkan sejarah kekristenan yang menjadi kekayaan budaya Indonesia, menjadi kekayaan bangsa ini. Bahwa kekristenan juga turut serta dalam membangun perjalanan bangsa ini. Jadi itu dua hal yang sangat berarti dengan digelarnya acara ini memperlihatkan juga apa yang akan disuguhkan, dipamerkan dalam galeri ini. Ini benda-benda yang punya nilai sejarah yang luar biasa,” katanya Ketum Pdt.Nitis.kepada .

Ketum MS GPIB menambahkan, agar jemaat-jemaat GPIB yang ada di seluruh Indonesia yang memiliki bangunan peninggalan dari zaman kolonial untuk tergugah merawatnya.
“Ini sekaligus mengajak seluruh warga jemaat dengan adanya acara galeri budaya ini, menggugah seluruh warga GPIB di manapun yang gedung gerejanya menjadi cagar budaya. Bukan hanya bangunan, tapi mungkin di dalamnya juga ada benda-benda sejarah, artefak, mungkin benjana baptis, mungkin kitab suci yang bahasa Melayu atau kitab suci bahasa Belanda yang pernah dipakai dulu, alat musiknya, dan berbagai yang, atau mimbar, kursi-kursi dan lainnya untuk dirawat. Karena dengan demikian kita menghargai karya Allah di sini. Karya Kristus perjalanan gereja di Indonesia.”
Sementara itu Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Jakarta Pdt. Abraham Ruben Persang mengaku gembira dan pada awalnya melakukan pendekatan ke Menteri Kebudayaan.
“Jadi Gereja Immanuel ini sudah dari tahun 88 dan 93 yang statusnya sudah jadi Cagar Budaya Nasional. Bersyukur bahwa kita dalam koordinasi dan disambut baik oleh Menteri Kebudayaan. Benda-benda sejarah di Immanuel itu kemudian diresearch dan kemudian didukung untuk pembuatan galeri semacam mini museum gitu. Dan ini semakin mengkonfirmasi tentang sejarah kekristenan di Indonesia. Jadi hari ini ketika ada peresmian, akan menjadi batu pijakan khususnya GPIB yang memang mewarisi banyak sejarah dari gereja-gereja Belanda. Nah tentu ketika kita menggali ini kemudian punya mini museum ya kita juga memberikan fondasi buat gereja dan generasi muda kita gitu bahwa Ada banyak karya Allah melalui banyak orang di Indonesia dan itu menjadi berkat buat Indonesia.”

Pembukaan Galeri Cagar Budaya Peringkat Nasional Gereja Immanuel Jakarta dinilai menjadi momentum penting bagi upaya pelestarian warisan budaya. Melalui kegiatan ini, diharapkan rumah ibadah seperti masjid, gereja, dan vihara mendapat perhatian pelindungan pencatatan cagar budaya nasional.
Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kemnbud Restu Gunawan menambahkan, bahwa fungsi utama galeri Gereja Immanuel adalah untuk mempublikasikan artefak yang dimiliki oleh gereja tersebut.
“Galerinya berada di lantai dua, galeri ini dirancang untuk mempublikasikan artefak yang dimiliki oleh Gereja Immanuel. Mudah-mudahan galeri ini bisa dinikmati oleh masyarakat luas,” katanya Restu.
Ia menambahkan, perancangan sebagai galeri nasional dilakukan sejak bulan Agustus lalu yang melibatkan para kurator, arkeolog, sejarawan, dan konservator. Dan proses pengerjaan berjalan baik mulai tahapan pengumpulan data, identifikasi dan dokumentasi koleksi yang ada.(lip)

