“Kabut Asap Menyulitkan Kami”

GPIB, Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menimbulkan kabut asap terjadi di sejumlah wilayah di Kalimantan berdampak pada kehidupan jemaat GPIB. Salah satunya di Desa Serengkah, Bajem Anugerah Serengkah, Pos Pelkes Talitakum dan Pos Pelkes Soli Deo PT. LAP di Kecamatan Tumbang Titi, Kalimantan Barat yang terdampak kabut asap sejak beberapa hari belakangan.

Menurut Pdt. Lea Christty Barahama saat dihubungi menjelaskan rata-rata wilayah di dua pospel tersebut terdampak. “Kabut asap ini meyulitkan kami. Penyebabnya karena kebakaran lahan juga ada warga yang membuka ladang dengan membakarnya, tapi juga karena musim kemarau yang sudah dua bulan ini berjalan. Sehingga cuacanya cukup panas dan lahan kering bahkan air sungai juga surut,” kata Pdt.Lea, Jumat (21/8).
 
Ia juga menambahkan sejauh ini beberapa jemaat yang terdampak mengalami batuk-batuk yang cukup lama.
“Ya mereka bilang ke saya, Bupen, saya sudah batuk ini cukup lama dan nda sembuh-sembuh,” tambahnya.

Menurut Pdt.Lea pesan untuk menjaga lingkungan terus menerus diingatkan ke jemaat dalam ibadah-ibadah supaya mereka tidak membakar lahan untuk membuka ladang.

“Tapi masih ada saja warga atau jemaat yang bakar lahan. Tapi juga ada yang bakar lahan jauh dari pemukiman jemaat, tapi dalam kondisi seperti ini sulit juga dicegah. Tapi kalau mereka tidak buka ladang, mereka tahun depan mau makan apa? Jadi mau tidak mau harus lakukan itu,” ujarnya.

Sementara itu di wilayah lain seperti yang disampaikan Pdt. Jani Victor Karatem Ketua Majelis Jemaat GPIB Jemaat Syaloom Sungai Kajang bahwa di daerahnya di Desa Madak, Kecamatan Subah, Kabupaten Sambas kabut asap mulai muncul sekitar tanggal 8 Agustus lalu.

“Ya tentu saja berdampak bagi warga desa dan jemaat yang tinggal di sini. Mereka kalau mau tanam padi atau buka kebun, suka bakar-bakar dan itu terbiasa buat mereka. Tahun ini karena kemarau yang sudah berjalan cukup lama maka dampak kabut asapnya juga terjadi. Imbuan yang kami lakukan agar tidak bakar lahan atau jika itu terjadi mereka lakukan jauh dari rumah warga,” kata Pdt.Jani.

Pdt.Jani menambahkan, selama 6 tahun pelayanan di Kalimantan Barat yang sebelumnya menjadi Pendeta Jemaat di GPIB Immanuel Singkawang di Pos Pelkes Sion Elok Asam dan Pos Pelkes Anugerah Sanggau Ledo, masyarakat membuka lahan dengan membakar untuk ditanami padi setiap bulan Agustus.

“Jadi kondisinya di bulan Agustus ini kabut asap di mana-mana, ditambah lagi musim kemarau yang cukup pajang,” ujarnya.

Penanganan Karhutla

Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan dengan tiba-tiba, selain imbauan oleh pemuka msyarakat, keterlibatan pemuka agama dan aparat juga serta pemerintah dan pihak swasta diperlukan. Karena penanganan karhutla membutuhkan dana yang cukup besar mengingat wilayah lahan yang juga cukup luas.

Soal penanganan karhutla dengan pihak swasta yakni pemegang konsesi HTI dari hasil kajian studi yang ditulis tahun 2022 oleh Willem Pattinasarany untuk lembaga Indonesian Working Group on Forest Finance (IWGFF) yang juga Ketua II Departemen Germasa GPIB dengan judul studi Opsi Peran Serta Dana Konsensi tahun 2022, menyebutkan bahwa salah satu penanganan karhutla adalah bantuan dana dari pihak perusahaan yang disetor ke PNBP. Sebagian dana itu dapat dibagi peruntukannya guna penanganan kebakaran hutan dan lahan.

“Nah, dana itulah dapat juga diperuntukan guna penanganan kebakaran hutan karena dana terebut adalah dana yang dibayarkan juga oleh perusahaan-perusahaan perkebunan termasuk perusahaan perkebunan kelapa sawit yang sering terjadi kebakaran di areal konsesinya. Itulah yang dana membantu pemadaman dari karhutla itu,” kata Willem.

Ketua II Majelis Sinode GPIB ke XXII Pdt.Semuel Karinda yang juga membawahi Lingkungan Hidup meminta agar para pendeta yang mendampingi warga untuk terus membantu jemaatnya yang terdampak. Selain itu menurut Pdt.Karinda, persoalan karhutla ini perlu terus dikaji dan diperhatikan dengan baik, karena menyangkut alam, manusia dan juga perusahaan serta pemerintah.

“Pembakaran ladang bagi masyarakat di Kalimantan adalah budaya yang sudah ada turun menurun dan mereka tidak besar lahannya. Sementara perusahaan cukup besar lahannya dan saat mereka ingin membuka lahan ratusan hektar, cara yang paling gampang dan murah adalah dengan membakar lalu ditambah lagi musim kemarau sehingga asap yang ditimbulkan menjad lebih masif. Untuk itulah diperlukan aturan yang jelas untuk penanganannya sambil terus menerus mengedukasi masyarakat sehingga dampaknya menjadi bisa direduksi,” kata Pdt.Semuel.

Hal itu juga didukung Ketua I MS GPIB XXII Pdt.Henry Tamaela yang meminta para pendeta di pos pelkes untuk tetap semangat dan sigap dalam situasi kabut asap akibat karhutla untuk membantu warga.

“Para Pendeta yang ada di Kalimantan Selatan dan Barat dan wilayah lainnya memang belum sepenuhanya bergerak karena masih menunggu tindakan dari pemerintah lokal namun dampaknya sudah terasa bagi warga. Jadi kita imbau untuk terus siap dan membantu jemaat, misalkan bantuan masker dan lainnya. Dan saya juga mendorong di tingkat mupel untuk segera membentuk Crisis Center agar hal-hal seperti ini juga dapat menjadi perhatian untuk ditindaklanjuti. Namun semuanya itu, kami Majelis Sinode siap membantu dan berkoordinasi untuk hal ini,”ujar Pdt.Henry.

Data yang dikutip Antara menyebutkan, sejumah wilayah di Kalimantan terdampak karhutla hingga Kamis (20/8), antara lain di Kalimantan Tengah,  di mana sebanyak 1.795 titik panas terdeteksi termasuk di Kota Palangkaraya.
Lalu,  kawasan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, juga terdampak dan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, di Banjarmasin dan Penajam Kalimantan Timur kondisinya juga serupa. Pemerintah setempat dan pusat tengah memadamkan sap dari karhutla tersebut. (lip)

Tinggalkan Komentar / Pesan Anda disini